Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Nilai Pendidikan Karakter dalam Budaya Panji

budaya panji, cerita rakyat, pendidikan karakter
  • 09 Maret 2022
  • 0 Komentar

Nilai Pendidikan Karakter dalam Budaya Panji

Pengaruh sastra Jawa pada kesusastraan Asia Tenggara sangat besar lewat penyebaran dongeng Panji. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya sangat layak diadopsi untuk penguatan pendidikan karakter.

 

Jakarta (04/03/2022) Sobat Revmen, masih ingat cerita rakyat seperti Keong Emas, Ande-ande Lumut, atau Golek Kencana? Atau tokoh cerita semacam Panji Asmarabangun, Raden Inu Kertapati, Dewi Sekartaji, Klething Kuning,  Galuh Candrakirana, Panji Semirang,  Panji Laras, Kuda Narawangsa? Semoga masih ingat ya, sebab masih banyak nama lain yang semuanya adalah turunan dari cerita Panji.

Dikutip dari budayapanji.com, secara umum cerita Panji dipahami sebagai kisah percintaan antara Raden Panji Asmarabangun atau Panji Inukertapati dari kerajaan Jenggala dengan Dewi Sekartaji atau Dewi Candrakirana dari kerajaan Panjalu atau Kadiri. Mereka sudah dijodohkan sejak kecil oleh orangtuanya karena dua kerajaan itu sebetulnya berasal dari satu kerajaan yang sama dan kedua rajanya masih memiliki hubungan saudara.

Namun jalinan kisah-kasih mereka tidaklah semulus yang direncanakan. Ada saja halangan, godaan, tantangan dan berbagai cobaan sehingga terjadilah petualangan, pengelanaan, penyamaran, peperangan, dan berbagai kisah lainnya sehingga Cerita Panji mewujud dalam banyak sekali versinya. Dan versi ini pun menyebar di beberapa tempat di Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina.

Menurut Hendry Nurcahyo, inisiator Pusat Konservasi Budaya Panji, cerita Panji menyebar dari Jawa Timur ke berbagai daerah dan negara dengan cara sendiri. Akhirnya menyebabkan terjadinya perbedaan perspektif satu pencerita dengan pencerita lain. Kisah Panji di Thailand disebut Inao. Seperti juga di Thailand, cerita Panji Kamboja dinamakan cerita Inao atau Eynao dan Bossaba. Sebagaimana yang dicermati Poerbatjaraka, Eynao adalah nama lain dari Inu atau Hino, sebuah nama atau gelar Panji. Sedangkan Bossaba, puteri raja Daha, merupakan pergeseran penyebutan dari Puspa yang berarti sekar  atau bunga.

Di Thailand, sebagaimana disampaikan Rujaya Abhakorn, direktur Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Archaeology and Fine Arts (SEAMEO SPAFA), Kisah Panji pertama kali disusun oleh dua putri Raja Borommakot (1733-1758) dari Ayutthaya. Kedua putri itu mendapatkan Kisah Panji versi Jawa lewat pelayan mereka yang berasal dari tanah Melayu. Masing-masing putri kemudian menyusun cerita versi mereka sendiri ke dalam dua bentuk yang digunakan untuk drama tari, yaitu Dalang dan Inao.

 

Revolusi Kesusastraan

Di tahun 2017, UNESCO menetapkan Manuskrip cerita Panji sebagai Memory of the World. Hal ini menurut Poerbatjaraka, merupakan revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama yaitu India. Dan yang lebih menarik lagi, ternyata ditemukan 20 situs purbakala di Jawa Timur yang berkaitan dengan cerita Panji ini. Bahkan, patung Panji itu sendiri pernah ditemukan di sebuah candi di lereng Penanggungan.

Dikutip dari Indonesia.go.id menurut UNESCO, cerita Panji menandai sebuah perkembangan sastra Jawa yang tidak lagi dibayangi oleh India, di mana epos besar Ramayana dan Mahabharata yang dikenal di Jawa sejak abad ke-12. Di masa Kerajaan Majapahit, yaitu kisaran abad 14-15, cerita Panji sangat populer. Melalui perjalanan laut, cerita ini disebarkan oleh para pedagang, dari Pulau Jawa ke Bali, Melayu, kemudian ke Thailand, Myanmar, Kamboja, dan mungkin juga ke Filipina.

Lebih jauh, UNESCO bahkan mengakui kuatnya pengaruh sastra Jawa itu sebagaimana yang telah dilukiskan oleh Adrian Vickers sebagai “Peradaban Panji di Asia Tenggara”. Sebuah tradisi sastra dan budaya yang lebih luas dari cerita Panji segera menyebar ke luar Pulau Jawa hingga Asia Tenggara, dan hingga sekarang tetap menjadi kekayaan budaya dan sastra regional yang unik.

Di tahun 2018, berkat pengakuan UNESCO, Indonesia mengelar Festival Panji Internasional untuk pertama kalinya. Sementara, Festival Budaya Panji sudah dilakukan sebelumnya di tahun 2017. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Muhadjir Effendy sangat berharap agar cerita Panji bisa dikemas menjadi ekstra kurikuler wajib di sekolah, sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter berbangsa.

Dikutip dari akurat.co, pemerintah telah membuat UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Undang-undang itu menjadi titik tolak untuk melangkah lebih jauh dan membangun kebudayaan Indonesia. Disebutkan, dalam pendidikan, kebudayaan menjadi fondasi. Hal ini juga sesuai dengan arah pembangunan nasional kebudayaan di Indonesia, yang menekankan penguatan jati diri dan karakter bangsa, dimana karakter bangsa harus dibangun sungguh-sungguh.

Menurut Muhadjir yang kini adalah Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK),  pembangunan karakter bangsa harus merupakan usaha sadar, terarah, dan sistematis. Dengan demikian karakter mencerminkan jati diri, sifat perilaku yang dilandasi nilai luhur.

"Setiap pembangunan harus pikirkan keterkaitan dan dampaknya dalam pendidikan karakter, sehingga dapat diharapkan karakter yang terbentuk nantinya akan mengarah ke hal positif, jati diri dan karakter bangsa bisa dirasakan dampaknya. Jika baik, akan terasa dalam kehidupan berbangsa dan sehari-hari," ujar Muhadjir Effendy kala itu seraya mengingat kisah Panji Laras. Kisah Panji Laras mendorongnya rajin mengaji saat kecil.

Panji Laras adalah anak laki-laki yang hidup di sebuah hutan hanya dengan ibunya. Dia memiliki peliharaan seekor ayam jago bernama Cinde Laras. Suatu ketika Panji Laras bertanya perihal siapa ayahnya. Maka ibunya membuka rahasia bahwa ayahnya adalah seorang Raja di Jenggala. Singkat cerita Panji Laras berangkat ke kota, membawa ayam jagonya untuk diikutkan dalam adu jago di istana, dan menang. Pada akhirnya, Raja mengetahui bahwa ia menemukan anaknya.

Cerita Panji Laras ini memang terdapat di beberapa daerah dengan versi yang berbeda. Di Surabaya dikenal dongeng Sawung Galing, yang inti ceritanya juga sama seperti itu. Di Tulungagung  ada bukit bernama Gunung Kunjung (Kuncung) Panji Laras yang dipercaya sebagai petilasan Panji Laras. Begitulah folklor, selalu ada keberagaman.

Kisah Panji Laras adalah turunan kesekian dari pangkal cerita Panji. Namun, dapat disimpulkan berbagai keutamaan karakter baik menonjol pada sosok Panji yakni berani dan tak gentar menghadapi  bahaya. Selalu  adil, jujur, saleh, dan sabar bukan  pendendam. Demikian juga sebaliknya pada sosok Chandra Kirana, selalu digambarkan sebagai perempuan yang santun, setia, pintar, dan pemberani. Banyak penelitian di Indonesia yang membedah budaya Panji yang memiliki nilai-nilai penguatan pendidikan karakter.

 

Reporter PS

Sumber

Budayapanji.com diakses 1 Maret 2022

Indonesia.go.id diakses 2 Maret 2022

Akurat.co diakses 2 Maret 2022

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: