Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

PGRI Canangkan Sekolah Pelopor Gerakan Nasional Revolusi Mental

PGRI menggelar workshop Sekolah Pelopor Gerakan Nasional Revolusi Mental sebagai upaya pembudayaan nilai Revolusi Mental di lingkungan sekolah sebagai pusat perubahan
  • 29 September 2021
  • 0 Komentar

PGRI Canangkan Sekolah Pelopor Gerakan Nasional Revolusi Mental

PGRI Menggelar Workshop Sekolah Pelopor Gerakan Nasional Revolusi Mental bagi Tenaga Pendidik sebagai Upaya Pembudayaan Nilai Revolusi Mental di Lingkungan Sekolah.

 

Jakarta (29/09/2021) Upaya peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental terus berlanjut. Peran serta seluruh pihak termasuk komunitas sekolah sangatlah penting untuk menjadi pusat-pusat perubahan atau lingkungan yang turut membangun karakter peserta didik, penguatan jati diri bangsa, serta penguatan identitas nasional. Dalam rangka mewujudkan cita-cita luhur tersebut, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar Workshop “Sekolah Pelopor Gerakan Nasional Revolusi Mental” pada Rabu (29/9) secara virtual.

 

Workshop hari ini merupakan gelombang kedua dari rangkaian 7 gelombang yang akan berlangsung hingga awal November 2021. Kegiatan ini bertujuan untuk menyiapkan para kepala sekolah dan guru pelopor agar mampu mengimplementasikan nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong melalui berbagai kegiatan produktif di sekolah. Antara lain, melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, serta pembiasaan untuk melahirkan warga sekolah berkarakter, yang selanjutnya dapat menjadi penggerak dan teladan bagi sekolah-sekolah lainnya.

 

Ketua Umum PGRI, Unifah Rosyidi, dalam sambutannya mengatakan bahwa Revolusi Mental sejatinya ialah ruh dari pendidikan, di mana persoalan-persoalan yang dihadapi dunia saat ini terletak pada bagaimana mental kita berorientasi pada penyelesaian masalah. Seperti halnya di kala pandemi saat ini, beragam tantangan berdatangan mulai dari manajemen pembelajaran daring atau tatap muka, penyesuaian teknologi, hingga perubahan iklim dan pemanasan global. Sehingga, guru sebagai tenaga pendidik memiliki peran sentral sebagai aktor penggerak Revolusi Mental untuk mengubah karakter yang fixed mindset ke growth mindset atau cara pikir yang adaptif terhadap segala perubahan yang akan dihadapi.

 

“Semua menuntut perubahan, namun melalui Revolusi Mental kita belajar bagaimana harus bergotong royong, sekaligus memiliki kemandirian, dan mengintegrasikan nilai baik lainnya, agar kita bisa melewati berbagai pancaroba perubahan yang ada di dunia ini, karena sejatinya dunia terkoneksi satu sama lain,” terang Unifah.

 

“Guru harus jadi pelopor, guru harus jadi contoh, teladan, dan kita semua berusaha berjalan ke arah sana,” lanjutnya.

 

Hal ini dikuatkan lebih lanjut oleh Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Budaya, dan Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenko PMK, Didik Suhardi. Beliau menyebut Revolusi Mental sejatinya telah berjalan dalam dunia pendidikan. Sebagaimana desain besar Revolusi Mental, pelaksanaan Revolusi Mental harus terus dilaksanakan melalui dua jalur, yakni jalur non-pendidikan dan pendidikan. Ia menyebut workshop ini sangat strategis untuk mendukung peran guru untuk melakukan proses transfer of knowledge dari PAUD hingga pendidikan tinggi. Sehingga guru yang berpartisipasi dalam workshop pembangunan karakter ini nantinya akan mampu menginternalisasikan nilai Revolusi Mental kepada rekan-rekan sejawat termasuk kepada anak-anak ajarnya dan turut menciptakan lingkungan sekolah pelopor.

 

“Karena sebetulnya kurikulum itu ya karakter, guru itu ya karakter. Karena guru itu adalah kurikulumnya pendidikan. Domain kurikulumnya sehebat apapun kalau gurunya tidak melakukan, ya tidak terjadi apa-apa. Oleh karena itu, saya kira workshop seperti ini sangat penting untuk kita lakukan sebagai bagian dari Revolusi Mental di kalangan pendidikan, tenaga pendidik, dan sekolah,” tutur Didik yang hadir mewakili Menko PMK Muhadjir Effendy.

 

Adapun Sekjen PGRI sekaligus Ketua Panitia, Dudung Abdul Qodir, mengapresiasi atas terselenggaranya workshop hasil kerjasama PGRI dan Kemenko PMK tersebut. Ia berharap melalui Sekolah Pelopor Gerakan Nasional Revolusi Mental, maka nilai-nilai Revolusi Mental pun dapat dikembangkan lebih lanjut untuk dapat dilakukan sebagai dari kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan kerjasama yang baik antara pengawas, kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat di lingkungan sekolah. Perilaku warga sekolah haruslah mencerminkan nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong, serta terlihat melalui gerakannya perubahan untuk lebih melayani, bersih, tertib, mandiri, bersatu.

 

Workshop dengan tajuk Bersama Merajut Negeri Hadapi Pandemi Mewujudkan GNRM di Sekolah tersebut diikuti oleh hampir 500 peserta guru pelopor gelombang kedua dari wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, yang terdiri dari guru PAUD, SD, SMP, SMA, perwakilan madrasah, dan perwakilan dari Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) PGRI. Kegiatan ini merupakan salah satu tindak lanjut nota kesepahaman bersama (MoU) antara PGRI dengan Kemenko PMK mengenai Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Tahun 2020-2024 sebagai upaya menanamkan nilai-nilai Revolusi Mental di sekolah sebagai pusat perubahan. #AyoBerubah #RevolusiMental #SekolahPeloporPGRI

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: