Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

MENELISIK PERAN AGAMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA

Presiden Joko Widodo bersama tokoh lintas agama
  • 14 November 2021
  • 0 Komentar

MENELISIK PERAN AGAMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA

Agama memiliki peran penting dalam memajukan bangsa dan negara. Kuncinya terletak pada nilai toleransi antar umat beragama.

 

Jakarta (13/11/2021) Hampir seluruh penduduk Indonesia memeluk agama. Berdasarkan data dari DirektoratJendral Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), jumlah penduduk Indonesia yang memeluk agama sebesar 99,99 persen. Jumlah itu terdiri dari pemeluk agama Islam sebesar 86,88%, Kristen 7,49%, Katolik 3,09%, Hindu 1,71%, Buddha 0,75%, Aliran Kepercayaan 0,04% dan Konghucu 0,03%. Fakta ini membuktikan bahwa agama memiliki peran yang penting dalam keyakinan individu dan masyarakat Indonesia.

 

Bagi individu, peran penting agama adalah menjadi kompas nilai-nilai untuk melakukan kebaikan dan mencegah perilaku buruk. Bagi masyarakat, agama menjadi fondasi nilai-nilai dalam membangun bangsa dan negara yang kokoh, damai dan toleran. PewResearch melaporkan bahwa sebanyak 83% masyarakat Indonesia menganggap agama memiliki dampak yang sangat besar dalam pembangunan bangsa dan negara. Peran agama ini muncul karena masyarakat menganggap terdapat sejumlah fungsi penting agama dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Menurut PhilipGoldberg, agama memiliki lima fungsi utama, yaitu: Pertama, Transmisi atau pewarisan. Agama berfungsi meneruskan ke setiap generasi suatu “sense of identity” melalui kebiasaan-kebiasaan, cerita, dan kelanjutan historis yang dimiliki bersama. Kedua, Translasi atau penerjemahan. Agama berfungsi untuk menolong individu-individu menafsirkan peristiwa-peristiwa kehidupan, mendapatkan suatu rasa bermakna dan bertujuan, dan memahami hubungan-hubungannya dengan keseluruhan yang lebih besar, baik dalam arti sosial maupun kosmis.

 

Ketiga, Transaksi. Agama berfungsi untuk menciptakan dan mempertahankan suatu komunitas yang sehat dan memberi tuntunan terhadap perilaku-perilaku moral dan hubungan-hubungan etis. Keempat, Transformasi. Agama berfungsi sebagai pengembangan kedewasaan dan pertumbuhan yang terus-menerus, menolong umat beragama untuk merasa lebih penuh dan komplet. Kelima, Transendensi. Agama berfungsi untuk memuaskan kerinduan untuk memperluas batasan-batasan diri yang dipersepsikan, menjadi lebih sadar terhadap aspek kehidupan yang lebih sakral dan mengalami penyatuan dengan dasar keberadaan yang mutlak.  

 

Sebagai negara multikultural, Indonesia tidak dapat menghindari keberagaman dalam beragama. Sehingga setiap umat beragama mempunyai kewajiban untuk mengakui sekaligus menghormati agama lain tanpa membeda-bedakan dan deskriminatif. Sikap intoleransi dan deskriminatif ditenggarai bukan saja “menodai” kesucian agama, melainkan juga dapat membuat agama kontraproduktif bagi pembangunan bangsa. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menjelaskan, pentingnya menerapkan prinsip-prinsip kemerdekaan dan kebebasan untuk menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghormati antar pemeluk agama yang berbeda dengan latar belakang sosial-budaya yang berbeda.

 

"Semboyan Bhineka Tunggal Ika memiliki makna sesuai dengan keberagaman Indonesia yang tidak hanya bersuku-suku, beras-ras, dan berbudaya, tetapi kita punya makna yang jauh lebih luas bahwa kita memang ditakdirkan sebagai pribadi yang berbeda satu sama lain namun tetap satu tujuan. Saya kira ini sebagai modal yang besar untuk kita maju bersama membangun bangsa Indonesia," ucap Muhadjir.

 

Demi menciptakan suasana damai, toleran dan produktif, agama mesti berjalan di kutub “moderasi,” bukan kutub “supremasi.” Sehingga tidak ada satu kelompok yang merasa lebih dominan dibanding kelompok lain. Untuk itu menurut Muhadjir Effendy pemerintah terus mendorong dan memperkuat peran dan kapasitas lembaga-lembaga agama, organisasi sosial keagamaan, tokoh agama, tokoh masyarakat, para pemuda dan tokoh adat sebagai agen moderasi beragama. Di samping itu, pemerintah juga berupaya untuk membangun ekosistem moderasi beragama melalui penguatan 3 dimensi, yakni Dimensi Perencanaan, Dimensi Kelembagaan dan Dimensi Regulasi. Menurut Muhadjir, toleransi antar umat beragama menjadi kunci kemajuan bangsa.

 

Sobat Revmen, dikarenakan fungsi-fungsi pentingnya, agama memiliki peran yang signifikan di tengah masyarakat guna memajukan bangsa dan negara. Kuncinya terletak pada toleransi antar umat beragama. Tanpa itu, mustahil pembangunan dapat dilakukan, sebab bangsa dan negara akan dipenuhi oleh kecurigaan, kebencian dan konflik. Sobat, kita dapat memberikan kontribusi nyata untuk meningkatkan peran agama di tengah masyarakat. Caranya dapat berupa menghormati tetangga yang berbeda agama, mengedepankan dialog jika terjadi perbedaan pendapat dengan saudara-saudara yang memiliki agama berbeda dan selalu menjadikan agama sebagai pendorong untuk menebar rahmatan lil ‘alamin. #AyoBerubah #HariKerohanian #GotongRoyong #Integritas #EtosKerja #ModerasiBeragama #ToleransiUmatBeragama

 

 

Referensi:

Huffpost.com. (2011). Diakses tanggal 2 November 2021.

Katadata.co.id. (2021). Diakses tanggal 2 November 2021.

Kemenkopmk.go.id. (2021). Diakses tanggal 2 November 2021.

Mulyadi. (2016), Jurnal Tarbiyah Al-Awlad, Volume VI Edisi 02, hlm. 556-564. Diakses tanggal 2 November 2021.

Pewresearch.com. (2019). Diakses tanggal 2 November 2021.

 

Penulis: Robby Milana

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: