Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

MENUMBUHKAN SIKAP TOLERANSI SEJAK DINI

Anak berbudaya Tionghoa belajar bersama dengan anak muslim
  • 27 Mei 2021
  • 0 Komentar

MENUMBUHKAN SIKAP TOLERANSI SEJAK DINI

Salah satu butir dalam Deklarasi Prinsip Toleransi UNESCO tahun 1995 dikatakan bahwa toleransi adalah tanggung jawab untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia, pluralisme, demokrasi dan supremasi hukum.

 

Jakarta (20/05/2021) Indonesia adalah negara multikultural. Menurut data BPS (2010) Indonesia memiliki 300 kelompok etnis, 1.340 kelompok suku bangsa, 718 bahasa daerah, dan 6 agama besar. Keragaman ini semakin unik jika dimasukan pula tradisi dan adat istiadat yang sangat banyak jumlahnya, termasuk fashion, makanan tradisional, tarian, alat musik dan lain-lain. Oleh karena beragamnya kultur di tengah masyarakat, untuk dapat hidup berdampingan secara harmonis diperlukan sikap toleran, sebagaimana yang telah dikandung di dalam nilai-nilai Pancasila dan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Tanpa sikap toleran, Indonesia akan selalu dibayangi oleh ketegangan dan konflik di tengah masyarakat.

 

Menurut Deklarasi Prinsip Toleransi UNESCO tahun 1995 terdapat salah satu butir deklarasi yang berisi mengenai arti dari toleransi, yaitu toleransi adalah tanggung jawab untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia, pluralisme, demokrasi dan supremasi hukum. Itu artinya, sikap toleran adalah sikap saling menghargai dan bertenggang rasa atas perbedaan budaya, suku, ras, etnik dan agama. Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sika toleran perlu ditanamkan kepada individu sejak dini untuk: (1) mengajarkan anak berpikiran terbuka terhadap budaya lain dan dunia, (2) mendorong anak untuk belajar bekerjasama dengan orang lain, (3) mengajarkan anak untuk menerima orang lain apa adanya, dan (4) mengajarkan anak untuk menghargai orang lain tanpa harus menanggalkan identitas diri dan kebudayaan.

 

Penanaman sikap toleran perlu dilakukan sejak dini agar seorang individu dapat memahami dan mampu menginternalisasikannya secara nyata. Bisa karena terbiasa. Jika individu sudah terbiasa bersikap toleran sejak dini, maka bukan hal yang sulit untuk menebarkan toleransi dalam kehidupannya.

 

Lalu bagaimana cara menumbuhkan sikap toleran? Dalam buku Seri Pendidikan Orang Tua yang dibuat oleh Kemendikbud (2018) dengan judul Menumbuhkan Sikap Toleran Pada Anak, terdapat beberapa cara untuk menumbuhkan sikap toleran.

 

Pertama, menanamkan rasa cinta kasih pada anak. Cinta kasih adalah fondasi terpenting agar anak memiliki sikap menghargai orang lain. Maka mendidik anak dengan penuh cinta kasih akan menumbuhkan sikap toleran di dalam dirinya.

 

Kedua, menerima dan menghargai perbedaan setiap anggota keluarga di rumah. Bantu anak untuk memiliki penghargaan diri yang baik kepada dirinya sendiri maupun kepada anggota keluarga yang lain.

 

Ketiga, memberikan contoh pada anak. Orang tua harus memberikan teladan kepada anak, contohnya seperti berbicara dengan baik kepada asisten rumah tangga, memperlakukan tetangga secara sopan meski berbeda suku atau agama, dan tidak merendahkan orang lain yang ditemui.

 

Keempat, memperhatikan materi percakapan atau gaya bergurau yang berkaitan dengan stereotip ketika di dekat anak. Materi pembicaraan saat bercanda terkadang bisa kelewat batas. Orang tua harus selalu sadar bahwa materi bergurau yang kelewat batas dapat ditiru dan membentuk sikap toleran pada anak. Di samping itu, orang tua juga harus memperhatikan bagaimana memberi respons atas sebuah berita atau informasi. Misalnya ibu mengatakan bahwa tetangga perempuan sering sakit-sakitan setiap pulang bekerja. Maka jangan sampai ayah memberi respon, “Yaah, Namanya juga perempuan, sudah ditakdirkan lemah.”

 

Kelima, menjawab pertanyaan anak dengan bijaksana dan jujur ketika anak mempertanyakan perbedaan antara dirinya dengan orang lain. Misalnya ketika di jalan anak melihat ada orang berkulit hitam dan berambut keriting, maka orang tua mesti memberikan jawaban yang bijaksana, seperti, “Tuhan menciptakan orang dengan berbagai warna kulit. Bentuk rambutnya pun berbeda-beda. Kalau kamu ke Eropa, kamu akan melihat orang berkulit putih dan berambut pirang. Tapi kalau kamu ke Afrika, maka kamu akan lihat orang berkulit gelap dan berambut keriting. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari perbedaan warna kulit dan bentuk rambut mereka.”

 

Sobat Revmen, toleransi merupakan salah satu nilai dasar untuk menciptakan harmoni dalam berbangsa dan bernegara. Menanamkan toleransi pada anak sejak dini akan membentuk anak yang sadar dan bersedia menghargai perbedaan. Mari sebarkan luaskan sikap saling menghagai dan toleran di lingkungan terdekat, agar Indonesia tetap berbhineka tunggal ika meski dalam keragaman yang kompleks. #AyoBerubah #GerakanIndonesiaBersatu

 

 

Referensi:

 

Buku Seri Pendidikan Orang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2018). Menumbuhkan Sikap Toleran Pada Anak. Jakarta: Kemendikbud.

 

Kompas.com. (2017). Available at: https://lifestyle.kompas.com/read/2017/06/08/202300620/menumbuhkan.sikap.toleransi.sejak.dini. Diakses tanggal 12 Mei 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: