Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

PEMULUNG, PAHLAWAN DAUR ULANG SAMPAH TANPA TANDA JASA

Seorang pemulung sedang memulung di sebuah pemukiman penduduk
  • 28 September 2021
  • 0 Komentar

PEMULUNG, PAHLAWAN DAUR ULANG SAMPAH TANPA TANDA JASA

Tanpa pemulung masyarakat mempunyai masalah besar dalam menangani sampah plastik. Dan tanpa pemulung, limbah plastik yang masuk ke dunia akuatik akan jauh lebih besar.

 

Jakarta (20/09/2021) Saat itu sudah pukul 10 malam. Seorang bapak pemulung masih bekerja memungut sampah di sebuah jalan. Meski sudah tua, tapi tangannya masih lincah memungut gelas dan botol-botol plastik bekas air mineral. Di depan sebuah warung nasi gorang, bapak tua itu berhenti sebentar. Dia memandangi gerobak nasi goreng, lalu melihat ke dalam isi karungnya. Tidak lama dia kembali meneruskan langkahnya. Mungkin, dia lapar dan aroma nasi goreng sempat menggodanya. Namun karena hasil pulungan di dalam karungnya masih sedikit, dia batal untuk membeli.

 

Beberapa orang pembeli nasi goreng acuh tak acuh melihat pemulung tadi berjalan menjauh. Sudah menjadi rahasia umum bahwa profesi pemulung dianggap sebelah mata oleh sebagian orang. Pemulung ditempatkan sebagai kasta terendah dalam hirarki pekerjaan manusia. Bahkan ada sebagian kecil orang yang memberikan stigma negatif kepada pemulung: pemulung dianggap sebagai pemalas, pemulung dianggap pencuri yang berpura-pura mencari sampah, dan beberapa stigma negatif lain. Padahal, ketika orang-orang itu bangun pagi dan melihat jalanan bersih dari botol-botol plastik, itu karena pemulung sudah membantu membersihkannya.

 

Mari kita perbesar lokasinya. Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) Bantar Gebang merupakan lokasi yang dapat menampung hingga 7.000 ton sampah perhari. TPST ini memiliki arti penting bagi warga DKI Jakarta dan Jawa Barat, karena dapat menjauhkan masyarakat dari sumber penyakit yang mungkin ditimbulkan oleh penumpukan sampah. Menurut Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI), terdapat sekitar 6.000 pemulung di TPST Bantar Gebang. Mereka merupakan bagian penting dari mata rantai daur ulang sampah. Melalui kerja yang dilakukan para pemulung, setidaknya 33 persen sampah plastik dan kertas dapat didaur ulang menjadi bahan baku industri. Para pemulung itulah yang membuat kita tidak perlu terlalu khawatir akan sampah plastik yang tidak dapat terdaur ulang secara alamihingga 1.000 tahun. Para pemulung itu jugalah yang telah menutupi ketidakdisiplinan kita karena kerap semaunya dalam menggunakan bahan-bahan plastik dan senang membuang sampah sembarangan. Mari hitung bagaimana peran pemulung jika kita akumulasikan se-Indonesia. Yups! Peran mereka sangat besar.

 

Pemulung yang berada di lokasi-lokasi tempat pembuangan sampah seperti Bantar Gebang memiliki resiko yang berbeda dengan para pemulung yang berada di perkampungan. Pemulung di perkampungan rentan diserang stigma, maka pemulung di tempat pembuangan sampah rentan diserang wabah. Penyakit kulit, penyakit pernafasan, dan lain-lain sering menyerang para pemulung di tempat pembuangan sampah. Memang benar mereka memulung demi mencari penghasilan. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah apa yang mereka kerjakan itu memberikan dampak positif bagi orang lain dan lingkungan. Bahkan dengan penghasilan yang sedikit, mereka rela mempertaruhkan harga diri dan kesehatan fisiknya. Menurut Costas Velis, peneliti dari Leeds University, tanpa pemulung masyarakat mempunyai masalah besar dalam menangani sampah plastik. Dan tanpa pemulung, limbah plastik yang masuk ke dunia akuatik akan jauh lebih besar.

 

Atas dasar itu, beberapa pihak, seperti PT Unilever, Dwi Sawung (WALHI) atau Costas Velis (Leeds University) melihat ada baiknya untuk memasukan bahkan memformalkan pemulung ke dalam manajemen pengelolaan sampah nasional. Hal ini perlu dilakukan agar para pemulung menjadi lebih terperhatikan, lebih berkualitas dan lebih berperan dalam manajemen daur ulang sampah.

 

Mari kita kembali ke pemulung pertama di awal artikel ini. Di hari yang berbeda, tepat jam 10 malam pemulung tadi kembali lewat di jalan yang sama. Sekali ini karung sampahnya tampak penuh dan sekali ini dia membeli nasi goreng. Wajahnya sumringah membayangkan sebungkus nasi hangat yang nikmat akan disantapnya malam ini. Pakaian lusuhnya dirapihkan, posisi karungnya dibenarkan. Sambil menunggu pesanannya matang, pemulung itu menghirup udara Indonesia dengan seikhlas-ikhlasnya. Dia tidak terlalu mempedulikan pandangan orang lain yang merendahkannya. Baginya, kerja keras, kerja jujur dan kerja yang memiliki manfaat bagi lingkungan sudah cukup untuk menjadi filosofi dalam mengarungi hidup yang penuh dengan stigma. Maka siapa bilang mereka bukan pahlawan?

 

Sobat Revmen, di antara kita terdapat orang-orang berjasa yang mungkin masih belum kita beri perhatian dengan layak. Salah satunya pemulung. Jika kita sama-sama peduli dengan Indonesia, maka mari jaga lingkungan dan mari membantu para pemulung. Pemulung merupakan bagian dari mata rantai daur ulang sampah. Peran mereka sangat penting. Namun mereka membutuhkan dukungan kita. Kita bisa membantu mereka dengan menghapus stigma. Beri mereka sedikit penghargaan. Dan jika Sobat sungguh-sungguh ingin membantu lebih, maka bersihkan dan pisahkan sampah-sampah yang kita hasilkan. Ketika sampah sudah dibersihkan dan dipisahkan, sebagaimana dikatakan Devina Lengkong (Ketua Umum Perkumpulan Pemulung Indonesia Mandiri), para pemulung akan memperoleh keuntungan hingga 25 persen lebih besar. Pahlawan bernama pemulung ini berhak untuk tersenyum karena kita membantu membuatnya demikian. Inilah karakter yang harus kita bangun bersama sebagaimana yang terus dipromosikan oleh gerakan Nasional revolusi Mental #AyoBerubah #RevolusiMental #GerakanIndonesiaMandiri #GotongRoyong #SelamatkanLingkungan

 

Referensi:

Forestdigest.com. (2020). Diakses tanggal 25 Agustus 2021.

Koran-jakarta.com. (2020). Diakses tanggal 25 Agustus 2021.

Korantangerang.com. (2019). Diakses tanggal 25 Agustus 2021.

Popmama.com. (2021). DIakses tanggal 25 Agustus 2021.

Rm.id. (2020). Diakses tanggal 25 Agustus 2021.

Thebalancesmb. (2021). Diakses tanggal 25 Agustus 2021.

  

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: