Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

PARA PAHLAWAN DI TENGAH PANDEMI

Tenagar kesehatan kelelahan setelah menangani pasien Covid-19
  • 09 November 2021
  • 0 Komentar

PARA PAHLAWAN DI TENGAH PANDEMI

Pahlawan di tengah pandemi muncul dimana-mana. Tidak ada kriteria khusus untuk menjadi seorang pahlawan. Mereka hanya perlu menunjukan keberanian, kepedulian, integritas dan etos kerja, kemudian kesemuanya itu diaktualisasikan dalam tindakan nyata.

 

Jakarta (08/11/2021) Peringatan Hari Pahlawan 10 November dipicu oleh sejarah pertempuran Surabaya yang terjadi pada tahun 1945. Saat itu, masyarakat Surabaya bersama para pejuang bertempur melawan tentara Inggris dan sekutunya. Pecahnya perang pada 10 November merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Republik Indonesia. Bung Tomo, salah seorang penggerak pecahnya perlawanan 10 November, kemudian didaulat sebagai pahlawan nasional. Namun, jika dulu pahlawan identik dengan perjuangan bersenjata melawan penjajah asing, maka pada era sekarang makna pahlawan bisa dipahami melalui berbagai perspektif.

 

Kata kunci yang menjadi kriteria pahlawan adalah (1) bertindak secara nyata untuk melakukan perubahan dan membela kebenaran; (2) bertindak tanpa mengharapkan pamrih; (3) memiliki keberanian dan semangat juang yang tinggi; (4) tindakannya memiliki manfaat bagi orang banyak; dan (5) sosoknya dapat menjadi teladan dalam melakukan perbuatan baik.

 

Ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia, berbagai elemen bangsa segera turun tangan untuk menangani penyebaran virus Corona, terutama para tenaga kesehatan (nakes) yang sejak awal berdiri di garda terdepan. Bahkan Presiden Joko Widodo mendaulat para nakes sebagai para pejuang kemanusiaan. Namun bukan hanya para nakes yang berjuang, berbagai elemen bangsa lain pun turut berpartisipasi meski mereka memahami bahwa resiko kematian bisa saja dihadapi. Konsep terpenting yang harus kita pegang teguh adalah adanya sebuah fenomena bahwa dalam setiap tantangan dan cobaan akan lahir pahlawan-pahlawan yang memberikan jasanya bagi kemanusiaan.

 

Pada peristiwa pandemi Covid-19, setidaknya terdapat 5 elemen bangsa yang patut didaulat sebagai pahlawan, yaitu: Pertama, Tenaga kesehatan. Dokter, perawat, apoteker, dan lain-lain telah menunjukan dedikasi dan tanggung jawabnya dalam menanggulangi pandemi Covid-19. Dikutip dari situs resmi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), peran tenaga kesehatan masyarakat, terutama dokter, sangat penting dalam penanganan Covid-19 pada setiap level intervensi. Salah satu tugasnya kepada masyarakat di masa pandemi adalah melakukan komunikasi risiko dan edukasi masyarakat terkait protokol kesehatan untuk melawan Covid-19. Selain itu, dokter beserta tenaga kesehatan masyarakat lain juga bisa berinovasi dan menciptakan strategi percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia, dengan fokus utama edukasi dan pemberdayaan masyarakat, lalu fokus kedua memperkuat pelayanan kesehatan itu sendiri.

 

Kedua, Pemuda.  Kisah heroik yang ditunjukkan oleh pemudi bernama Ika Dewi Maharani (26). Mahasiswi semester akhir STIKes Hang Tuah Surabaya ini tergabung dalam asosiasi profesi perawat Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (Hipgabi). Saat virus Covid-19 masuk ke Indonesia, ia mendengar kabar bahwa Ibu Pertiwi memanggil banyak pemuda pemudi untuk turun menjadi relawan. Tanpa berpikir dua kali, tekad bulatnya membawa Ika masuk dalam barisan relawan medis yang berada di bawah naungan Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sejak 4 April 2020. Sebagai relawan, tugas yang Ika emban terbilang unik, yaitu menjadi sopir mobil ambulans. Sebab, pada awal pandemi, lonjakan pasien yang tinggi membuat petugas ambulans kewalahan karena jumlahnya yang terbatas. Selain Ika, ada begitu banyak pemuda Indonesia yang terjun secara langsung ke lapangan, baik secara perorangan maupun kelompok, guna memberikan edukasi, bantuan pangan, bantuan dana dan lain-lain agar Covid-19 dapat tertangani.

 

Ketiga, Pengusaha. Seorang pengusaha soto asal Sleman, Jawa Tengah, bernama Ahmad Mujahidin membagikan 1.000 paket soto kepada warga yang sedang isolasi mandiri (isoman) karena terjangkir virus Corona. Inisiatif Ahmad Mujahidin muncul karena dorongan rasa kemanusiaan kepada sesama. Mujahidin berasumsi bahwa warga yang sedang isoman tidak bisa mencari nafkah dan sulit untuk memperoleh makanan. Untuk itu Mujahidin mendonasikan soto dagangannya agar warga isoman tidak merasa sendiri ketika berjuang memulihkan dirinya. Selain Ahmad Mujahidin terdapat sangat banyak pengusaha di Indonesia yang bergerak menjadi pahlawan-pahlawan pandemi Covid-19. Mereka mendonasikan berbagai hal yang dibutuhkan untuk melawan pandemi; tabung oksigen, masker, hand sanitizer, APD, makanan, uang, gagasan, inovasi dan lain-lain yang sekiranya dapat membantu banyak orang.

 

Keempat, Influencer. Era digital erat kaitannya dengan kemunculan para pesohor yang memiliki pengaruh di media sosial atau yang biasa disebut dengan istilah influencer. Pada saat pandemi Covid-19 muncul, para influencer ini tergerak untuk membantu masyarakat, baik dalam ajakan berdonasi, memperkuat usaha UMKM atau mempromosikan kegiatan tolong menolong lain yang berguna bagi masyarakat yang membutuhkan. Influencer seperti Nana Mirdad dan Tamara Bleszynski, misalnya, beberapa kali mengunggah konten-konten promosi usaha makanan melalui akun Instagram pribadinya tanpa mengenakan biaya. Ada pula desainer kondang Didiet Maulana yang terus mempromosikan karya perajin Nusantara sekaligus mendorong warganet untuk turut membantu bisnis mereka di masa sulit ini. Jumlah influencer yang tergerak menjadi pahlawan-pahlawan pandemi sangat banyak dan dengan aksi yang beragam. Aksi menabur kebaikan di media sosial itu mampu menggerakkan massa yang luas untuk membeli atau menggandakan suara agar perhatian terhadap para orang-orang yang membutuhkan bantuan.

 

Kelima, Inovator. Pengertian inovator adalah orang yang melahirkan inovasi atau gagasan/produk baru. Kuwat Triyono, seorang professor pada Departemen Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada, menciptakan GeNose, yakni alat pendeteksi Covid-19 melalui embusan nafas. GeNose diklaim mampu mendeteksi Covid-19 dalam tubuh manusia kurang dari dua menit. Pandemi bukan hanya melahirkan pahlawan yang bergerak dalam ranah sosial, melainkan juga dalam ranah teknologi. Selain Kuwat Triyono, masih terdapat banyak inovator yang muncul menjadi pahlawan di kala pandemi Covid-19. Mereka melahirkan teknologi yang berkaitan dengan kesehatan, bisnis, komunikasi. Kesemuanya itu dilakukan demi menjadi solusi konkret bagi bangsa Indonesia dalam melawan pandemi.

 

Sobat Revmen, selain lima jenis pahlawan di atas, kita sadar masih bertebaran pahlawan-pahlawan yang muncul di era pandemi Covid-19, termasuk media dan masyarakat luas. Bahkan bisa jadi Sobat Revmen juga merupakan salah satu pahlawan itu. Dan untuk menjadi pahlawan bagi sesama, kita memang tidak perlu otot kawat dan tulang besi. Kita cukup memiliki rasa kepedulian, keberanian, integritas dan semangat bergotong royong, kemudian kesemuanya itu langsung kita aktualisasikan dalam tindakan nyata. #AyoBerubah #HariPahlawan #PahlawanPandemiCovid-19 #Integritas #IndonesiaBersatu

 

 

Referensi:

Beritasatu.com. (2020). Diakses tanggal 6 November 2021.

Kompas.com. (2021).. Diakses tanggal 6 November 2021.

Liputan6.com. (2020). Diakses tanggal 6 November 2021.

Mediaindonesia.com. (2020). Diakses tanggal 6 November 2021.

 

Penulis: Robby Milana

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: