Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Pahlawan dalam Perspektif Milenial

Masyarakat menggunakan topeng pahlawan dalam aksi "Jaga Indonesia"
  • 18 November 2021
  • 0 Komentar

Pahlawan dalam Perspektif Milenial

Kaum Milenial memiliki perspektif yang khas dalam memandang pahlawan dan kepahlawanan. 

 

Jakarta (08/11/2021) Bondan Kanumoyoso, sejarawan Universitas Indonesia (UI), menyatakan bahwa cara kita memaknai pahlawan bangsa masih meninggalkan jurang lebar dengan realitas generasi ini. Pelajaran sejarah hanya berhenti pada glorifikasi masa lalu yang tidak relevan dengan masa sekarang. Kalimat Bondan ini tentu saja bukan ingin mengecilkan peran atau bukan pula ingin melupakan sejarah para pahlawan di masa lalu. Bondan ingin menyampaikan pesan bahwa ketika zaman berubah, maka perspektif masyarakat juga berubah, termasuk dalam memaknai sosok pahlawan. Glorifikasi terhadap pahlawan perjuangan kemerdekaan tetap harus disampaikan, namun perlu diimbangi dengan memberikan informasi mengenai para pahlawan kekinian yang lebih dikenal oleh Milenial, karena ada di tengah-tengah situasi sosial mereka sekarang.

 

Saat ini, tantangan bangsa Indonesia tidak lagi dalam konteks berjuang menghadapi musuh berupa negara-negara penjajah asing. Penjajahan yang demikian merupakan tantangan satu abad hingga tujuh dekade yang lalu, ketika kolonialisme masih menjadi bagian dari interkoneksi antarbangsa. Tantangan pada masa kini, yang dinominasi oleh teknologi digital, tentu sangat berbeda. Generasi Milenial hidup pada zaman di mana penetrasi dan inovasi digital menjadi bagian dari anugerah sekaligus musibah bagi manusia masa kini. Milenial hidup pada zaman di mana narasi kepahlawanan dicatat dengan cara yang berbeda dibandingkan tujuh dekade silam. Lalu bagaimana pandangan generasi milenial mengenai pahlawan yang sesungguhnya pada masa kini?


Jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada tahun 2019 dapat menjadi batu pijakan untuk melihat bagaimana Milenial memandang pahlawan. Untuk memahami bagaimana Milenial memandang makna pahlawan, ada 3 latar belakang yang perlu dilihat terlebih dahulu, yaitu: Pertama, Persoalan bangsa yang paling membutuhkan sikap kepahlawanan. Ada berbagai persoalan bangsa yang sangat membutuhkan hadirnya pahlawan di Indonesia. Kaum Milenial menganggap penegakan hukum (36,2%) sebagai persoalan terbesar. Persoalan berikutnya adalah pluralisme dan toleransi (24,4%), pemberantasan korupsi (23,2%), kedaulatan ekonomi (5,2%), dan penanggulangan narkoba (3,7%).

 

Kedua, Kriteria paling tepat untuk mengukur kepahlawanan di masa kini. Sebanyak 26,6% Milenial mengaku bahwa kriteria untuk mengukur kepahlawanan adalah kemampuan dalam mempertahankan kesatuan bangsa. Di bawahnya secara berturut-turut dijawab dengan adanya keberanian dalam menegakan keadilan dan kebenaran (24,9%), berprestasi dan berguna bagi banyak orang (21,0%), dan berani berkorban untuk kepentingan umum (18,1%).

 

Ketiga, Sosok yang paling tepat untuk menggambarkan pahlawan masa kini. Bagi Milenial, sosok yang paling tepat untuk menggambarkan pahlawan adalah sosok yang kreatif dan inovatif di bidang teknologi informasi (32,8%), entrepreneur yang menciptakan banyak lapangan pekerjaan (11,5%), ilmuwan (11,5%), pekerja seni dan budaya yang mengharumkan nama bangsa (11,3%), tokoh agama atau spiritual (7,6%), dan para atlet yang mengharumkan nama bangsa di panggung internasional (59%).

 

Setelah melihat hasil dari jajak pendapat Litbang Kompas di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pahlawan dalam perspektif milenial adalah orang-orang yang rela berjuang dalam penegakan hukum, orang-orang yang menguasai teknologi digital, para inovator yang menelurkan gagasan dan produk keren demi Indonesia, serta para tokoh masyarakat, atlet dan penguasaha yang memiliki kemampuan dalam menjaga kesatuan bangsa, mengharumkan nama bangsa, serta mampu mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.

 

Untuk sekedar menyebut nama, maka sosok pahlawan bagi kaum Milenial dapat dilihat dalam diri B.J. Habibie, Susi Pudjiastuti dan Nadiem Makarim. B.J. Habibie dianggap oleh Milenial sebagai “bapak teknologi” yang telah memotivasi Milenial untuk menguasai teknologi agar Indonesia mencapai kemajuan. Susi Pudjiastuti dianggap sebagai sosok inspiratif yang berani membela kebenaran dan keadilan melalui gebrakan-gebrakannya saat menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Sementara Nadiem Makarim dianggap inspiratif dalam membuat terobosan baru dan mengantarkan Go-Jek sebagai startup paling sukses karya anak bangsa. Nadiem dianggap sebagai sosok muda yang mampu memberikan lepangan pekerjaan yang banyak bagi individu dan telah mengangkat UMKM dalam mengembangkan bisnis mereka.

 

Sobat Revmen, pahlawan pada masa perjuangan kemerdekaan dengan pahlawan yang hadir saat ini memang memiliki perbedaan perjuangan. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan latar belakang sejarah dan situasi sosial. Namun mereka sama-sama mulia, sama-sama berjuang demi bangsanya dan sama-sama ingin menjaga dan mengharumkan Republik Indonesia. Jika dulu para pahlawan memiliki semboyan “merdeka atau mati,” maka pahlawan zaman now mungkin bersemboyan “maju bersama menuju generasi Indonesia emas.” Sebagai individua tau bagian dari masyarakat, kita akan selalu membutuhkan sosok pahlawan untuk membantu, memberi harapan, memotivasi dan memberikan teladan untuk mengambil tindakan konkret demi memberi manfaat bagi sesama. #AyoBerubah #HariPahlawan #Integritas #IndonesiaBersatu

 

 

Referensi:

Beritasatu.com. (2019). Diakses tanggal 6 November 2021.

Detik.com. (2018). Diakses tanggal 6 November 2021.

Kompas.id. (2019). Diakses tanggal 6 November 2021.

 

 

 

Penulis: Robby Milana





Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: