Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

MEMPERTANYAKAN AGAMA ORANG LAIN, BOLEHKAH?

Para remaja lintas agama melakukan berdialog
  • 14 November 2021
  • 0 Komentar

MEMPERTANYAKAN AGAMA ORANG LAIN, BOLEHKAH?

 

Bolehkah mempertanyakan agama orang lain? Jawabannya: “Kenapa tidak.” Namun yang harus dicermati bukanlah pertanyaannya, melainkan apa tujuan mengajukan pertanyaan itu.

 

Jakarta (14/11/2021) Data Spring mengidentifikasi tujuh topik tabu masyarakat di Asia yang sebaiknya tidak dijadikan sebagai topik perbincangan sosial. Ketujuh topik tabu itu adalah seks, vulgaritas, kekerasan, judi, rasisme, politik dan agama. Khusus untuk topik agama, menurut Data Spring, perbincangan sosial yang dilakukan dapat menjurus ke arah deskriminasi dan intoleransi.

 

Beberapa negara di Eropa juga menganggap topik mengenai agama kurang sopan untuk didiskusikan di ruang publik. Studi yang dilakukan oleh Pew Research misalnya menemukan fakta bahwa banyak orang Amerika tidak ingin berdebat mengenai isu agama, bahkan tidak ingin membicarakannya, kecuali di dalam keluarga. Mempertanyakan agama kepada orang lain bukan saja dianggap kurang sopan, melainkan juga dianggap tidak esensial. Menurut Pew Research, selain agama, isu yang dianggap kurang sopan untuk didiskusikan di ruang publik juga mencakup masalah politik, seks, kesehatan dan selera fashion seseorang.

 

Namun, yang menarik dalam data Pew Research terkait masalah agama tersebut adalah adanya sebuah fakta bahwa masyarakat di Amerika pun pada kenyataannya suka membicarakan masalah agama. Sebanyak 67% orang Amerika dewasa membicarakan agama kepada keluarga dekat dan 43% membicarakan agama kepada orang di luar lingkungan keluarga. Itu artinya, sebenarnya masyarakat di Amerika, secara kultural dan de facto, tidak tabu membicarakan perihal agama, baik kepada keluarga, maupun kepada orang di luar lingkungan keluarga. Hanya saja bagi masyarakat Amerika, agama tidak perlu diperdebatkan jika tidak ada esensi di dalamnya.

 

Membicarakan masalah agama tidak dapat disamakan dengan “mempertanyakan” agama seseorang, terutama orang yang baru dikenal atau yang tidak dikenal, semacam artis. Menurut beberapa pendapat, masyarakat di Indonesia justru gemar mempertanyakan agama orang lain, termasuk orang yang baru dikenal dan tidak dikenal. Sebagian pertanyaan itu merupakan bahan untuk menjadi bahan pertimbangan bertindak dan perbincangan, sebagian lagi hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu. Bahkan mempertanyakan agama artis pernah menjadi trending di kolom pencarian Google. Sebagai contoh, masukan kata kunci seorang artis bernama Oka Antara (pesinetron Ikatan Cinta). Maka akan muncul di kolom saran “Oka Antara agama” di urutan pertama, dan “Oka Antara Ikatan Cinta” di urutan kedua. Demikian juga jika kita memasukan kata kunci Angela Gilsha (pesinetron Samudera Cinta). Saran pertama pada kolom Google adalah “Angela Gilsha agama” dan pada urutan kedua adalah “Angela Gilsha dan Haico.” Itu artinya, banyak masyarakat yang ingin mengetahui agama Oka Antara dan Angela Gilsha. Hal ini juga berlaku untuk banyak artis lain, termasuk artis luar negeri, seperti Zayn Malik (penyanyi asal Inggris) dan Gigi Hadid (model asal Amerika Serikat).

 

Pertanyaan yang kemudian harus dijawab adalah, “Bolehkah mempertanyakan agama orang lain?” Jawabannya adalah kenapa tidak. Namun yang harus dicermati bukanlah pertanyaannya, melainkan apa tujuan mengajukan pertanyaan itu. Jika pertanyaan mengenai agama orang lain dilakukan dengan tujuan untuk melakukan perudungan (bullying), deskriminasi dan rasisme, maka itu yang tidak boleh dilakukan. Sebab, setiap orang memiliki hak azasi untuk memeluk agama yang diyakininya. Namun jika mempertanyakan agama demi untuk menyesuaikan sikap, tingkah laku, dan menjaga perasaan orang lain, maka itu boleh dilakukan. Maka itu artinya, konteks mempertanyakan agama tidak datang serta merta.

 

Jika ada seorang muslim mendengar suara adzan, lalu dia menanyakan agama seorang teman yang baru dikenalnya dan sedang bertamu ke rumahnya, maka sebaiknya jangan buru-buru berprasangka buruk. Karena bisa jadi dia menanyakan agama temannya itu demi bersikap sopan. Sebab jika dia serta merta mengajak temannya shalat, justru itu akan menciptakan suasana canggung jika temannya berbeda agama. Maka dia perlu menanyakan agamanya terlebih dulu untuk menyesuaikan komunikasinya. Atau bisa juga pertanyaan agama itu muncul sebagai adab sopan santun jika ternyata temannya beragama Islam dan ingin melaksanakan shalat. Dengan mengetahui bahwa dia seorang Muslim, maka sebagai tuan rumah, dia perlu menyiapkan perlengkapan shalat.

 

Jika ada seseorang mempertanyakan agama teman yang sedang ingin ditraktir makan, itu pun sangat wajar. Dia menanyakannya untuk mengetahui kira-kira menu apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh temanya itu. Jika teman ternyata seorang Muslim, maka dia tidak akan mentraktir hidangan berbahan daging babi, jika temannya ternyata beragama Hindu, maka dia dapat menghindari hidangan berbahan daging sapi.

 

Maka menjawab pertanyaan bolehkah mempertanyakan agama orang lain, maka jawabannya adalah boleh, namun harus sesuai dengan konteksnya. Bukan sekedar untuk iseng, apalagi untuk melakukan perudungan dan deskriminasi. Di Indonesia, perbincangan mengenai agama adalah topik yang biasa saja, tidak tabu dan bukan sesuatu yang tidak sopan. Masalah agama hadir mulai di tingkat masyarakat, hingga persoalan hukum. Bahkan nilai-nilai agama hadir di dalam Pancasila (Sila Pertama) dan Undang-Undang Dasar 1945. Itu artinya, agama merupakan nafas bangsa Indonesia yang dapat hadir di ruang publik dan menjadi diskusi sosial serta budaya. Hukum dan budaya di Indonesia hanya melarang jika agama digunakan untuk memecah belah, menciptakan konflik dan menghina orang lain.

 

Sobat Revmen, SIla Pertama Pancasila menjamin setiap warga negara untuk memeluk agama dan keyakinannya. Saat merumuskan Pancasila, para bapak bangsa kita sudah paham betul bahwa setiap manusia di muka bumi ini memiliki keyakinan yang akan dipegang teguh sepanjang hayatnya. Maka hal tersebut tidak boleh dikesampingkan atau dilarang, melainkan harus diakomodir dan diatur. Dengan demikian, lahirnya Sila Pertama Pancasila pada hakikatnya merupakan sebuah bentuk penghargaan terhadap kebutuhan azasi masyarakat dari Sabang sampai Merauke. #AyoBerubah #HariKerohanian #GotongRoyong #Integritas #EtosKerja #ToleransiUmatBeragama

 

 

Referensi:

D8aspring.com. (2016). Diakses tanggal 27 Oktober 2021.

Pewresearch.org. (2016). Diakses tanggal 27 Oktober 2021.

Kumparan.com. (2021). Diakses tanggal 27 Oktober 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: