Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

MENJAGA BAHASA DAERAH YANG TERANCAM PUNAH

Indomap Kemendikbud, peta sebaran bahasa daerah di Indonesia
  • 09 Maret 2021
  • 0 Komentar

MENJAGA BAHASA DAERAH YANG TERANCAM PUNAH

Menurut catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dari 718 bahasa daerah di Indonesia, sebanyak 11 bahasa daerah sudah punah. Sementara terdapat 25 bahasa daerah lain berstatus terancam punah.

 

Jakarta (23/02/21) Salah satu kekuatan Indonesia terletak pada keragaman budayanya. Menjadi orang Indonesia berarti menjadi orang yang mempunyai nilai-nilai primordial dan lokal yang patut dibanggakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahasa daerah merupakan salah satu bentuk konkret dari nilai-nilai tersebut.

 

Indonesia adalah negara nomor dua yang memiliki bahasa daerah terbanyak di dunia. Posisinya satu tingkat di bawah Papua Nugini yang memiliki 831 bahasa. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud pada tahun 2019, terdapat 718 bahasa di Indonesia yang tersebar dari pulau Sumatra hingga Papua. Fakta ini menegaskan kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Orang di Indonesia bukan hanya memiliki bentuk fisik (warna kulit, bentuk rambut, bentuk bagian muka) yang berbeda-beda, menjalani adat istiadat yang berbeda, dan memeluk agama yang berbeda, tetapi juga menuturkan bahasa yang berbeda-beda.

 

Jika menggunakan pendekatan etnolinguistik, bahasa dianggap memiliki kekuatan. Kekuatan bahasa antara lain adalah sebagai alat komunikasi dan penyampaian gagasan, melakukan persuasi, dan alat untuk memberikan pengaruh. Begitupun dengan bahasa daerah. Selain sebagai alat komunikasi bagi etnis tertentu, setidaknya ada dua kekuatan yang dimiliki bahasa daerah, yaitu; Pertama, bahasa daerah dapat memperkaya budaya nasional. Kedua, bahasa daerah dapat memberikan sumbangan pada kosakata bahasa Indonesia.

 

Terdapat 11 bahasa daerah yang sudah punah. 25 bahasa daerah lain dalam posisi terancam punah. Maka ada baiknya kita mulai berututur dengan bahasa daerah masing-masing, minimal di rumah. Bukan untuk bersikap rasialis, melainkan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia yang kaya. Seperti dikatakan Emha Ainun Najib, “Kalau saya bicara pakai bahasa Jawa, jangan dibilang saya Jawasentris. Saya cuma berekspresi sebagai orang Jawa.”

 

Bahasa membantu kita melihat dan memahami dunia. Memahami lebih banyak bahasa berarti memiliki lebih banyak perspektif dalam memandang dunia. Sebagai bangsa yang besar dan memiliki keragaman budaya, sudah sepatutnya kita menjaga keragaman bahasa daerah yang ada. Jangan biarkan bahasa daerah kehilangan para penuturnya. Menggunakan bahasa orang lain mungkin menyenangkan, tapi menggunakan bahasa sendiri itu membanggakan. #AyoBerubah #JagaBudayaBangsa

 



Referensi:

Kemendikbud.go.id, 25/02/20

Labbineka.kemendikbud.go.id, 07/08/20

News.unair.ac.id, 21/02/19

Pmb.lipi.go.id, 10/11/20

 

 

Reporter: Robby Milana

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: