Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

PESANTREN EKOLOGI; KOMBINASI PENDIDIKAN AGAMA DAN PERTANIAN

Guru dan santri Pesantren Ekologi At-Thaariq
  • 30 April 2021
  • 0 Komentar

PESANTREN EKOLOGI; KOMBINASI PENDIDIKAN AGAMA DAN PERTANIAN

Pesantren yang selama ini identik sebagai lembaga pendidikan yang hanya mengajarkan ilmu agama Islam, mulai berkembang dengan mengajarkan keterampilan-keterampilan lain di samping ilmu agama.

 

Jakarta (07/03/21) Selama ini masalah pertanian dan lingkungan hidup masih ditangani secara sektoral. Akan menjadi hal yang sangat menarik ketika sektor pendidikan, khususnya pesantren, justru memberikan perhatian serius pada masalah pertanian dan lingkungan hidup. Kebanyakan orang menganggap bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang khusus menempa ilmu agama Islam. Namun tidak demikian dengan pesantren Ath-Thaariq yang berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

 

Nissa Saadah Wargadipura, bersama suaminya Ibang Lukman Nurdin, mendirikan pesantren Ath-Thaariq pada tahun 2008. Sejak awal didirikan, pesantren ini sudah didesain memiliki konsep yang unik. Kurikulum pesantren didesiain untuk mengajarkan mengaji dan ilmu keagamaan Islam, sekaligus mendidik para santri untuk belajar bertani dan berwirausaha. Karena konsep inilah pesantren Ath-Thaariq dijuluki sebagai Pesantren Ekologi.

 

Dengan luas area satu hektar, Nissa bersama Ibang membagi lahan menjadi zona pertanian dan zona peternakan. Di luar dua zona itu terdapat masjid untuk tempat beribadah dan belajar, serta bangunan utama yang dijadikan tempat tinggal keluarga Nissa, sekaligus untuk tempat tidur bagi para santri.

 

Nissa mampu mengolah lahan di pesantren Ath Thaariq dengan baik, meski tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Pertanian yang dikembangkan nyaris tidak pernah gagal panen. Kualitas panennya juga tergolong bermutu. Begitu pula bibit yang mereka produksi. Hasil pertanian dikonsumsi sendiri untuk memenuhi kebutuhan 30 orang yang ada di pesantren, termasuk para santri. Sisa hasil akan dijual. Produk makanan minuman herbal dan organik yang dihasilkan oleh pesantren Ath-Thaariq berhasil menembus pasar nasional bahkan internasional dengan sejumlah penghargaan yang diraih dari segi kualitas produknya, 

 

Menurut Nissa, pesantren Ath-Thaariq tidak pernah sepi dari pengunjung. Pengunjung yang datang biasanya merupakan komunitas petani yang ingin bertukar pikiran, warga kampung setempat, bahkan para peneliti. Para peneliti yang datang bukan hanya dari dalam negeri, melainkan juga dari luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, Korea dan Prancis.

 

Berkat keyakinan dan perjuangannya menjaga ekosistem pertanian selama ini, Nissa mendapat penghargaan dan apresiasi dari sejumlah kalangan. Tahun 2018, Nissa mendapatkan penghargaan sebagai tokoh inspiratif Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang dikembangkan oleh Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI. Tahun 2019, Nissa masuk sebagai salah satu dari 7 tokoh berpengaruh di Kabupaten Garut versi Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia. Di luar itu, Nissa juga memperoleh beasiswa belajar A-Z of Agroecology and Organic Food System Course dari Dr Vandana Shiva, salah seorang ilmuwan dan aktivis lingkungan dengan reputasi internasional asal India.

 

Sobat Revmen, sudah selayaknya pendidikan melahirkan kemandirian, kegigihan dan kreativitas. Konsep pendidikan yang dikembangkan pesantren Ath-Thaariq mengadopsi nilai-nilai itu. Pesantren dijalankan bukan hanya untuk mengajarkan ilmu agama, melainkan juga ilmu pertanian dan lingkungan hidup. Nissa Wargadipura dan pesantren Ath-Thaariq adalah contoh konkret bagaimana revolusi mental diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

 

 

Referensi:

Kemenkopmk.go.id, 07/03/20

Jawapos.com, 22/03/21

Merdeka.com, 28/05/19

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: