Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

PSA Bocah Pintar: Cegah Kekerasan, Bullying, Hingga Radikalisme Lewat Kartu Pintar Tamaito

Workshop permainan edukatif anak Kartu Pintar Tamaito (Cinta Damai dan Toleran) oleh Pusat Studi Anak Bocah Pintar dan Kemenko PMK
  • 25 November 2021
  • 0 Komentar

PSA Bocah Pintar: Cegah Kekerasan, Bullying, Hingga Radikalisme Lewat Kartu Pintar Tamaito

Pusat Studi Anak Bocah Pintar mengembangkan metode permainan edukatif Kartu Pintar Tamaito (Cinta Damai dan Toleran), sebagai bentuk pendidikan karakter, penguatan toleransi dan budi pekerti bagi anak usia dini.

 

Jakarta (25/11/2021) Fase periode emas (golden age) perkembangan seorang anak terjadi ketika anak usia dini. Fase tersebut memegang peranan penting bagi pembentukan karakter, kepribadian, hingga kemampuan kognitif anak ketika kelak dewasa. Untuk itu dalam rangka menyiapkan generasi yang unggul dan berkarakter, Pusat Studi Anak (PSA) Bocah Pintar mengembangkan suatu metode permainan edukatif anak yang disebut Kartu Pintar Tamaito (Cinta Damai dan Toleran). Hal itu lebih lanjut disosialisasikan dalam workshop virtual bertema “Gotong Royong Guru dan Orang Tua Murid dalam Pendidikan Karakter Anak Usia Dini untuk Mencegah Kekerasan Fisik, Bullying, dan Radikalisme di Masa Pandemi Covid-19 dengan Kartu Pintar Tamaito (Cinta Damai dan Toleran)” pada 1-2 November 2021, yang merupakan hasil kerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). 

 

Ketua Yayasan PSA Bocah Pintar, Rahadi, mengungkapkan bahwa terselenggaranya kegiatan ini didorong oleh bentuk keprihatinan atas fenomena banyaknya anak-anak yang mengalami bullying, kekerasan fisik, maupun sikap-sikap tidak toleran lainnya yang dilatarbelakangi oleh perbedaan. Padahal menurutnya perbedaan adalah suatu hal yang mutlak hadir dalam kehidupan, sehingga tidak boleh menjadi penyebab munculnya ketidakadilan. Untuk itulah, lanjutnya, PSA Bocah Pintar mengembangkan permainan edukatif anak Kartu Pintar Tamaito (Cinta Damai dan Toleran) yang menyasar anak-anak usia dini sebagai salah satu upaya strategi pencegahan.

 

“Oleh karena itu Bocah Pintar melalui guru-gurunya yang kreatif itu mengembangkan model permainan yang disebut Tamaito, cinta damai dan toleran. Harapan kami selaku pengelola Bocah Pintar seminar ini dapat bermanfaat,” ujar Rahadi, Senin (1/11).

 

Sementara itu, Penyelenggara PAUD Bocah Pintar, Nining Sholikhah, mengungkapkan pendidikan karakter bagi anak usia dini penting karena tingginya angka kekerasan pada anak-anak yang secara umum berada di bawah enam tahun tersebut. Tak hanya menjadi korban, Nining menyebut anak usia dini pun dapat pula menjadi pelaku kekerasan. Hal tersebut menurutnya diperparah oleh kondisi krisis identitas bangsa yang ditandai dengan melemahnya budaya gotong royong, yang merupakan aset sosial budaya Indonesia. Sehingga, sambungnya, diperlukan Revolusi Mental dan pembinaan ideologi Pancasila untuk memperkukuh ketahanan budaya bangsa dan membentuk mentalitas yang modern dan berkarakter.

 

Melalui permainan edukatif anak Kartu Pintar Tamaito, Nining mengatakan dapat menjadi sarana pengembangan pendidikan karakter untuk mencegah aksi kekerasan, bullying dan radikalisme, serta pengenalan semangat gotong royong pada anak usia dini. Setali tiga uang, menurutnya Kartu Pintar Tamaito bertujuan mendorong terciptanya kehidupan yang toleran sekaligus lingkungan yang aman dan nyaman pada pendidikan anak usia dini. Nining menjelaskan Kartu Pintar Tamaito yang menyerupai papan permainan ular tangga dan dimainkan secara berkelompok itu dapat menjadi sarana belajar yang menyenangkan untuk anak usia dini. Di mana dengan bermain, anak sekaligus belajar untuk tidak hanya mendengarkan materi ajar, namun juga secara langsung mempraktekkan sehingga nilai maupun karakter baik akan mudah diinternalisasi dan mempengaruhi sikap serta perilakunya.

 

“Harapannya ketika sejak dini kita mengenalkan hal-hal baik ini juga keterampilan dalam bersikap yang baik nantinya kita akan memperoleh generasi yang berideologi Pancasila dan berkarakter,” terang Nining. 

 

Koordinator PeaceGeneration Chapter Solo, Ninin Karlina, yang turut menjadi narasumber menjelaskan bahwa bullying terjadi karena ketidakmampuan individu memanajemen perbedaan. Mulai dari perbedaan suku, budaya, jenis kelamin, status ekonomi, kelompok, hingga keyakinan. Bullying pun, sambungnya, tak hanya mencakup kekerasan fisik, namun juga dapat berbentuk verbal hingga cyberbullying. Untuk itu, Ninin menyebut menyalakan semangat toleransi harus ditanamkan sejak dini karena masa di mana anak-anak masih mencontoh, meniru, dan meneladani ___ sehingga ketika dewasa anak sudah terbiasa dan menghargai perbedaan.

 

“Saya bersyukur sekali ini ada yang menginisiasi pelatihan tentang bullying bahkan ada kartunya untuk permainan. Saya yakin bullying bisa dihilangkan dan salah satu ikhtiarnya adalah melakukan pelatihan-pelatihan seperti ini. Jadi memang kita menjadi pegiat untuk mengurangi bullying, dan kita sebagai pegiat harus peduli terhadap penyintas,” pungkas Ninin.

 

Adapun Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Jaten, Karanganyar, Suyanto, dalam sambutannya mengatakan diperlukan gotong royong antara guru dan orang tua murid dalam pendidikan karakter anak usia dini untuk mencegah kekerasan fisik, bullying, dan radikalisme di masa pandemi Covid-19. Di mana guru sebagai tenaga pendidik berperan penting untuk mencegah terjadinya perundungan pada anak usia dini di bangku PAUD dengan aktif mengawasi dan mendampingi ketika bermain maupun belajar. Sementara orang tua selaku pendidik anak di rumah juga berperan untuk terus mendampingi anak dari hal-hal yang berkontribusi pada perilaku perundungan, misalnya mengawasi penggunaan gawai dan tontonan televisi anak.

 

“Melalui inovasi alat permainan yaitu dengan Kartu Pintar Tamaito (Cinta Damai dan Toleran), jadi tema itu sangat strategis betul-betul bunda (guru) PAUD yang mengikuti seminar bisa mengambil ilmunya dan bisa mengaplikasikan di satuan pendidikan masing-masing,” ujar Suyanto.

 

Kartu Pintar Tamaito (Cinta Damai dan Toleran) yang dikembangkan merupakan permainan edukatif anak yang menyerupai ular tangga dan monopoli dengan modifikasi PSA Bocah Pintar. Di dalamnya dilengkapi dengan 14 kartu yang memuat ajaran tentang pencegahan kekerasan dan bullying serta ajakan toleransi, di mana guru atau orang tua bertindak untuk membacakan perintah dan edukasinya. Inovasi serta workshop permainan edukatif anak Kartu Pintar Tamaito ini sejalan dengan Kegiatan Prioritas 1 (KP.1) Revolusi Mental dalam Sistem Pendidikan. Adapun workshop virtual yang berlangsung selama dua hari dari 1-2 November ini merupakan gelombang pertama dari total dua gelombang, yang diikuti oleh 50 guru PAUD dan 50 orang tua anak usia dini dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: