Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

MERAWAT TOLERANSI ALA KOMUNITAS SABANG MERAUKE

Komunitas Sabang Merauke
  • 05 Juli 2021
  • 0 Komentar

MERAWAT TOLERANSI ALA KOMUNITAS SABANG MERAUKE

Toleransi tidak hanya diajarkan, melainkan harus dialami dan dirasakan. Memberikan pengalaman bertoleransi secara langsung inilah yang diwujudkan oleh komunitas Sabang Merauke.

 

Jakarta (27/05/2021) Ada dua hal menarik mengenai Komunitas Sabang Merauke. Pertama adalah frasa Sabang Merauke itu sendiri, yang memang menjadi metafora bagi bentangan wilayah Indonesia dari ujung Barat ke ujung Timur. Kedua adalah komunitas non-profit ini menanamkan nilai solidaritas, toleransi atau kebhinekaan melalui pertukaran pelajar yang dilakukan setahun sekali.

 

Komunitas Sabang Merauke berdiri sejak tahun 2012 dengan kegiatan utama melakukan program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia dengan tujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi. Nama Sabang Merauke dipilih karena selain merupakan simbol keberagaman Indonesia, juga merupakan akronim dari "Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali.”

 

Cita-cita komunitas ini adalah untuk mewujudkan indonesia menjadi negeri yang lebih damai dan toleran dengan membawa tiga nilai utama, yaitu tentang toleransi, cinta indonesia dan pendidikan. Dalam menjalankan programnya, Sabang Merauke berpedoman pada modul 12 nilai perdamaian (Peace Generation) yang di antaranya adalah penerimaan diri (proud to be me) menjauhi prasangka (no suspicion, no prejudice), dan memahami keberagaman yang ada sebagai indahnya perbedaan (the beauty of diversity).

 

Sabang Merauke mengajak anak-anak terpilih dari berbagai penjuru nusantara untuk merantau selama tiga minggu di Jakarta, serta tinggal dan beraktivitas bersama “orang tua angkatnya” yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Melalui program ini, para peserta dapat meresapi nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan sehingga mampu mengamalkannya dengan menjadi duta perdamaian sekembalinya ke daerah asal masing-masing.

 

Peserta program terdiri dari 3 kategori, yaitu: Pertama, Adik Sabang Merauke (ASM). Peserta ASM adalah para pelajar SMP kelas VII atau VIII yang dipilih dari berbagai SMP di Indonesia, dengan jumlah setiap sekolah mencapai 10-15 pelajar. Kemudian para pelajar ini diberangkatkan ke Jakarta untuk tinggal selama 3 minggu di rumah “orang tua angkat.”

 

Kedua, Kakak Sabang Merauke (KSM). KSM merupakan para mahasiswa aktif yang sedang berkuliah minimal duduk di semester dua dan tinggal di wilayah Jabodetabek. KSM akan menemani ASM menjadi mentor untuk melakukan berbagai aktivitas bersama, seperti berkunjung ke museum, bermain ke taman-taman hiburan atau berkunjung ke tempat-tempat ibadah.

 

Ketiga, Famili Sabang Merauke (FSM). FSM adalah “orang tua angkat” yang tinggal di wilayah Jabodetabek. Di rumah FSM inilah para ASM akan tinggal selama 3 minggu. FSM berperan sebagai keluarga asuh dan bersedia mengajarkan ASM selama program berlangsung. Dalam konsep Sabang Merauke, FSM dipilih berdasarkan keluarga yang memiliki latar belakang suku atau agama yang berbeda dengan ASM. Dengan demikian ASM akan melihat bagaimana sesungguhnya karakter asli dari orang yang memiliki latar belakang berbeda itu. Nantinya, informasi yang didapatkan berdasarkan pengalaman nyata ini akan diceritakan kembali oleh ASM ketika kembali ke daerahnya masing-masing. ASM menjadi duta-duta toleransi yang diharapkan dapat merajut kebhinekaan di Indonesia di masa depan.

 

Komunitas Sabang Merauke membuka pendaftaran untuk siapapun yang ingin menjadi peserta program melalui akun Instagram resminya di https://www.instagram.com/sabangmerauke/?hl=en. Namun sejak pandemi Covid-19 menyerang, komunitas Sabang Merauke mengajak 100 pelajar SMP dari seluruh Indonesia untuk mengenal toleransi lewat program Belajar Online Bareng Sabang Merauke 2020 (BOBA SM 2020). Kelas daring yang baru pertama kali dilakukan Sabang Merauke ini adalah bentuk konsistensi Sabang Merauke selama delapan tahun terakhir untuk menyuarakan nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan.

 

Sobat Revmen, merawat toleransi di tengah sebuah negara besar yang memiliki latar belakang multikultural merupakan hal penting yang harus dilestarikan. Hal ini demi menjaga keharmonisan, kedamaian, sikap saling menghargai dan sikap suportif antar sesama anak bangsa. Dalam keseharian, Sobat Revmen juga dapat melakukannya, misalnya dengan cara menghargai perbedaan pendapat saat berdiskusi di rumah, memberi anak informasi objektif jika di jalan bertemu orang yang memiliki ciri-ciri fisik berbeda, atau berikan anak informasi mengenai ragam agama dan cara beribadah dari agama yang berbeda-beda. #AyoBerubah

 

 

Referensi:

 

Kumparan.com. (2017). Available at: https://kumparan.com/kumparannews/belajar-arti-toleransi-dari-komunitas-sabang-merauke/full. Diakses tanggal 21 Mei 2021.

 

Majalahcsr.id. (2017). Available at: https://majalahcsr.id/pendidikan-karakter-bagi-anak-sabang-merauke/.  Diakses tanggal 21 Mei 2021.

 

Rumahmillennials.com. (2018). Available at: https://rumahmillennials.com/2018/03/28/terus-merawat-toleransi-bersama-sabangmerauke-pendaftaran-dibuka/#.YKe_tKgzbIU. Diakses tanggal 21 Mei 2021.

 

Tempo.co. (2020). Available at: https://gaya.tempo.co/read/1359341/belajar-mengenal-toleransi-dari-kelas-daring-sabang-merauke. Diakses tanggal 21 Mei 2021.

 

Womantalk. (2018). Available at: https://womantalk.com/news-update/articles/komunitas-sabangmerauke-upaya-menjaga-kebhinekaan-indonesia-lewat-pertukaran-pelajar-A7kbb. Diakses tanggal 21 Mei 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: