Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

NONGKRONG PRODUKTIF ALA KIDS ZAMAN NOW

Sekelompok remaja sedang berdiskusi sambil nongkrong bersama
  • 15 September 2021
  • 0 Komentar

NONGKRONG PRODUKTIF ALA KIDS ZAMAN NOW

Nongkrong produktif, emang ada? Ada kok. Mark Zuckerberg dan Rex Marindo merupakan contoh nyata bahwa nongkrong, dengan krtiteria tertentu, bisa menjadi wadah yang produktif.

 

Jakarta (02/09/2021) Kegiatan nongkrong biasanya memiliki konotasi negatif. Nongkrong dianggap sebagai kegiatan bersenda gurau yang hanya membuang-buang waktu. Tidak jarang nongkrong dijadikan sebagai wadah julid dan ghibah. Sambil bercanda, para peserta nongkrong senang membicarakan keburukan orang lain yang belum tentu terbukti kebenarannya. Seseorang menyatakan, “Gue denger si Mawar (bukan nama sebenarnya) sering pulang malem. Kira-kira ngapain tuh?” Teman yang lain merespon, “Mungkin sekarang dia menjadi peliharaan om-om tajir kalleee!” Meski dimulai dengan bercanda, namun efek julid dan ghibah bisa berdampak buruk bagi orang yang berghibah dan yang dighibahi. Karakter semacam ini yang perlu diubah, termasuk mengubah nongkrong menjadi wadah yang lebih produktif.

 

Namun jangan khawatir. Sebab pada era sekarang semakin banyak kaum muda yang sadar dan menjadikan nongkrong sebagai kegiatan positif, bahkan produktif. Saat nongkrong, mereka berdiskusi untuk melahirkan gagasan dan inovasi-inovasi brilian yang memiliki manfaat luas. Bagi anak-anak muda yang demikian, nongkrong bukan lagi tempatnya julid, tapi dimanfaatkan menjadi “universitas terbuka” guna menggali potensi dan kemungkinan-kemungkinan yang menghasilkan, baik menghasilkan ilmu, pengalaman maupun uang.

 

Sebelum kita terlalu jauh, mari kita jawab sebuah pertanyaan ini: apa sih artinya nongkrong? Jika menggunakan definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, nongkrong atau menongkrong memiliki arti: (1) Berjongkok, (2) Duduk-duduk saja karena tidak bekerja. Namun secara budaya, nongkrong dapat kita artikan sebagai kegiatan berkumpul bersama teman, keluarga atau kerabat. Saat menongkrong, materi pembicaraan apapun dapat keluar. Pada konteks inilah sebetulnya bagi orang tertentu nongkrong dapat dijadikan sebagai medium untuk mencari gagasan. Namun gagasan tentu akan sulit muncul jika teman menongkrongnya bukan orang-orang yang memiliki pikiran positif.

 

Jika melihat sejarah Mark Zuckerberg sebelum mendirikan Facebook, Mark kerap nongkrong bersama teman-temannya di Universitas Harvard. Namun Mark adalah sosok yang produktif. Dia nongkrong karena memiliki tujuan untuk mengembangkan minat atau bakatnya dalam bidang programming. Mari lihat juga contoh yang ditunjukan oleh Rex Marindo. Karena hobi nongkrongnya yang produktif, pria kelahiran Palembang ini berhasil membangun sebuah “kerajaan kuliner” yang saat ini telah memiliki 80 cabang Warunk Upnormal, 25 cabang Bakso Boedjangan, 12 cabang Nasi Goreng Mafia dan 6 restoran Sambal Karmila.

 

Kita bisa memperpanjang daftar nama-nama orang sukses sebagaimana contoh di atas untuk membuktikan bahwa nongkrong dapat menjadi medium yang produktif jika memiliki tujuan. Tujuan utama nongkrong tentu saja untuk melakukan silaturahmi, atau bahasa keren sekarang disebut dengan istilah “membangun networking.” Silaturahmi juga mirip dengan kolaborasi, dan kolaborasi sejalan dengan semangat gotong royong. Dalam proses silaturahmi dan kolaborasi itu, nongkrong dapat menjadi tempat bertukar pikiran, berbagi ide dan menguji gagasan. Ini yang disebut dengan nongkrong produktif.

 

Beberapa kriteria nongkrong yang produktif adalah: Pertama, jadikan nongkrong sebagai wadah diskusi serius, namun dengan suasana yang santai. Sebelum nongkrong bersama teman, janjikan terlebih dulu ada tema atau materi yang ingin dibahas, entah tema bisnis, sosial, budaya, hingga politik. Namun sebaiknya pilih tema yang dapat dijadikan sebagai konsep yang mampu dieksekusi secara konkrit.

 

Kedua, jadikan nongkrong sebagai tempat setting produksi pembuatan vlog. Ibarat sambil menyelam minum air, nongkrong sambil shooting vlog bukan hanya seru, tapi juga mampu menghasilkan pendapatan. Bahkan karena sambil menongkrong, suasana shooting dapat menjadi sangat cair. Hal ini bagus untuk menangkap visualisasi yang lebih natural.

 

Ketiga, jadikan nongkrong sebagai tempat untuk memulai bisnis kecil atau melahirkan inovasi baru. Sebagai contoh, pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, masyarakat sangat membutuhkan inovasi dalam bidang kesehatan, seperti alat pendeteksi virus yang lebih sederhana namun efektif, vaksin yang memiliki efikasi lebih tinggi, atau (yang belum ada) obat anti-virus Corona. Contoh ini bisa kita perpanjang ke bidang lain, seperti ke sektor pertanian, sektor lingkungan hidup, sektor perikanan, dan lain-lain.

 

Keempat, jadikan nongkrong sebagai tempat melahirkan solusi-solusi terhadap berbagai masalah yang sedang dialami masyarakat. Contoh nyatanya dapat kita lihat pada anak-anak muda di Zero Waste Indonesia yang melahirkan terobosan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik, Sayurbox yang berusaha memberikan solusi bagi para petani, atau Aruna yang berupaya memberikan solusi bagi para nelayan. Kepedulian kita pada sesama dapat menjadi ladang subur tumbuhnya gagasan dan konsep awal munculnya terobosan baru.

 

Sobat Revmen, apapun kegiatan yang kita lakukan, sepanjang kita memiliki tujuan yang baik, maka akan memberikan manfaat. Selama ini kegiatan nongkrong memiliki stigma yang negatif. Namun bagi beberapa orang, nongkrong justru dimanfaatkan untuk melahirkan gagasan dan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi orang banyak. Nongkrong dapat menjadi wadah yang produktif jika dilakukan di atas fondasi nilai-nilai etos kerja dan gotong royong. #AyoBerubah #RevolusiMental #GerakanIndonesiaMandiri

 

Referensi:

Finansialku.com. (2018). Diakses tanggal 20 Agustus 2021.

Kompas.com. (2021). Diakses tanggal 20 Agustus 2021.

Ugm.ac.id. (2019). Diakses tanggal 20 Agustus 2021.

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: