Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Pelipur Lara dari Apriyani dan Fadia

pemuda, GNRM, GIBersatu
  • 05 Juli 2022
  • 0 Komentar

Pelipur Lara dari Apriyani dan Fadia

Oleh : Anwar Hudijono, Wartawan Senior

Presiden Joko Widodo menyampaikan ucapan selamat kepada pasangan ganda putri Indonesia Apriyani Rahayu/ Siti Fadia Silva Ramadhanti sesaat setelah mereka menyabet gelar juara pada turnamen bulutangkis Malaysia Open di Kualalumpur, Minggu (3/7)

Begitu cepatnya Presiden Jokowi memberikan ucapan selamat mengesankan betapa tingginya nilai juara itu. Sikap Jokowi sejalan dengan sikap kebatinan penggemar bulu tangkis Tanah Air yang memberi penghargaa plus karena Apriyani/Fadia merebut gelar juara di Kualalumpur yang dianggap sebagai kandang macan bagi pebulutangkis Indonesia.

Di samping itu, prestasi ini memiliki nilai  pelipur lara atas catatan yang kurang menggembirakan prestasi bulutangkis Indonesia akhir-akhir ini. Di antaranya gagal mempertahankan Piala Thomas karena dipecundangi tim underdog India 0-3.

Yang paling gres adalah gagal total pada turnamen Indonesia Open baru-baru ini. Bahkan tidak menempatkan satu atlet pun di semifinal. Dan ini merupakan catatan terburuk dalam 40 tahun terakhir.

Publik sangat merindukan Indonesia akan kembali memegang supremasi bulutangkis dunia. Bulutangkis adalah cabang yang pertama kali mengerek nama Indonesia di deretan negara peraih medali emas yaitu pada Olimpiade Barcelona tahun 1992.

Tak tanggung-tanggung Indonesia langsung menyabet dua emas dan dua perak dari cabang ini. Medali emas dipersembahan Alan Budikusuma di tunggal putra dan Susi Susanti di tunggal putri. Medali perak dipersembahkan Ardy Wiranata di tunggal putra dan pasangan Edy Hartono dan Rudy Gunawan.

Sebenarnya supremasi bulutangkis Indonesia belum runtuh. Meski tidak  sedahsyat masa sebelum tahun 2010. Yang jelas untuk mengembalikan kedahsyatan dibutuhkan kerja keras semua stakeholder.

 

Semakin merata

Tantangan era sekarang ini adalah perkembangan bulutangkis dunia semakin merata. Banyak negara underdog yang tiba-tiba seperti bangun dari tidurnya. Contohnya Taiwan, Thailand, India. Jepang yang sempat tidur lama, kini menjelma menjadi raksasa perkasa.

Meratanya kekuatan bisa dilihat dari hasil Piala Thomas di mana dalam lima pergelaran terakhir ini tidak ada yang mampu mempertahankan juara. Negara terakhir yang mampu mempertahankan Piala Thomas adalah China tahun 2012.

Olimpiade Tokyo 2021 juga bisa menjadi indikator semakin meratanya bulutangkis dunia. China yang memborong semua gelar di Olimpiade 2012, harus puas mendapat dua medali emas melalui tunggal putri dan ganda campuran. Indonesia mendapat satu emas melalui ganda putri Apriyani Rahayu/Greysia Poli. Tunggal putra diraih altlet Viktor Axelsen dari Denmark, ganda putra Lee Yang/Wang Chi-lin dari Taiwan.

Taiwan adalah contoh negara yang tidak diperhitungkan. Kini memunculkan tunggal putri yang hebat, Tai Tzu. Dia menjadi juara Indonesia Open tiga kali yaitu tahun 2016, 2018 dan 2022. Tai Tzu juga meraih medali perak di Olimpiade Tokyo 2021. Pada Indonesia Open 2022 di final menumbangkan pemain nomor satu dunia  Wang Zhi Yi.

 

Sukses India menyabet  Piala Thomas tahun 2022 sama sekali tidak pernah diperhitungkan. Bahkan publik India sendiri seperti terbangun dari mimpi. Sukses India ini tidak lepas dari besutan tangan dingin pelatih asal Indonesia, Mulyo Handoyo dan Flandy Limpele. Tunggal putra India, Kidambi Srikanth yang menjadi penentu sukses India adalah didikan Mulyo Handoyo langsung. Kidambi menjungkalkan tunggal andalan Indonesia Jonatan Christie.

Dengan semakin meratanya kekuatan bulutangkis dunia berarti semakin menantang untuk melakukan banyak inovasi baik sistem pembinaan berjenjang,  sistem pengelolaan, peningkatan standar fasilitas.

Boleh dibilang naga-naganya bulutangkis akan semakin mengarah kepada sportbiz atau bisnis olahraga yang profesional seperti halnya sepakbola. Alangkah baiknya jika Indonesia mulai memikirkan desain dan regulasinya. Kelak kita akan melihat altlet bulutangkis yang menjadi selebriti sekaligus crazy rich seperti halnya pesepakbola dunia.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: