Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Menko PMK Menelisik Sejarah Pahlawan Nasional

Menko PMK
  • 23 Febuari 2022
  • 0 Komentar

Menko PMK Menelisik Sejarah Pahlawan Nasional

Menko PMK Muhadjir Effendy melakukan kunjungan silaturahmi ke kantor Majalah Panjebar Semangat (PS) di Jalan Gedung Nasional Indonesia 2 Kota Surabaya, Selasa (22/2/2022).  

Jakarta (23/02/2022) Kedatangan Muhadjir disambut gembira luar biasa oleh pimpinan dan staf PS. Antara lain, Pimpinan PS Ibu Arkandy Sari, Redaktur Pelaksana Dony Tunggul, redaktur Kukuh Wibodo, Kurnain (bagian pemasaran). Kehadiran Muhadjir ini untuk menelisik sejarah dua pahlawan nasional, dr Soetomo dan Bung Karno. Dr Soetomo pendiri Boedi Oetomo ini juga pendiri majalah PS yang  terbit pertama kali pada 2 September 1933.

Di majalah berbahasa Jawa ini pula Muhadjir mulai mengenal ajaran Bung Karno tahun 1960-an. Muhadjir sempat melihat bundel majalah PS. “Yo iki sing mbiyen tak waca (Ya ini yang dulu saya baca),” kata Muhadjir sambil menunjuk tulisan ajaran Bung Karno di majalah itu.


PS cukup lekat dengan gerakan kemerdekaan. Majalah ini dirintis bareng Raden Sundjojo dan dr Soetomo, tokoh Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928. Diceritakan, sepulang dari kongres pemuda di Jakarta, dr Soetomo melanjutkan perjuangan dengan propaganda perlawanan, hingga lahirlah PS.

Soetomo sengaja pilih bahasa Jawa, karena masyarakat Surabaya dan sekitar sehari-hari menggunakan bahasa ini. Bahasa Indonesia, apalagi Belanda, hanya dikenal kalangan pelajar. Pesan dr Soetomo, begitu terasa di ruang redaksi, menjadikan media sebagai sarana untuk mencerdaskan dan mempersatukan bangsa

Semangat kang kita sebarake, jaikoe semangat kang bangoenake kesadaran kang bisa nglairake goemregahe bangsa kita, ngabdi marang kebenaran, toendoek marang kesoetjian sarta soemarah marang keadilan (Semangat yang kita sebarkan, yaitu semangat yang membangunkan kesadaran yang bisa membangkitkan bangsa kita, mengabdi kepada kebenaran, tunduk terhadap kesucian, serta pasrah kepada keadilan).”

PS pernah diberedel Jepang pada 1942. Padahal, saat itu oplah sedang besar-besarnya. Namun, karena satu dan lain hal, Jepang melalui Osamu Seire (Undang-Undang Pemerintah) Nomor 16 melarang PS terbit dan menahan pemimpin redaksinya kala itu, Mr Soemanang. Tetapi solidaritas pembaca membuatnya bertahan. Tahun 1949 terbit lagi.

Majalah PS sudah melintasi lima zaman, sebelum dan sesudah Indonesia merdeka. Menyaksikan perubahan demi perubahan ibu pertiwi. Semangat kemunculan majalah memang tecermin sejak ide itu dimunculkan Raden Sundjojo, kakak kandung Ir Sunjasmoro. Hal ini disambut dr Soetomo.

Pesan-pesan pemompa semangat yang ditulis langsung oleh Soekarno pada 1953 masih tersimpan di ruang redaksi. Pesan itu ditulis kala PS memasuki usia 20 tahun. Kabeh madjalah kang mbijantu marang perdjoangan nasional gedhe gunane. Ta’dongakake muga-muga ‘Panjebar Semangat’ lestari mbijantu perdjoangan kita iki (semua majalan yang membantu perjuangan nasional besar jasanya. Aku doakan semoga PS lestari membantu perjuangan kita).”

 foto : Humas Kemenko PMK


Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: