Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Rawat Marsialapari, Rawat Kebersamaan

gotong royong, petani, sumatra utara, kerjasama, kebersamaan
  • 21 Januari 2022
  • 0 Komentar

Rawat Marsialapari, Rawat Kebersamaan

Tradisi marsiadapari membentuk nilai sosial dalam masyarakat. Karena bekerja bersama-sama, melahirkan semangat bekerja dan menjaga rasa kekeluargaan.

Jakarta (20/1/2022) Masyarakat di Sumatra Utara seperti Mandailing, Karo,  dan Batak  adalah salah satu masyarakat yang kukuh mempertahankan budaya gotong royong.  Hal ini dapat dilihat pada tradisi pengelolaan lingkungan alam, salah satunya tradisi Marsialapari. Ada yang menyebut siadapari, marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa, apapun sebutannya, prinsipnya adalah gotong royong.

Tradisi ini merupakan salah satu tradisi lama,  khususnya dalam bidang pertanian. Biasanya dilaksanakan pada saat proses manajak (membabat sawah), marsuaneme (menanam padi) dan manyabi (memanen padi). Kegiatan ini bisa selesai hanya dalam satu hari karena pekerjaan yang banyak dilakukan beberapa orang sehingga lebih cepat selesai. 

Dikutip dari Merdeka.com, marsialapari berasal dari dua suku kata yaitu alap (panggil) dan ari (hari), ditambahkan kata awalan mar yang berarti saling dan si sebagai kata sambung. Keempat suku kata tersebut jika digabungkan menjadi kata marsialapari yang dapat diartikan sebagai saling menjemput hari. Jumlah harinya pun juga dihitung berapa hari, misalnya kita pergi ke sawah  atau kebun si A selama 7 hari, maka si A juga akan datang ke sawah kita dengan jumlah hari yang sama.

Meskipun marsialapari merupakan kerja sukarela, tetap ada pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki mendapat bagian pekerjaan yang tergolong lebih berat dari perempuan yakni yang berkaitan dengan perbaikan atau penyiapan saluran air, tanggul, atau jalan. Sedangkan perempuan cenderung mengerjakan bagian-bagian yang berkaitan dengan penanaman dan pemanenan. Puncak kegiatan marsialapari adalah manyabi yang diibaratkan sebuah pesta yang dilakukan di sawah.

Yang kusuka ketika marsialapari menu makan siang atau makanan pendamping pasti lebih spesial. Minimal ikan akan tersaji saat makan siang. Jika marsialapari saat panen, rendang ayam akan menjadi menu utama. Untuk menu makanan selingan biasanya kolak pisang. Menu spesial ini untuk memuliakan tamu yang hari itu ikut serta menggarap sawah kami, “tutur Bung Adi Siregar, salah satu kalangan muda Sumatra Utara, seperti dikutip Kompasiana.com.

Nilai Sosial

Pelaksanaan marsiadapari ini pun tidak hanya saat bertani (mangula) di ladang (hauma), tetapi juga pada semua bidang kegiatan masyarakat. Seperti mendirikan rumah (pajongjong jabu), kemalangan, pesta dan lain sebagainya Luar biasanya lagi, marsiadapari ini menebus kelas-kelas ekonomi. Miskin atau kaya (na mora manang na pogos), kuat atau lemah (na gumugo manang na gale) semua saling memberi hati untuk dapat meringankan beban anggota kumpulannya. “Sisolisoli do uhum, siadapari do gogo,” begitulah hukum dasar marsiadapari. Artinya, kau beri maka kau akan diberi. Hal ini berlaku untuk sikap, tenaga, dan juga materi.

Ronsen Pasaribu, penulis dari Komunitas Budaya Tapanuli Selatan, seperti dikutip Batakindonesia.com menyebut tradisi marsiadapari membentuk nilai sosial dalam masyarakat. Karena bekerja bersama-sama, melahirkan semangat bekerja karena dikerjakan bergerombolan, memicu semangat bekerja, sehingga pekerjaan tidak terasa bisa lebih cepat selesai dan hasilnya dapat dikontrol dengan baik.

Menurut Ronsen, tradisi ini membentuk kedisiplinan, membangun motivasi, dan etos kerja. Ambil contoh, tujuh hari bekerja di ladang. Ada tujuh orang,  ketujuh orang itu dalam satu hari bisa menyelesaikan pekerjaan di sawah dibantu keluarga pemilik. Dengan cara ini disiplin terjaga. Semuanya bekerja tanpa ada yang bermalas-malasan. Sambil mencangkul, ada kalanya satu dua orang pintar membuat cerita mengundang tawa candaan, sekaligus mengkritik seseorang yang diduga agak lamban bekerja. Akhirnya kecepatan bekerja merata bagi semua anggota. Itulah kelebihan marsialapari. Kecepatan dan produktivitas bekerja menjadi optimal

Dikutip dari Mandailingonline.com, tradisi ini membentuk nilai-nilai budaya masyarakat. Hal ini dikarenakan adanya esensi 'kasih sayang' (holong) dan 'persatuan' (domu) yang hidup dan tertanam dalam budaya dan diri masyarakat.

Sejatinya, menurut Ronsen, marsialapari adalah pengejawantahan unsur kekeluargaan bagi petani. Anggotanya bisa ibu-ibu, bapak-bapak, atau campuran. “Semoga marsialapari masih relevan untuk kita teruskan di masa depan ini. Ini sekalian sebagai sarana untuk sosialisasi teknologi terbarukan, secara tepat guna dalam proses bisnis sebuah pertanian tanaman tertentu, “tutur Ronsen mengambil contoh tantangan marsialapari di masa mendatang.

Dicontohkan, sebuah traktor bisa mengerjakan dua hektar tanah, sedangkan jika dikerjakan secara langsung oleh tenaga manusia bisa sebulan lebih. Mekanisasi traktor tangan misalnya, pada awalnya mendapat pertentangan dari para petani. Selain dianggap saingan, benda tersebut belum akrab di telinga petani seakan membuat petani kehilangan pekerjaan jika mesin traktor digunakan. Nah, dari kenyataan-kenyataan semacam itu, bisa jadi kelak tradisi gotong royong marsialapari bisa terkikis habis kalau tidak dirawat sejak kini.

Bagaimana sahabat revmen,apakah kamu masih menemukan tradisi gotong royong di sekitar rumahmu? Atau jangan-jangan kamu malah menjadi salah satu aktor yang mengikis habis tradisi ini? #Ayoberubah #Gotongroyong #Kebersamaan #Tradisi Reporter : PS

Sumber : 

1.    kebudayaan.kemdikbud.go.id diakses 20 Januari 2022

2.    Batakindonesia.com diakses 20 Januari 2022

3.    Mandailingonline.com diakses 20 Januari 2022

4.     Merdeka.com diakses 20 Januari 2022

 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: