Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

MENDIDIK DAN MEMBIASAKAN ANAK UNTUK BERSIKAP JUJUR SEJAK KECIL

Seorang anak sedang diajarkan kejujuran
  • 24 Agustus 2021
  • 0 Komentar

MENDIDIK DAN MEMBIASAKAN ANAK UNTUK BERSIKAP JUJUR SEJAK KECIL

Kejujuran datang dari rumah. Jika orang tua mampu mendidik dan gemar membiasakan anak untuk bersikap jujur sejak kecil, maka sikap jujur itu akan terbawa sampai dewasa. Anak yang jujur akan mendapatkan tiga hal, yaitu kepercayaan, cinta dan rasa hormat.

 

Jakarta (10/03/21) Terkadang anak-anak berbohong. Umumnya kebohongan yang dilakukan anak-anak tidak memiliki pretensi lain selain untuk menyembunyikan pelanggaran yang telah mereka lakukan dan takut dimarahi. Namun jika sikap berbohong ini menjadi kebiasaan, maka akan memberikan dampak dan resiko yang lebih serius pada anak dan orang-orang di sekitarnya.

 

Oleh karena itu, anak harus dididik dan dibiasakan untuk bersikap jujur. Setidaknya ada enam cara untuk mendidik si kecil bersikap jujur. Pertama, berikan teladan. Anak adalah peniru. Orang tua yang suka berbohong akan membuat anak menjadi pembohong pula. Sebaliknya, orang tua yang selalu menunjukan kejujuran akan mempengaruhi anak untuk menjadi orang jujur. Seperti contoh, saat anak ikut berbelanja, orang tua mendapatkan kembalian berlebih, lalu orang tua mengembalikan kelebihannya itu kepada pemilik toko. Anak akan melihat ini dan akan dijadikan sebagai panduan nilai-nilai kejujuran.

 

Kedua, jangan marahi anak ketika ketahuan berbohong. Kemarahan orang tua pada anak saat ketahuan berbohong hanya akan membuat anak kembali berbohong. Maka, berikan anak pemahaman dengan kasih sayang dan cara yang lembut bahwa berbohong itu salah dan kesalahan itu akan melahirkan konsekuensi. Usahakan untuk tidak mengedepankan emosi saat mengajarkan atau memberikan pendidikan karakter kepada anak.

 

Ketiga, jelaskan pada anak perbedaan kejujuran dengan kebohongan. Kejujuran dapat mendatangkan kebaikan, sebaliknya kebohongan dapat mendatangkan hukuman. Dengan demikian anak menjadi aware dalam bersikap. Jika anak belum memahaminya, berikanlah contoh. Contoh adalah pelajaran terbaik bagi anak.

 

Keempat, tegur anak dengan bahasa yang halus saat mereka ketahuan berbohong. Saat anak belum menggosok gigi, namun mereka mengatakan sudah menggosok gigi, maka bisa saja orang tua mengatakan, “Kakak, ini sikat giginya masih kering loh. Kalau sikat giginya masih kering, tandanya apa? Benar, tandanya belum dipakai.” Kemudian jelaskan bahwa yang baru saja dilakukan anak adalah sikap berbohong dan itu tidak baik. Jelaskan bahwa ketidakbaikan itu dapat berakibat pada dirinya sendiri karena giginya nanti bisa sakit. Ketidakbaikan itu juga dapat memberikan akibat kepada orang lain, misalnya orang tua menjadi khawatir karena anak sakit gigi atau orang tua terpaksa harus membuka celengan ayam anak karena harus membayar dokter gigi.

 

Kelima, ajarkan anak untuk tidak takut berkata jujur, meski harus menerima konsekuensi. Jika anak mendapatkan hasil ulangan jelek di sekolah, ajak anak untuk mengatakannya dengan jujur. Orang tua tidak perlu bersikap reaktif dan langsung memarahi anak. Katakan bahwa kejujuran lebih bernilai dibanding hasil ulangannya. Dialognya kira-kira akan seperti ini: Ibu bertanya, "Kak, bagaimana hasil ulangan matematika kamu?" Jika anak tidak segera menjawab atau anak mengalihkan perhatian, maka kemungkinan besar nilai ulangannya jelek. Sebaiknya ibu segera menghampiri, "Hasilnya jelek ya? Mungkin ini kesalahan ibu juga sehingga ulangan kamu jelek. Sejak dulu ibu memang lemah dalam bidang matematika, sehingga ibu tidak pernah membantu kamu belajar matematika. Maafin ibu ya?" Tunggu reaksi yang diberikan anak. Jika anak mengatakan, "Ini bukan kesalahan ibu, tapi aku memang tidak serius dalam belajar," maka lanjutkan dengan mengatakan, "Lalu menurut kamu apa yang harus kita lakukan supaya hasil ulangan kamu menjadi lebih baik?" Kemungkinan anak akan menjawab, "Tidak bu, ini kesalahan aku. Maka aku harus belajar lebih serius. Dan aku akan berusaha agar selanjutnya nilai ulangan matematika aku lebih baik." Melalui cara demikian, ibu sudah mengedepankan bahwa kejujuran lebih penting dibandingkan nilai akademis. Ibu juga sudah mengajarkan anak untuk menerima konsekuensi dari kelalaiannya sendiri, yaitu anak akan belajar lebih giat atas kesadarannya sendiri.

 

Keenam, selalu hargai kejujuran yang disampaikan anak. Setiap orang butuh pengakuan dan penghargaan. Demikian juga anak. Jika anak melakukan kesalahan, lalu mereka mengakuinya dengan jujur, hargai hal tersebut. Diskusikan pada anak bahwa yang dilakukannya memang salah dan sebaiknya tidak diulangi, karena jika diulangi akan mendatangkan resiko yang mungkin berbahaya untuk dirinya sendiri. Setelah itu ucapkan terima kasih karena sudah bersedia mengakui kesalahannya.

 

Sobat Revmen, mengajarkan kejujuran bukan persoalan sepele. Kejujuran memiliki dampak yang besar pada anak, pada orang di sekitarnya, dan pada bangsa ini. Jika semakin banyak anak-anak yang terbiasa bersikap jujur, maka bangsa ini akan semakin besar. Mari ajarkan dan biasakan anak-anak bersikap jujur sebagai bagian dari pendidikan karakter untuk membentuk anak yang berintegritas. Inilah salah satu wujud nyata dari revolusi mental bangsa Indonesia. #AyoBerubah #IndonesiaBerintegritas.

 

 

Referensi:

Hallosehat.com, 09/01/17

Edukasi.kompas.com, 16/05/17

 

Reporter: Robby Milana

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: