Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Pasar “Kreatif” Payungi, Wisata dan Ruang Belajar Warga Lampung

Sumber foto : Tribunlampung.com
  • 24 Januari 2022
  • 0 Komentar

Pasar “Kreatif” Payungi, Wisata dan Ruang Belajar Warga Lampung

Dharma Setyawan menggagas Pasar Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi) sebagai wadah pemberdayaan masyarakat, disana ada wahana bermain anak anak, pasar beraneka jajanan khas warga, taman edukasi, pameran, ruang diskusi hingga kampung kopi.

 

Jakarta (16/01/22) - Wisata bagi sebagian orang bukan lagi aktivitas untuk menghindari kebosanan, namun saat ini sudah menjadi kebutuhan. Kebanyaka dari kita akan berwisata ke tempat yang memiliki pemandangan alam seperti pantai dan gunung, namun pernahkan sobat Revmen berwisata ke Pasar? Nah di Kota Metro ada Pasar yang menjadi destinasi hits masyarakat untuk berwisata, Pasar itu bernama Pasar Yosomulyo Pelangi atau lebih dikenal Payungi. 


Sobat Revmen Pasar Yosomulyo Pelangi atau Payungi Pasar awalnya digagas oleh anak muda bernama Dharma Setyawan yang merupakan dosen ekonomi di IAIN Metro. Awalnya tujuan dibentuknya Pasar Payungi untuk wahana bermain anak sekaligus memberdayakan ekonomi warga disekitar tempat tinggalnya. Pasar Payungi merupakan pasar tradisional yang diinisiasi warga dan digelar setiap hari minggu. Di pasar tersebut kita dapat menemukan berbagai jenis jajanan, mulai dari jajanan tradisional hingga jajanan olahan hasil kreativitas warga. Apabila berminat untuk makan ditempat, maka kita bisa memilih untuk makan di kursi-kursi yang terbuat dari bambu yang terletak dibawah pepohonan. 


Setelah mencicipi berbagai kuliner yang dijajakan di Payungi, kita dapat melakukan swafoto, Payungi menyediakan beberapa spot untuk berfoto. Dinding-dinding dan jalanan digambar mural para tokoh, pemandangan, 3D dan lain sebagainya, adapula beragam permainan untuk dicoba. Tempat ini sangat direkomendasikan bagi keluarga yang ingin berjalan-jalan di pagi hari sembari menikmati sarapan.

 

Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Kreativitas Warga

Sebelum pandemi tiap minggu omset Pasar Payungi berkisar 40-45 juta rupiah.  Dalam satu bulan artinya uang masuk di kawasan Payungi kurang lebih 160 juta rupiah.  Namun karena pandemi Pasar Payungi sempat tutup untuk sementara. Biasanya dalam tiap gelaran Pengelola Pasar membuat tema tema menarik seperti Batik, Peringatan Pahlawan,  Pameran Barang Antik,  Festival Burung,  Pameran Tanaman Bonsai dan lainnya. Untuk mengembangkan daya tarik yang beraneka ragam dan berganti setiap waktu, warga bergotong royong memperbaiki spot-spot selfie dan mempercantik kawasan Payungi. Lebih dari itu agar pengunjung tidak bosan, disediakan wahana permainan seperti Flying Fox,  Panahan dan Lempar Pisau.  Selain itu juga ada taman ramah anak yang dibuat sebagai kawasan edukasi diantaranya melukis, mewarnai, memberi makan kelinci,  kura-kura,  ikan, ayam dan lainnya.


Payungi juga mengandeng pengurus Masjid Sabhili Mustaqiem bersama dengan Remaja Islam Masjid (RISMA) dan majelis taklim ibu-ibu melakukan program kajian rutin untuk memperdalam ilmu agama dan al quran. Bapak ibu pedangan pasar Payungi juga memiliki infaq rutin yang hasil dananya digunakan untuk beberapa hal termasuk mengembangkan pasar menjadi lebih maju.


Di kampung Payungi warga juga belajar mengelola sampah agar tidak menggangu kenyamanan bahkan bisa menghasilkan ekonomi lewat program Bank Sampah. Tim Payungi melakukan pendampingan, motivasi dan keterampilan dalam pemilahan sampah non organik. 


Kemudian dilakukan pendampingan pengembangan manajemen administrasi dan kreatifitas pengelolaan bank sampah. Dengan memaksimalkan pelatihan pemilahan sampah dan kerajinan Bank Sampah selanjutnya dilakukan pendampingan penguatan SDM manajemen pengelola, teknis operasional bank sampah, mekanisme tata cara menabung, inovasi variasi produk-produk bentuk simpanan bank sampah, pemetaan segmentasi dan penargetan pasar bank sampah, serta promosi dan kampanye pentingnya bank sampah kepada masyarakat. 

 

Kampung Kopi

Berawal dari keresahan atas kurang dikenalnya kopi lokal Lampung, Anak-anak Muda di Payungi membuka Kampung Kopi Payungi. “Ide tersebut berawal dengan maksud mengangkat kopi-kopi lokal Lampung yang selama ini kalah populer dengan kopi-kopi lainnya” ujar Tomi Nur Rohman penggagas Kampung Kopi. Menurut data statistik, produksi kopi provinsi Lampung tergolong tinggi. Tapi untuk pasaran lokal, kedai-kedai kopi malah menonjolkan ciri khas dari daerah lain.

Tim Payungi menggandeng UMKM lokal di Kota Metro untuk membuka sebuah kampung yang didesain untuk menjadi destinasi wisata dengan menyajikan ratusan menu olahan berbahan kopi Lampung. dapun sajian yang bisa dinikmati mulai dari kopi tubruk atau kopi hitam seharga Rp 5.000 hingga cappucino Rp 25 ribu. Pengunjung juga boleh menggelar tikar di taman atau duduk di dekat barista. Selain itu, pembeli bisa berswafoto di gerai empat yang instagramable. Jika Pasar Payungi buka setiap Minggu pagi, Kedai Kampung Kopi buka setiap hari bahkan hingga malam. Jadi buat sobat Revmen yang mau mencicipi kopi khas Payungi tidak perlu menunggu sampai hari minggu.

 

Payungi University, Platform Belajar Warga Payungi

Selain Pasar dan Kampung Kopi, Payungi mendirikan Payungi University yaitu program edukasi masyarakt seperti kuliah/sekolah tanpa gelar, tanpa ijazah dan tanpa gedung. Di dalamnya ada pendidikan berbasis pemberdayaan masyarakat. Ada sekolah desa, sekolah media, pesantren wirausaha, kampung bahasa Payungi, pusat studi perempuan dan lingkungan hidup. Di dalam Payungi University terdapat 3 pusat studi yang pertama yaitu Pusat studi Desa, bertujuan memberikan edukasi dan pelatihan baik soft maupun hard skill dalam mengembangkan desa yang lebih maju dan berdaya saing. Kedua, Pusat studi perempuan dengan nama Gender and Environment Studies (WES), fokus pada pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan. Terakhir yang ketiga, Kampung Bahasa Payungi, yaitu layanan belajar bersama Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan beberapa Bahasa lainnya yang bisa diakses oleh masyarakat.


Payungi University juga menggerakkan media sosial yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pasar Payungi. Berkat medsos pengunjung berdatangan dan pasar Payungi menjadi sangat populer. Terkait dengan hal tersebut pengunaan medsos Payungi dilakukan secara serius dan professional. Bahkan saat ini Payungi juga memiliki portal official, portal medsos, youtube hingga relawan jurnalisme warga.

 

Sebagaimana dikutip Kumparan.com Merintis sebuah gerakan ekonomi kreatif di masyarakat desa memang tidak semudah mengembalikkan telapak tangan. Butuh waktu dan usaha maksimal untuk bisa memperoleh kesuksesan yang diinginkan. Dharma menuturkan bahwa pada awalnya banyak warga yang tidak percaya dengan ide-idenya tersebut. Pada waktu itu, masyarakat masih minim imajinasi dan modal sehingga masih bingung dengan arah baru yang ditawarkan oleh Dharma. Bahkan untuk menggerakkan ide Pasar Payungi sampai sempat meminjam kas mushola.

 

Dharma mengatakan bahwa agar kampung yang telah digagas terus berkembang, dibutuhkan kreativitas dan optimisme dari warga sekitar. Seluruh potensi yang ada di masyarakat sedapat mungkin diberdayakan guna memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri. Mulai dari lahan kosong, ide-ide segar dan kreativitas dari masyarakat selalu diutamakan. "Upaya kreatif ini tidak boleh berhenti, tapi kita harus terus berimajinasi". Meski begitu, Dharma juga menegaskan bahwa fokus yang ia tekankan terletak pada pemberdayaan masyarakat, sedangkan pariwisatanya sendiri lebih dianggap sebagai bonus.


Reporter : MKH

 

Referensi

Kumparan.com (2019). Diakses pada 15 Januari 2022

Laporan Kajian Bidang Penguatan Stabilitas Politik Dan Pemerintahan Studi Kasus Di Kota Metro (2021). Diakses pada 15 Januari 2022

Seputarlampung.com (2020). Diakses pada 15 Januari 2022

Tribunlampung.com (2020). Diakses pada 15 Januari 2022

 

Sumber foto : Tribunlampung.com

 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: