Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Pamer Kepalsuan, Terjebak Flexing

flexing, pamer, media sosial
  • 22 Januari 2022
  • 0 Komentar

Pamer Kepalsuan, Terjebak Flexing

Adanya media sosial membuat flexing semakin mudah. Sulit untuk tidak flexing ketika kita memiliki sesuatu untuk dipamerkan. Apakah flexing itu?

Jakarta (22/01/2022) Ada seorang lelaki yang belum memiliki rumah namun  memiliki mobil mewah dari pinjaman ke bank. Harapannya ia bisa mendapatkan pasangan yang terhipnotis oleh kemewahannya. Akhirnya, ia bertemu dengan perempuan yang tertarik. Mereka lantas menikah dan beberapa bulan kemudian bercerai. Perempuan itu sadar dia menikahi manusia ‘palsu’.

Kita sering menemukan konten-konten video dari influencer ternama seperti kado rumah mewah untuk istri, makan nasi goreng dengan emas (edible gold), video room tour rumah mewah, dan lain sebagainya. Diolah sedemikian rupa, konten-konten itu menimbukan decak kagum. Sebuah akun memperlihatkan perjalanannya mengambil pesanan antar makanan ke rumah menggunakan mobil golf, saking luasnya rumah tempat tinggalnya. Dia bersikap seolah-olah pergi mengambil makanan itu sebuah perjuangan berat. Pengikutnya pun berlomba berkomentar menyanjung dan menyebut iri bagi para pengkritisnya. Pamer kekayaan ini, belakangan malah menjadi genre tersendiri.

Dikutip dari video yang diunggah di kanal YouTube Rhenald Kasali pada 11 Januari 2022, pamer kekayaan itu dewasa ini disebut  flexing. Adanya media sosial membuat flexing semakin mudah. Sulit untuk tidak flexing ketika kita memiliki sesuatu untuk dipamerkan. Secara online, manusia juga ingin sebagai seseorang yang memiliki kekayaan, menarik secara fisik, cerdas, dan populer.

Bagaimana asal-mula kata flex diartikan sebagai sikap pamer? Dikutip dari Kompasiana.com, dari tulisan @Naqoy, istilah flexing belakangan ini muncul dari kakak beradik bernama Rae Sremmurd, menciptakan lagu viral berjudul "No Flex Zone" , yang berarti area untuk orang-orang yang santai, bersikap seperti dirinya sendiri, dan tidak pamer atau pura-pura menjadi pribadi yang berbeda. Bisa disimpulkan dalam bahasa gaul, orang yang flexing  dianggap suka berbohong memiliki banyak kekayaan meski realitanya tidak. Banyak yang berpendapat bahwa kata flexing juga berarti orang yang palsu, memalsukan atau memaksakan gaya agar diterima dalam pergaulan .

Cerita Rhenald Kasali di kanal youtubenya menjelaskan bahwa flexing adalah gaya hidup zaman now yang sekarang  telah mendunia terutama negara yang sedang berkembang dan maju seperti China. “Teman saya di Perancis memberitahu bahwa yang mengantri membeli tas mewah ternyata datang dari negera yang sedang berkembang dan maju. Negera yang sudah terbiasa maju seperti Eropa dan Amerika tidak lagi membutuhkan flexing, kerana mereka fokus kepada kualitas dan rasa nyaman. Saya sendiri sedikit kaget ketika banyak acara yang menunjukan kemewahan bahkan menunjukkan saldo tabungan seseorang sebagai bentuk pengakuan bahwa dirinya memang kaya, “tuturnya .

Ditambahkan Rhenald, sekarang ini ada organisasi di dunia yang melatih perempuan untuk memiliki suami orang kaya. Ada pelatihan bagi mereka dari mulai bagaimana foto dengan latar belakang  mewah, bagaimana cara bergaul dengan kaum elit. Bahkan diajarkan bagaimana membalas  WA yang menunjukan orang kaya membalasnya.

Sebagai pakar bisnis, Rhenald Kasali menandaskan bahwa orang kaya yang sesungguhnya tidak ingin menjadi pusat perhatian. Sebab ada sebuah pepatah mengatakan 'poverty screams, but wealth whispers'. "Biasanya kalau semakin kaya orang-orang justru semakin menghendaki privasi, tidak ingin jadi pusat perhatian," tuturnya. Oleh karena itu, flexing justru menurutnya bukan orang kaya yang sesungguhnya. Bahkan jika benar-benar tujuannya untuk menarik perhatian, flexing bisa jadi hanya menjadi strategi marketing.

Rhenald mencontohkan kasus First Travel yang sempat heboh beberapa tahun lalu. Si pemilik bisnis sekaligus pelaku sebelumnya sangat sering memamerkan kekayaannya di media sosial. Semua itu dilakukan juga agar para target pelanggannya percaya untuk menggunakan jasa First Travel. Sebab terkadang orang menaruh kepercayaannya hanya karena melihat kekayaannya. “Flexing itu ternyata marketing untuk membangun kepercayaan dan menunjukkan kepada customer. Aakhirnya customer percaya dan menaruh uangnya untuk ibadah umrah, walau akhirnya banyak yang tidak berangkat, " terangnya.

 

Ditiru

Secara psikologis, tidak adanya sensitivitas orang-orang kaya yang suka pamer di media sosial dikategorikan sebagai self-absorption. Menurut Profesor Leon F. Seltzer dari Cleveland State University, Amerika Serikat, secara umum self-absorption ini identik dengan sifat mementingkan diri sendiri, serta mengesampingkan perasaan orang lain atau orang-orang di sekitarnya.

Menyedihkannya, jamak kita ketahui perilaku suka pamer itu ditiru oleh beberapa kalangan yang akhirnya terjebak flexing. Sudah sering kita mendengar cerita seorang anak orang tak berpunya, bergaya memiliki smartphone mahal yang tak terbeli orangtuanya. Berbagai upaya dia lakukan untuk bisa pamer di media sosial dengan smartphone mahal. Menjadi orang palsu yang memanipulasi penampilannya di media sosial.

Orang yang memamerkan harta biasanya terjebak pada kondisi terobsesi terus pamer. Sebuah penelitian psikologi menunjukkan, orang yang pamer kekayaan akan selalu terdorong untuk melakukan hal yang sama. Melarat tidak masalah, yang penting terlihat kaya dan digolongkan kaum sosialita. Banyak masyarakat permisif dan menganggapnya sudah menjadi hal yang lazim. Bahkan dianggap hanya sekedar lelucon di media sosial, tanpa memandang bahaya besar pengaruhnya pada kepribadian seseorang.

Tak heran seorang selebriti sekelas Paris Hilton menyebut dunia media sosial bersifat toksik. "(Jadi influencer) benar-benar jadi hal terakhir yang saya inginkan untuk anak saya. Jadi influencer di dunia saat ini, menurut saya itu sangat tidak baik. Tentu saja ada sisi baik dan buruk, tapi lebih banyak buruknya," ujarnya. Paris Hilton juga memandang bahwa media sosial membuat banyak orang merasa perlu untuk jadi sempurna sampai perlu menjadi manusia palsu.

Sobat Revmen, begitulah fenomena yang terjadi belakangan ini. Jadi apakah dengan demikian lantas kita tak patut menunjukkan pencapaian kita, misal prestasi pendidikan? Tentu tidak ada yang melarang berbagi kebahagiaan atas prestasi kita. Asal jangan flexing ya! Tidak flexing kekayaan namun flexing prestasi. Prestasinya, prestasi bodong. Siap-siaplah viral dan ditertawakan sejagat media sosial. #ayoberubah #revolusimental #pendidikankarakter #bijakbermedsos

 

Reporter : PS

Sumber :

1.     Youtube Rhenald Kasali diakses 21 Januari 2022

2.     Kompasiana diakses 21 Januari 2022

3.     Wolipop.Detik.com diakses 22 Januari 2022

 

 

 

 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: