Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Moderasi Beragama di Ponpes Wali Sanga Ende

GIBersatu, Pancasila, Pondok pesantren
  • 09 Juni 2022
  • 0 Komentar

Moderasi Beragama di Ponpes Wali Sanga Ende

Para calon imam Katholik bertahun-tahun  menjadi tenaga pengajar di pondok pesantren ini.

Jakarta (9/06/2022), Bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Sanga Ende terletak di bawah kaki gunung Meja, Kecamatan Ende Selatan, Ende, NTT. Suasana alam yang indah dengan latar belakang panorama Gunung Meja, membuat ponpes ini semakin menawan.

Pendirian Pesantren Wali Sanga Ende dirintis oleh KH. Mahmud Eka, seorang pengamal thareqat Qadiriyah-Naqsabandiyan. KH Mahmud Eka merintis ponpes ini bersama sahabatnya yang kebetulan ayah kandung budayawan Taufiq Rahzen.

Dikisahkan oleh budayawan Ngatawi Al-Zastrouw, seperti dikutip editor.id, salah satu putri KH Mahmud Eka, Nyai Halimah menceritakan bagaimana ayahnya mendapat fitnah keji sampai acaman fisik saat merintis berdirinya pesantren yang mengajarkan Islam yang damai dan moderat.

“Tapi semua itu tak menyurutkan niat abah untuk terus berjuang merintis pendirian ponpes ini,” tutur Nyai Halimah.

Yang menarik dari Ponpes Wali Sanga Ende ini menurut Ngatawi Al-Zastrouw adalah praktik hidup toleransi dan moderasi beragama. Di pesantren ini, moderasi dan toleransi tidak diajarkan sebagai pengetahuan atau norma-nomra tekstual, tetapi dipraktikkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan  frater atau calon imam Katholik yang ikut membantu menjadi tenaga pengajar dan tinggal di pesantren.

Di tahun 2021, dalam kunjungannya ke pesantren ini, Kepala Badan pembinaan Ideologi Pancasila, Yudian Wahyudi terkesima ketika mendapati seorang guru di Pesantren Wali Sanga yang ternyata seorang Frater. “Saya tentu saja terkejut. Untuk sebuah kota kecil, saya kaget, maka tadi saya bandingkan dengan pengalaman saya di Amerika dan Jerman. Saya kagum, luar biasa itu. Itu bagian dari kerjasama yang bagus, gotong royong, dan hubungan antar-agama,” tuturnya seperti dikutip Endenews.com

Saat itu, Frater Yansen Omas SVD, calon imam Katolik yang mengajar di Ponpes Wali Sanga mengungkapkan kebahagiaannya menjadi guru di ponpes. Posisinya sebagai guru di Ponpes Wali Sanga merupakan kerjasama antara pihak SVD atau Societas Verbi Divini dengan Pesantren. Dalam kerjasama ini SVD mengirimkan satu orang Frater menjadi guru setiap tahun. Biasanya, Frater yang ditugaskan akan mengajar selama 1 tahun.

Mengenai pelajaran yang diajarnya, kata dia, pihak SVD menyesuaikan dengan permintaan guru dari Pesantren. Kali ini, untuk Frater Yansen, dia tugasi mengajar pelajaran Bahasa Inggris untuk tingkat MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan MA (Madrasah Aliyah).

Selama menjadi guru di Ponpes Wali Sanga, Frater Yansen mengungkapkan beberapa hal yang amat dia rasakan berbeda dengan sekolah umum. Di Wali Sanga pendidikan karakter merupakan hal utama yang diajarkan di kelas dan keseharian para santri. “Di sini memang adab lebih tinggi dari ilmu. Jadi yang paling pertama itu dibina adabnya, etikanya. Jadi ketika anak itu sudah memiliki adab yang baik, maka ilmu itu masuk dengan baik,” lanjut Frater Yansen.

Dikisahkan pula oleh Ngatawi Al-Zastrouw, para frater yang bertugas di ponpes ini tidak hanya membantu pendidikan untuk peningkatan skill dan pengetahuan para santri, tetapi juga di bidang spiritual dan ritual.  Misalnya, bertugas membangunkan para santri untuk salat tahajut dan salat subuh.

Nyai Halimah juga mengisahkan bahwa pesantren ini sering kekurangan logistik. Maklum hampir semua santri yang ada belajar dengan gratis, hanya beberapa orang yang mampu saja yang membayar. “Kami sering sedih ketika cadangan logistik menipis dan belum ada kiriman dari donatur. Pada saat seperti ini saya hanya bisa berdoa, dan seringkali tiba-tiba datang kiriman beras dan kebutuhan lain dari seminari, biara Santo Yosef, dan gereja untuk para santri”, kisahnya dengan suara yang makin serak menahan haru.

Ada kisah menarik dari bu Nyai Halimah, banyak orang tua santri yang selama anaknya belajar di ponpes belum pernah sekalipun datang ke pondok menemui pengasuh. Dia sering sedih saat melepas santri yang telah lulus tapi orang tuanya belum pernah sekalipun datang ke pondok. “Tapi saya maklum, karena untuk datang ke sini diperlukan biaya, sedangkan mereka rata-rata dari keluarga tidak mampu,” tuturnya.

Ngatawi Al-Zastrouw mengaku sangat mengagumi ponpes ini. “Terus terang saya merasa kagum pada pesantren ini, yang mampu menanamkan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama sejak dini melalui laku hidup. Di pesantren ini kami melihat Pancasila begitu indah dan nyata,“ pungkasnya.

*ps

Sumber ; editor.id dan endenews.com diakses 6 Juni 2022

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: