Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Refleksi Diri dalam Mudik Lebaran

mudik
  • 28 April 2022
  • 0 Komentar

Refleksi Diri dalam Mudik Lebaran

Mudik menjadi semacam obat bagi kekeringan jiwa. Kembali ke kampung halaman, mengingat sejarah hidup, bisa menjadi sumber kerinduan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Jakarta (28/04/2022), Mudik dapat diartikan sebagai pulang kampung, dalam bahasa Jawa ada yang menyebut mudik sebagai singkatan dari mulih disik  (pulang dulu) atau dari kata udik yang dalam bahasa Betawi adalah kampung. Banyak tafsiran mengenai makna kata mudik. Ada yang menyebut bahwa kata mudik berasal dari bahasa Arab al-aud  yang bermakna kembali. Sementara menurut Kbbi.kemdikbud.go.id, mudik memiliki arti pulang ke kampung halaman.

Dikutip dari laman ugm.ac.id, antropolog Universitas Gadjah Mada, Heddy Shri Ahimsa-Putra mudik berasal dari kata udik yang merupakan bahasa Melayu berarti hulu atau ujung. Udik biasa digunakan masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sungai saat masa lampau. Saat itu mereka sering bepergian ke hilir sungai menggunakan perahu atau biduk. Setelah pekerjaannya selesai, masyarakat kembali ke rumahnya di hulu sungai pada sore harinya.

"Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya,"terang Heddy.

Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno mengatakan, kebiasaan mudik dimulai sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam. "Awalnya, mudik tidak diketahui kapan. Tetapi ada yang menyebutkan sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam," kata Silverio seperti dikutip Kompas.com.

Alkisah, dahulu wilayah kekuasaan Majapahit begitu luas hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Kerajaan Majapahit pun menempatkan para pejabatnya di sana. Sampai pada suatu ketika, pejabat tersebut akan kembali ke pusat kerajaan untuk menghadapi raja dan mengunjungi kampung halaman. Kebiasaan ini lantas dikaitkan dengan lahirnya fenomena mudik.

"Selain berawal dari Majapahit, mudik juga dilakukan oleh pejabat dari Mataram Islam yang berjaga di daerah kekuasaan. Terutama mereka balik menghadap Raja pada Idul Fitri, “kata Silverio.

Mudik juga dapat diartikan sebagai suatu simbol akan munculnya kesadaran rohani karena kehampaan spiritualitas akibat kesibukan aktivitas di kota. Mudik menjadi semacam obat bagi kekeringan tersebut. Kembali kepada desa kembali kepada alam, akan menyuburkan kegersangan tersebut.

Hal itulah  yang disebut budayawan Kuntowijoyo  sebagai kesadaran balik. Mudik ke kampung kelahiran merupakan upaya untuk membebaskan diri dari kota. Dalam kata mudik atau udik terdapat kesamaan arti bahwa perilaku asli manusia seharusnya mencerminkan keaslian diri seperti kolektif, jujur, dan peduli terhadap sesama sebagai ciri khas warga tempat asal. Dengan demikian, tak salah kalau sehari dua hari meluangkan waktu di kampung agar hidup bisa direfleksi.

Seiring perubahan zaman, mudik juga mengalami pergeseran nilai. Ia tidak hanya sebagai sarana mengobati kegersangan jiwa dan pikir tapi juga sebagai sarana rekreasi, hiburan, menghamburkan uang, dan menunjukkan eksitensi sebagai manusia kota dengan perilaku hedonis dan konsumtif.

Budayawan Semarang Prie GS, dikutip dari liputan6.com menyebutkan hal yang sama. Menurut dia, mudik Lebaran bukanlah pulang kampung. Mudik itu sejatinya adalah sebuah pertemuan dengan sejarahnya. "Pengalaman masa kecil, nilai-nilai kearifan yang ia terima saat masih kecil dan berproses menjadi dewasa, semua akan dirindui dan akhirnya mendorong seseorang untuk mudik," kata Prie.

Campur tangan kapital dan industri akhirnya menjadikan tradisi mudik menjadi ladang baru mencari duit. Secara satire Prie mengungkapkan bahwa saat seseorang mendengar kata mudik, yang terbayang bukan lagi kampung halaman dengan segala romantikanya.

"Yang terbayang adalah kemacetan," kata Prie.

Sobat Revmen, mudik tahun ini terasa sangat spesial mengingat 2 tahun belakangan kita terkurung tak bisa mudik akibat pandemi Covid-19. Semoga setelah mudik tahun ini, pandemi berangsur luruh menjadi endemi. Kehidupan kita berangsur pulih, kembali tegak menghadapi tantangan zaman. Hanya mereka yang bisa merefleksikan hiduplah yang bakal menyemai arti mudik tahun ini. 


*PS

Sumber :

Liputan6.com diakses 28 April 2022

Kompas.com diakses 28 April 2022

Ugm.ac.id diakses 28 April 2022

Kbbi.kemdikbud.go.id diakses 27 April 2022

 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: