Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Menko PMK : 90 % Sampah Terkelola, Baru Itu Disebut Revolusi Mental !

Menko PMK, GIBersih, Lingkungan
  • 27 Juli 2022
  • 0 Komentar

Menko PMK : 90 % Sampah Terkelola, Baru Itu Disebut Revolusi Mental !

Muhadjir meminta Pemkot Makassar meningkatkan kualitas penanganan sampah. Selain itu juga menguatkan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penanganan sampah.

Makassar (27/07/2022), Sebagai aksi nyata dalam Gerakan Indonesia Bersih yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy turut mendukung pengelolaan sampah organik dengan BSF maggot di Makassar.

BSF (Hermetia Illucens) adalah sejenis lalat berwarna hitam yang larvanya (maggot) mampu mendegradasi sampah organik. Maggot sangat aktif memakan sampah organik. Selain itu, budidaya maggot juga dapat menumbuhkan sumber penghasilan baru di tengah masyarakat.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), komposisi sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organik, yakni mencapai sekitar 57% dari total timbulan sampah. Untuk mengolah sampah organik ini, selain dengan pengomposan juga  bisa dilakukan dengan budidaya BSF (Black Soldier Fly) atau Lalat Tentara Hitam.

Sejauh ini, Pemkot mengandalkan pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot. Budidaya maggot itu pun dijalankan dengan bantuan alat dari Korea Selatan. Dalam hal ini, kedua pihak saling memberi timbal balik. Makassar dengan pengelolaan sampah sedangkan Korea Selatan menggunakan ampas dari maggot.

Muhadjir menyarankan kepada Pemkot Makassar untuk menggandeng perguruan tinggi seperti Universitas Hasanuddin, untuk mereplikasi teknologi pengelolaan sampah. "Teknologi ini tidak rumit amat. Cukup sederhana. Saya kira teknologi pengolahan ini bisa dibuat lebih sederhana. Tidak usah mewah tapi masyarakat sudah bisa menggunakan sesuai semboyannya yakni 3R, Reduce, Recycle, Reuse," kata Muhadjir.

Dalam kesempatan itu, Muhadjir Effendy, menyebut Kota Makassar  masih jauh dari gerakan Revolusi Mental yang digaungkan Presiden Joko  Widodo. Muhadjir juga mengingatkan bahwa sampah merupakan tantangan global, baik sampah B3, sampah organik, maupun sampah anorganik. Belum lagi ada sampah mikroplastik yang menjadi ancaman saat ini.

"Pokoknya baru akan terjadi Revolusi Mental masyarakat Makassar kalau nanti 90 persen sampahnya, sampah rumah tangga terutama, sudah dikelola dengan baik. Ini baru 10 persen. Jadi masih jauh," ujar Muhadjir

Karena itu, Muhadjir meminta Pemkot Makassar meningkatkan kualitas penanganan sampah. Selain itu juga menguatkan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penanganan sampah.

"Kalau bisa Makassar jadi model penanganan sampah organik yang sangat produktif. Yang tidak kalah penting edukasi masyarakat. Kan bisa sampahnya ibu-ibu dibeli, pasti pada mau kumpulin sampahnya," kata Muhadjir.

Dalam kesempatan itu, turut hadir Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah Kemenko Marves, Rofi Alhanif serta Wakil Walikota Makassar, Fatmawati Rusdi. Hadir juga mantan Menteri Pertanian tahun 2014-2019, Amran Sulaiman. Pada Muhadjir, Amran Sulaiman bahkan memastikan akan menjadi penjamin komoditas maggot dengan memberikan target 20 ton produk maggot per hari.

Di tempat yang sama, Direktur Yayasan Peduli Negeri (YPN), Saharuddin Ridwan menjelaskan bahwa sejauh ini pengelolaan sampah organik yang bisa diterapkan adalah budidaya maggot. Produksi maggot saat ini yang dihasilkan fresh maggot, maggot kering, dan tepung maggot. 

Sepanjang bahan baku sampah organik cukup banyak, budi daya maggot bisa ditingkatkan. Hanya saja, kemampuan mengolah sampah organik baru 1 hingga 5 ton per hari. "Itu bisa kita tambah kalo bisa kelola kantong-kantong yang lain," jelas Sahar.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Aryati Puspasari Abadi, mengatakan budidaya maggot merupakan solusi untuk mengatasi masalah sampah rumah tangga, sebab maggot akan mereduksi sampah sisa-sisa makanan. Maggot sendiri adalah belatung atau larva dari lalat yang bisa ditemukan pada barang-barang yang telah membusuk seperti bangkai, buah, maupun sayuran yang rusak. 

Peralatan dalam budidaya maggot di BSP Pacerakkang, kata Puspa, sangat lengkap dan sudah terintegrasi. Dengan begitu, pemeliharaannya mulai dari telur, larva, pre pupa, pupa hingga menjadi lalat dewasa bisa di lihat langsung di sana.

“Di sana ada juga mesin untuk mengekstraksi larva maggot menjadi minyak esensial yang baik untuk kecantikan dan pengobatan. Jadi di sana itu kita sudah bisa melihat bagaimana siklus pemeliharaan maggot,” jelasnya.

*PS

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: