Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Patola, Lawan Mafia Kopi dengan Koperasi

GIMandiri, Koperasi, kopi
  • 06 Mei 2022
  • 0 Komentar

Patola, Lawan Mafia Kopi dengan Koperasi

Perjuangan Patola  dengan kelompok tani dan koperasinya, membuktikan bahwa memperbaiki nasib petani harus dilakukan sendiri oleh petani. Kini brand Benteng Alla dari koperasinya memasok kopi untuk Starbucks.

Jakarta (6/5/2022), Patola adalah teladan bagi para petani kopi. Di  Desa Benteng Alla, Kecamatan Angeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan,  Patola dengan gigih mengajak petani kopi berhimpun dalam kelompok tani dan membentuk koperasi. Dengan kelompok tani dan koperasi itu kehidupan perekonomian mereka membaik.

Puluhan tahun, pengepul dan pedagang besar menjerat petani dalam lingkaran sistem ijon. Tak hanya bermodal besar, mereka juga menguasai penggilingan dan mata rantai pasokan ke pedagang besar di Makassar, bahkan eksportir kopi. Situasi ini membuat petani putus asa.

Melihat kondisi petani di desanya, patola pun berupaya mencari jalan keluar sampai akhirnya mengajak petani untuk mendirikan koperasi. Dilansir dari Kompas.com, mereka membentuk Koperasi Benteng Alla Utara sejak 2007.

Dengan modal awal yang hanya puluhan juta rupiah, Patola mulai membeli kopi petani di atas harga pengepul. Saat itu, pengepul membeli Rp 5.000 per kilogram (kg) untuk kopi kulit tanduk. Oleh koperasi, harga dinaikkan menjadi Rp 7.000 per kg. Kopi ini lalu diolah dengan baik hingga menjadi biji kopi pilihan dan dibawa ke Makassar.

Tapi prosesnya tak berjalan mulus. Pedagang bermodal besar berupaya membuat Patola dan koperasinya bangkrut dan kehilangan kepercayaan. Itu dilakukan dengan membeli kopi petani dengan harga jauh di atas harga pembelian koperasi. Keadaan kian tak menguntungkan karena pedagang menguasai penggilingan yang membuat petani berada dalam posisi tawar rendah.

“Saya sempat melawan dan membeli dengan harga tinggi juga. Sebagian petani bisa setia dan tak menjual kepada pedagang, tetapi banyak pula yang tergiur dan menjual ke pengepul. Kami berusaha bertahan walau habis-habisan. Saya sampai pernah rugi Rp 80 juta karena melawan pengepul yang terus menaikkan harga,” kenang Patola seperti dikutip agronet.co.id.

Menghadapi tekanan, Patola tak kehilangan akal. Terlebih kepercayaan petani pada koperasi mulai terbangun. Dia mulai mencari mitra perusahaan besar, sembari terus menawarkan kopi ke pemilik-pemilik kafe di Makassar.

Keinginannya bermitra mendapat jalan ketika bertemu dengan pemasok kopi untuk Starbucks. Melalui perjuangan panjang, serangkaian proses uji coba, pemasok ini setuju mengambil kopi dari petani untuk masuk ke Starbucks. Harga beli dari Starbucks saat itu berkisar Rp 57.000-Rp 70.000 per kg.

Semangat mengangkat harkat petani dan kopi Kabupaten Enrekang akhirnya berbuah manis. Koperasi Benteng Alla yang dirintisnya kini semakin besar. Anggotanya mencapai 2.700-an petani yang menyebar di sentra kopi Enrekang, antara lain Kecamatan Baroko, Bungin, Masale, Buntu Batu, dan Baraka.

Sedikitnya 400-an petani menjadi pemasok kopi untuk Starbucks. Selebihnya memasok untuk pengekspor dan pemilik kedai kopi di Makassar hingga Pulau Jawa dan Bali.  Patola dan koperasinya tentu sangat berjasa membuat kopi daerah Enrekang dikenal luas seperti halnya kopi Toraja.

Koperasi Benteng Alla juga membuat unit usaha lain, yakni ternak kambing. Ternak yang dikelola bersama dengan sistem bagi hasil ini menjadi pendapatan tambahan bagi petani di waktu-waktu produksi kopi sedang turun.

Sesuai tujuan awal koperasi untuk meningkatkan kapasitas petani, pelatihan dan bimbingan terus dilakukan. Diskusi rutin digelar sebagai ajang silaturahim dan membicarakan berbagai persoalan. Sejumlah tenaga internal control system koperasi juga ditempatkan di setiap kecamatan. Mereka membantu dan mengontrol petani mulai dari penanaman, petik merah, hingga proses pascapanen.

Petani dan masyarakat pun diedukasi menikmati kopi dengan mengajak mereka meminum kopi berkualitas dari biji kopi pilihan. ”Dengan tahu rasa kopi bercita rasa tinggi, mereka bisa lebih menghargai tanaman ini dan pada gilirannya meningkatkan kualitas produksi,”pungkas Patola

*PS

Sumber

Kompas.com diakses 5 Mei 2022

Agronet.co.id diakses 5 Mei 2022

 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: