Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Pupus Senioritas dengan Pupuk Solidaritas!

Orientasi siswa di tahun ajaran baru
  • 07 Desember 2021
  • 0 Komentar

Pupus Senioritas dengan Pupuk Solidaritas!

Menghapus praktik senioritas dan tradisi perpeloncoan yang dipenuhi kekerasan ialah dengan menyalakan semangat solidaritas dan persatuan, guna terciptanya budaya belajar dan lingkungan sekolah yang menyenangkan serta bebas dari kekerasan.

 

Jakarta (7/12/2021) Sobat Revmen, ketika awal memasuki dunia kampus, para mahasiswa baru biasanya akan menjalani masa orientasi. Pun begitu halnya ketika akan bergabung dengan organisasi ataupun unit kegiatan mahasiswa (UKM) dengan berbagai ragam penamaan kegiatannya. Namun tak jarang kegiatan dengan maksud pengenalan tersebut kerap diwarnai dengan tindak kekerasan antara senior terhadap junior. Bahkan, tak jarang kegiatan yang kerap ditujukan dengan dalih pembinaan untuk melatih mental dan kedisiplinan mahasiswa baru tersebut menuai korban jiwa ___ seperti kasus yang masih saja terjadi beberapa waktu belakangan ini. Yuk sobat Revmen, kita telisik lebih jauh tentang fenomena yang juga kerap dijumpai ketika memasuki awal tahun ajaran baru di sekolah berikut ini!

 

Bangku perguruan tinggi Indonesia kembali berduka atas jatuhnya korban jiwa seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri di Surakarta ketika menjalani pendidikan dasar (Diksar) Resimen Mahasiswa (Menwa) pada akhir Oktober lalu. Sebulan sebelumnya, kasus kekerasan senior terhadap junior juga menelan korban jiwa seorang taruna politeknik pelayaran di Semarang. Tak hanya di tingkat pendidikan tinggi, kekerasan antara senior terhadap junior pun terjadi di tingkat sekolah menengah atas (SMA). Seperti yang terjadi pada Juli 2019 lalu, seorang siswa meninggal usai mengikuti masa orientasi siswa (MOS) di sebuah SMA di Palembang, Sumatera Selatan. Kasus-kasus tersebut menggarisbawahi bahwa unsur senioritas dan junioritas melatari budaya kekerasan dalam berbagai bentuk kegiatan di sekolah ataupun kampus.

 

Menurut KBBI, kekerasan dapat diartikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Namun kekerasan tak melulu menyangkut apa yang menyebabkan cedera secara fisik, melainkan dapat pula berbentuk kekerasan verbal. Misalnya, memarahi, memaki, berteriak, menyalahkan, menghina, mengancam, mengejek, merendahkan, dan mengintimidasi. Menurut profesor di bidang psikiatri di McLean Hospital, Martin Teicher, sebagaimana dilansir ksm.ui.ac.id, kekerasan verbal memiliki efek negatif yang sama bahayanya dengan kekerasan fisik. Bahkan dapat memberikan efek yang lebih lama jika dilakukan secara terus menerus sehingga menimbulkan post-traumatic stress disorder yang justru mengakibatkan gangguan mental pada seseorang. Maka bila kekerasan fisik sekaligus kekerasan verbal dikombinasikan dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru tentu dampaknya akan sangat berbahaya.

 

Kekerasan atas nama senior terhadap junior dalam berbagai bentuk kegiatannya juga menggambarkan langgengnya kultur hierarki, yang dimaknai orang yang berada lebih 'tinggi' dalam hal ini senior, berhak melakukan apapun terhadap juniornya yang berada di bawahnya. Tak hanya akan mengganggu proses pembelajaran, praktik senioritas dan tradisi perpeloncoan bila terus dibiarkan dapat menciptakan siklus lingkar kekerasan yang terus berulang hingga melanggengkan kebencian antar generasi. Di mana korban kekerasan pada giliran berikutnya menjadi pelaku kekerasan sebagai bentuk balas dendam yang dilampiaskan pada usia atau angkatan yang lebih rendah darinya, sehingga menjadi suatu warisan tradisi turun temurun dari generasi sebelumnya.

 

Sobat Revmen, praktik senioritas yang dipenuhi kekerasan dalam berbagai bentuk kegiatan dan dalih apapun tak dapat dibenarkan. Oleh karenanya dalam rangka memperingati Hari Pelajar Internasional yang jatuh setiap tanggal 17 November setiap tahunnya, sudah sepatutnya kita memutus rantai praktik senioritas dan tradisi perpeloncoan yang sudah ketinggalan zaman serta bertentangan dengan nilai-nilai humanisme. Sebaliknya sebagai pelajar masa kini, kita pupuk terus semangat solidaritas dan persatuan guna menciptakan budaya belajar dan lingkungan sekolah yang menyenangkan serta bebas dari kekerasan. Sebagaimana semboyan bangsa Bhinneka Tunggal Ika, yuk sobat Revmen kita wujudkan persatuan dalam lingkungan pendidikan Indonesia dengan katakan tidak pada kekerasan! #AyoBerubah #RevolusiMental #GerakanIndonesiaBersatu #HariToleransiInternasional

 

 

Sumber Foto:

https://tirto.id/hantu-perpeloncoan-di-dunia-pendidikan-bsRX

 

Referensi:

Detik.com. (2021). Diakses tanggal 15 November 2021.

Tirto.id. (2021). Diakses tanggal 15 November 2021.

Ksm.ui.ac.id. (2021). Diakses tanggal 15 November 2021.

Kumparan.com. (2021). Diakses tanggal 15 November 2021.

Theconversation.com. (2021). Diakses tanggal 15 November 2021.  

Persintelligent.com. (2021). Diakses tanggal 15 November 2021.

Majalahketik.com. (2021). Diakses tanggal 15 November 2021.

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: