Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

PLAGIARISME & HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

Simbol copy-paste pada keyboard komputer
  • 28 Juli 2021
  • 0 Komentar

PLAGIARISME & HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

Bagi mahasiswa, alasan utama melakukan plagiarisme biasanya karena ada tekanan yang tinggi untuk mendapatkan atau mempertahankan IPK yang tinggi, memenuhi tuntutan orang tua, waktu yang terlalu pendek untuk menyelesaikan karya tulis, rasa rendah diri, kurang membaca, malas dan seringkali karena putus asa.

 

Jakarta (19/07/2021) Istilah plagiarisme merupakan istilah yang sudah sangat tua. Para pakar sepakat bahwa istilah ini sudah digunakan sejak abad ke-1. Menurut Amelia Kennedy, pada awalnya istilah plagiarisme digunakan oleh seorang penyair Romawi bernama Martial. Martial menggunakan istilah plagiarisme sebagai bentuk protes karena ada penyair lain yang menjiplak kata-kata dalam syairnya. Martial menyebutnya dengan istilah stealing (pencurian).

 

Masih menurut Amelia Kennedy, pada tahun 1601, istilah stealing kemudian bergeser ketika Ben Jonson menggunakan istilah plagiary sebagai kata ganti untuk plagiarisme. Pada periode selanjutnya, barulah istilah plagiarisme mulai digunakan, tepatnya pada abad pertengahan di Eropa. Sejak itu juga para pencipta (penulis, seniman dan akademisi) dalam berbagai bidang mulai memperhatikan tentang pentingnya mempertahankan hak cipta dalam karya-karya mereka. Namun baru pada abad ke-19 plagiarisme menjadi sebuah aktivitas yang dianggap sebagai pelanggaran etika dan hukum.

 

Lalu apa definisi dari plagiarisme? Plagiarisme berasal dari kata plagiat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan (pendapat, dsb) milik orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat, dsb) sendiri. Misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri. Melihat definisi dari KBBI ini maka tidak terlalu salah jika plagiat pada awalnya disebut dengan “pencurian.” Namun yang dicuri bukan sesuatu berbentuk barang, melainkan karya dan ciptaan milik orang lain. Kekayaan intelektualnya. Nah, pelaku plagiat disebut dengan “plagiator.” Sementara sifat pelaku untuk melakukan plagiat disebut dengan plagiarisme.

 

Jadi, jika sobat revmen mengutip sebuah kalimat, pemikiran atau keseluruhan karya orang lain tanpa meminta izin atau tanpa membubuhkan sumber, maka tindakan Sobat Revmen disebut plagiat, sementara Sobat Revmen akan disebut sebagai plagiator. Jangan lupa ya, sebuah kata yang diakhiri dengan akhiran “tor” biasanya menyeramkan. Misalnya alligator, eksekutor, provokator atau koruptor.

 

Di dunia akademis, plagiarisme terus mengalami evolusi. Dari yang awalnya malu-malu, kini sudah menjadi sangat terbuka. Bagi mahasiswa, alasan utama melakukan plagiarisme biasanya karena ada tekanan yang tinggi untuk mendapatkan atau mempertahankan IPK yang tinggi, memenuhi tuntutan orang tua, waktu yang terlalu pendek untuk menyelesaikan karya tulis, rasa rendah diri, kurang membaca, malas dan seringkali karena putus asa. Namun sebagaimana yang sering diberitakan media massa, plagiarisme tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa, melainkan juga oleh dosen dan bahkan Rektor.

 

Sayangnya, di era digital sekarang ini plagiarisme justru semakin luas dilakukan karena kemudahan akses informasi melalui internet. Studi yang dilakukan oleh Eva Jered et al. membenarkan hal ini. Menurut Eva Jered et al., internet telah memungkinkan orang dengan mudah melakukan copy dan paste yang membuat para civitas akademik sering melupakan etika dan hak cipta. Sebuah makalah pendek yang ringan namun dibuat secara orisinil dapat dianggap sebagai sebuah kekayaan intelektual yang bernilai bagi penciptanya. Dan bisa jadi si pencipta membuatnya dengan penuh kesulitan dan telah melalui proses yang panjang. Ketika karya ciptanya diplagiat, maka si pencipta sudah kehilangan banyak hal, termasuk penghargaan atas usahanya dalam membuat makalah itu.

 

Secara hukum, ada beberapa kategori yang diatur oleh Undang-Undang terkait Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), yaitu UU yang mengatur hak cipta, UU yang mengatur hak paten, UU yang mengatur merek, UU yang mengatur desain industri, UU yang mengatur desain tata letak sirkuit terpadu dan UU yang mengatur rahasia dagang. Maka plagiarisme dalam konteks HAKI tidak sebatas urusan akademik, melainkan juga mencakup bidang lain, termasuk bidang kreatif, seni, budaya dan bisnis. Jadi jika Sobat Revmen misalnya mengambil foto milik online shop di Instagram dan menggunakannya tanpa memberikan informasi sumber, maka itu pun sudah termasuk plagiarisme. Walau pun sekedar “mengambil” foto, sebaiknya jangan dilakukan ya, Sobat. Soalnya engga keren kan. Kecuali Sobat meminta izin kepada pemiliknya terlebih dulu.

 

Melalui penjelasan di atas, pada akhirnya kita mengetahui bahwa untuk menghindarkan diri dari plagiarisme ada beberapa hal yang dapat kita lakukan. Pertama, berlakulah jujur dalam membuat sebuah karya cipta. Jika memang mengutip dari orang lain, sertakan sumbernya. Apalah artinya sebuah karya tanpa integritas. Kedua, pupuk rasa percaya diri ketika membuat sebuah karya cipta. Seandainya pun harus mengutip dari orang lain, maka yakinkan pada diri sendiri bahwa karya ciptaan kita tetap bagus. Dan (ini yang perlu digarisbawahi), mengutip dari orang lain lalu menyertakan sumbernya justru dapat memperkuat karya cipta yang sedang kita kerjakan.

 

Ketiga, banyak membaca dan memahami. Dengan banyak membaca, maka kita menjadi tahu segala hal yang berkaitan dengan plagiarisme atau bagaimana menciptakan sebuah karya yang orisinal. Keempat, hargai karya orang lain. Sebuah karya yang diciptakan orang lain adalah sebuah karya yang telah melalui proses yang panjang dan melelahkan. Biarkan mereka menikmati hasilnya dengan sedikit penghargaan dari kita.

 

Sobat Revmen, kita ingin agar hak kita diberikan dan dihargai orang lain. Maka demikian pula yang dirasakan oleh orang lain. So, agar sama-sama bisa saling menghargai, maka hindari plagiarisme. Besok-besok, ketika kita sedang menulis atau membuat sebuah karya, jangan lupa cantumkan sumber kutipan, jangan mengakui bahwa karya orang lain adalah milik kita. Kita bukan generasi copy-paste. Tidak membanggakan rasanya jika karya yang dihasilkan tidak lahir dari integritas dan kejujuran, bukan? #AyoBerubah #HargaiOrangLain #HakKekayaanIntelektual

 

 

Referensi:

Amelia Kennedy. (2021). Diakses tanggal 27 Juni 2021.

Hukumonline.com. (2020). Diakses tanggal 27 Juni 2021.

Nakrowi. (2013). Diakses tanggal 27 Juni 2021.

Eva Jered et al. (2018). Diakses tanggal 27 Juni 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: