Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

NETIZEN KEREN, NETIZEN YANG BERINTEGRITAS

Seorang remaja sedang mengakses media sosial melalui handphone
  • 06 April 2021
  • 0 Komentar

NETIZEN KEREN, NETIZEN YANG BERINTEGRITAS

Microsoft merilis survei Digital Civility Index (DCI) atau Indeks Keberadaban Digital yang mengukur tingkat keberadaban pengguna internet. Menurut survei DCI tahun 2020, pengguna internet Indonesia dianggap sebagai salah satu yang paling tidak sopan.

 

Jakarta (09/03/21) Microsoft menggelar survei pada 22 April hingga 5 Mei 2020 kepada 16.051 responden berusia 18-74 tahun dari 32 negara di dunia. Metode survei dilakukan secara digital dengan teknik sampling non probably sampling. Dari jumlah responden 16.051, terdapat sebanyak 503 orang berasal dari Indonesia. Skor DCI berkisar pada skala 0-100 poin. Semakin rendah nilainya, maka tingkat kesopanan makin tinggi, begitu pula sebaliknya. Menurut hasil survei, Indonesia mendapatkan skor 76 atau ranking ke 29 dari 32 negara. Negara yang memperoleh ranking paling rendah atau ranking ke 32 secara global adalah Afrika Selatan.

 

Di tingkat Asia, skor tersebut menempatkan Indonesia berada di posisi paling buncit atau “paling tidak sopan di dunia maya.” Posisi paling sopan ditempati oleh Singapura (59), kemudian disusul oleh Taiwan (61), Malaysia (63), Filipina (66), Thailand (69) dan Vietnam (72). Tiga poin tertinggi dalam mengukur tingkat kesopanan netizen Indonesia adalah mengenai hoaks dan scam, ujaran kebencian dan deskriminasi.

 



Setelah melihat hasil rilis itu, netizen Indonesia ramai-ramai menyampaikan respons ketidaksetujuannya di kolom komentar akun Instagram Microsoft. Kejadian ini sempat menjadi tranding topic nasional beberapa waktu lalu. Protes paling banyak yang disampaikan oleh netizen adalah mengenai sample bahwa responden tidak mewakili pengguna internet yang sebenarnya di Indonesia. Menanggapi hal ini, pengamat media sosial, Enda Nasution, menyatakan bahwa daripada memperdebatkan apakah hasil penelitian ini dapat digenerasilisasi atau tidak, lebih baik menanggapinya sebagai sarana untuk bercermin dan memperbaiki diri.

 

Mirip dengan pendapat Enda Nasution, Pakar Budaya dan Komunikasi Digital Firman Kurniawan menilai hasil survei DCI ada benarnya. Firman kemudian melihatnya dalam konteks Pilpres dan Pilkada dimana ujaran kebencian, hoaks, dan bullying ramai di jagat maya Indonesia.

 

Meski demikian, survei DCI Microsoft bukan satu-satunya survei yang dilakukan terhadap netizen Indonesia. Sebelumnya telah ada beberapa survei lain yang justru menunjukan hasil positif. Survei The Smiling Report yang dirilis pada tahun 2009 oleh AB Better Business yang berbasis di Swedia menyatakan bahwa netizen Indonesia adalah orang-orang yang paling murah senyum. Sementara survei Pew Research tahun 2019 menunjukan orang Indonesia sebagai masyarakat paling relijius. Dan survei yang dilakukan Charities Aid Foundation (CAF) tahun 2018 menunjukan hasil bahwa orang Indonesia paling murah hati. Bahkan dalam survei CAF ini, Indonesia menempati urutan pertama dari 146 negara dengan sample sebanyak 150 ribu responden.

 

Tentu saja ini bukan persoalan survei, melainkan persoalan karakter netizen saat berkomunikasi dan berinteraksi di dunia maya. Meski banyak survei yang menunjukan hasil positif, namun survei DCI dapat dijadikan sebagai salah satu referensi untuk bercermin.

 

Sobat Revmen, dunia maya bukan sekedar dunia tanpa resiko. Sebaliknya, dunia maya sarat dengan resiko karena memiliki implikasi nyata. Mari bijak dalam menggunakan media sosial. Hati-hati dengan jari, sebab ada UU ITE yang menanti. Sudah banyak contoh netizen yang dipidana karena pencemaran nama baik, ujaran kebencian dan hoax.. #AyoBerubah #IndonesiaBerintegritas.

 

Referensi:

Microsoft.com, 05/02/21

Kumparan.com, 24/02/21

Inet.detik.com, 05/04/21

 

Reporter: Robby Milana

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: