Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Menumbuhkan Tunas Generasi Emas

pemuda, timnas u-16
  • 16 Agustus 2022
  • 0 Komentar

Menumbuhkan Tunas Generasi Emas

Oleh Anwar Hudijono

Terima kasih Skuad Garuda Asia. Terima kasih Bima Sakti. Terima kasih pula PSSI. Ketiganya memegang kuci sukses Timnas U-16 yang dijuluki Garuda Asia meraih gelar juara Piala AFF U-16 2022, setelah di final yang berlangsung di Stadion Maguwoharjo Yogyakarta, Jumat (12/8/2022) membekuk Vietnam 1-0. Gol tunggal itu dicetak Kafiatur Rizky.

 Sukses ini laksana seteguk air di tengah kehausan. Bukankah sudah sangat lama penggemar bola Tanah Air merindukan gelar juara.

Adalah Bima Sakti Sukiman, pelatih muda yang sukses menukangi tim ini dengan strategi yang diilhami salat jamaah. Dalam salat jamaah itu ada pakem (aturan) wajib. Misalnya, imam (pemimpin) itu hanya satu. Imam tidak boleh dikudeta. Barisan (shaf) harus lurus rapat. Tidak boleh meninggalkan jamaah kecuali batal. Makmum tidak boleh menudului imam. Dalam shalat itu seluruh tahapan ada aturan mainnya.Tidak boleh karena terburu-buru lantas melewati tahapan.

Bima Sakti membina mental disiplin sangat ketat bahwa setiap pemain wajib ikut salat jamaah. Kalau tidak ikut jamaah kena denda Rp 100.000. Jika masbuk (telat dan ketinggalan rakaat) dendanya Rp 50.000.  Disiplin adalah salah satu kunci sukses sebuah tim.

Dengan salat jamaah ini membina kekompakan. Bergerak dalam satu komando sang imam. Tidak boleh kok makmum melakukan improvisasi dengan nyanyi atau duduk-duduk dulu. Apalagi ngupi-ngupi. Pada akhirnya disiplin, kompak, membentuk satu pasukan yang kokoh.

Bisa jadi, Bima Sakti yang sejak jadi pemain terkenal saleh seperti pemain Liverpool asal Mesir, Mohamed Salah, ini sudah memahami Quran surah As Shaf 4.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Bima Sakti bisa jadi menerjemahkan ayat ini untuk sepak bola. Dan itu sangat tepat. Ayat itu secara tekstual memang bicara tentang pasukan perang. Tetapi secara kontekstual bisa diterjemahkan dalam aspek kehidupan lain seperti manajemen, organisasi, juga sepak bola.

Syarat mutlak

Tentu saja strategi Bima Sakti tidak akan cukup efektif jika tidak diterima pemain secara utuh lahir batin. Ini syarat mutlak. Sangat miriplah dengan pedoman proses belajar membelajarkan yang diterangkan kitab Ta’lim al Muta’allim.

Pertama-tama pemain sangat tawadlu (tunduk dan patuh) kepada Bima. Hal ini bisa terjadi jika ada kepercayaan, trust. Dan Bima Sakti harus menjaga trust itu juga dengan memberi teladan.

Tak bisa dipandang sebelah mata adalah peran PSSI yang all out dalam mendukung Garuda Asia ini. PSSI berani memberi kesempatan pelatih muda seperti Bima Sakti. Memberi dukungan all out. Pada saat TC kekurangan ofisial, PSSI langsung menambah. Saat kekurangan tenaga kesehatan, termasuk pemijat,  langsung memenuhi.

 Penanganan secara all out ini termasuk kunci penting untuk menggapai sukses. Tidak bisa mengharap tim mempersembahkan gelar juara dengan penanganan yang mediokritas alias setengah-setengah. Tidak bisa lagi menggunakan visualisasi profesionalisme tetapi di dalamnya amatiran.

Dan penanganan secara all out ini harus dijadikan referensi atau bahkan kredo untuk menumbuhkan tunas-tunas muda ini menjadi generasi emas Indonesia. Ke depan mereka ini didambakan dapat mempersembahkan emas untuk level Asia. Bukan lagi cuma di SEA Games. Kalau cuma emas di SEA Games itu mah tidak seksi.

Bahkan sudah harus berani pasang target lolos  ke Piala Dunia. Masyarakat sudah sangat rindu melihat tim kebanggaannya tampil di Piala Dunia. Mosok setiap  event final Piala Dunia, Indonesia hanya dikenal sebagai pemegang rekor dunia nobar.

Penanganan yang all out, terprogram dan konsisten ini juga untuk menepis mitos bahwa prestasi anak-anak Indonesia itu mentok di usia 16 tahun. Tapi setelah itu cenderung macet atau bahkan langsir (mundur).

Suatu contoh Indonesia pernah menjadi juara Pelajar Asia. Publik mengharap pemain-pemain seperti Frank Sinatra Huwae, Noah Marien, Theodorus Bitbit menjadi tunas  untuk Indonesia emas. Tapi sayang pemain-pemain asuhan pelatih asal Jerman Bukard Pape ini gagal menjadi generasi emas.

Negara-negara raksasa sepak bola seperti Brasil, Argentina, Jerman, Portugas, Spanyol menjaga tunas dengan penanganan yang saksama. Seperti bisanya mereka akan menjadi tulang punggung timnas senior. Portugal dengan kapten Ronaldo meraih juara Piala Eropa berintikan pemain-pemain yunior yang mempersembahkan emas Piala Dunia Yunior. Skuad Brasil di Piala Dunia 2022 ini juga sekitar 40 persen pemain Golden Team belia.

Sekarang Indonesia sudah memiliki (menambah) skuad tunas untuk menjadi Indonesia emas. Jagalah mereka.  Tumbuhkan dan tumbuhkan!

* Anwar Hudijono, Wartawan Senior

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: