Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

PERJUANGAN GURU-GURU DARI PEDALAMAN INDONESIA

Seorang guru sedang mengajar di daerah terpencil
  • 30 April 2021
  • 0 Komentar

PERJUANGAN GURU-GURU DARI PEDALAMAN INDONESIA

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mas Nadiem Makarim, pernah menyatakan bahwa guru di Indonesia memiliki tugas yang paling mulia sekaligus yang paling sulit. Para guru ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa. Tetapi di tengah sulitnya mengemban tanggung jawab, para guru lebih sering diberi aturan dibandingkan diberi pertolongan.

 

Jakarta (05/03/21) Peran guru dalam sejarah bangsa Indonesia sangat besar. Guru mendidik untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas, berkarakter dan produktif. Namun peran besar guru berbanding terbalik dengan kesejahteraan, akses dan fasilitas yang mereka dapatkan. Kondisi ini terutama dirasakan oleh guru-guru di pedalaman. Para guru di pedalaman rela membaktikan diri demi mencerdaskan anak-anak bangsa, di tengah keterbatasan dan keprihatinan.

 

Di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Andi Sri Rahayu, seorang guru honorer, rela menempuh jarak 10 kilometer setiap hari untuk dapat mengajar di Madrasah Aliyah Guppi Kindang. Dengan gaji Rp 900 ribu perbulan, langkah Andi tidak pernah surut untuk mengajar. Di Kabupaten Mappi, Papua, Diana Cristian Da Costa Ati, seorang Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT) mengaku gajinya Rp 4 juta perbulan habis hanya untuk membeli air minum dan minyak tanah yang mahal. Di Kabupaten Boalemo, Gorontalo, Sri Utami, seorang guru bantu yang sudah mengajar selama 10 tahun bahkan tidak mampu menyekolahkan anaknya sendiri akibat minimnya biaya.

 

Tiga guru di atas hanya sedikit contoh dari begitu banyak nasib memprihatinkan yang dialami guru-guru di wilayah pedalaman. Namun mereka tidak menyerah, karena mengajar adalah bentuk perjuangan nyata yang dapat dilakukan bagi bangsa dan negara. Bahkan tidak sedikit para guru yang tetap antusias menggagas ide-ide kreatif demi memperoleh model belajar yang lebih baik di tengah keterbatasan.

 

Wanti Silasakti adalah salah seorang guru itu. Wanti mengajar di SDN 34 Borang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Setiap hari Wanti harus menempuh perjalanan sejauh 35 kilometer dengan menggunakan sepeda motor dan disambung menggunakan sampan untuk menyeberangi sungai. Dengan jumlah siswa sebanyak 43 orang, SDN 34 Borang tidak memiliki akses internet dan telepon. Otomatis tidak ada pembelajaran dengan menggunakan teknologi canggih di sana. Namun Wanti tidak kehabisan akal.

Secara kreatif Wanti menggunakan alam untuk mengajar. Misalnya pada pelajaran matematika, Wanti menggunakan ruas akar rumput untuk menghitung pembanding pecahan. Terkadang Wanti mengajak murid-muridnya ke hutan sekitar sekolah untuk mengajarkan materi makhluk hidup pada pelajaran IPA. Di saat murid-murid sedang bingung pada pelajaran menulis, Wanti membawa makanan ke kelas untuk dicicipi murid-murid, kemudian Wanti meminta para murid untuk menulis mengenai makanan itu sesuka hati mereka.

 

Menurut Wanti, kesuksesan mengajar tidak tergantung pada kelengkapan fasilitas belajar maupun media pembelajaran yang canggih. Memiliki tekad dan semangat untuk menyelesaikan masalah dalam mengajar baginya jauh lebih penting.

Sobat Revmen, nama-nama di atas mungkin tidak terkenal. Mereka bukan pesohor atau publik figur. Mereka hanya pejuang-pejuang dari pedalaman yang bertekad ingin mencerdaskan anak-anak bangsa. Mereka bukan hanya guru bagi para siswanya, melainkan juga guru bagi kita. Mereka telah mengajarkan arti perjuangan yang sesungguhnya. Maka, bersama mereka mari turut berjuang demi masa depan bangsa. #AyoBerubah #KesejahteraanUntukGuru

 

Referensi:

Kompas.com, 25/11/20

Mediaindonesia.com, 26/11/19

Kumparan.com, 25/10/19

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: