Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Mempekerjakan Anak di Bawah Umur Langgar Hak Anak

Mempekerjakan anak di bawah umur merampas hak-hak anak, berdampak negatif bagi tumbuh kembang, serta dapat melanggar sejumlah peraturan perundangan
  • 15 September 2021
  • 0 Komentar

Mempekerjakan Anak di Bawah Umur Langgar Hak Anak

Selain berdampak negatif bagi proses tumbuh kembang anak, pekerja anak juga merenggut sejumlah hak-hak anak maupun berpotensi melanggar sejumlah ketentuan perundangan.

 

Jakarta (07/09/2021) Sobat Revmen, isu pekerja anak masih menjadi permasalahan global yang perlu dientaskan bersama, tak terkecuali di Indonesia. Di usia yang seharusnya anak berkesempatan menikmati bangku sekolah, justru tenaganya malah diperas sebagai pekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maupun industri. Tak hanya melanggar hak anak untuk dapat bermain dan belajar, mempekerjakan anak di bawah umur juga berpotensi merugikan keselamatan, kesehatan, dan tumbuh kembang anak itu sendiri, lho! Yuk, sobat Revmen kita cari tahu lebih jauh perihal isu pekerja anak!

 

Pekerja anak adalah setiap anak (berumur di bawah 18 tahun) yang melakukan pekerjaan, yang dapat mengganggu dan membahayakan kesehatan maupun keselamatan anak, serta tumbuh kembang anak secara optimal ___ baik fisik, mental, sosial dan intelektualnya. Munculnya pekerja anak erat kaitannya dengan persoalan kemiskinan, khususnya anak-anak yang terlahir dari keluarga miskin atau rumah tangga sangat miskin. Di mana anak-anak terpaksa terjun bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup dan perekonomian keluarga. Kondisi tersebut bahkan berpotensi membuat anak terjerumus ke dalam bentuk-bentuk pekerjaan yang buruk, berbahaya, hingga rentan dieksploitasi ___ seperti perbudakan, pelacuran, pornografi, perjudian, dan keterlibatan narkoba.

 

Di samping kemiskinan, pendidikan juga menjadi faktor penyebab munculnya pekerja anak. Latar belakang pendidikan orang tua yang rendah, membuat anak beranggapan bahwa bangku sekolah bukan hal utama jika sudah mampu menghasilkan uang. Padahal pendidikan sangat berpengaruh untuk menggali potensi dan membekali dengan berbagai keterampilan yang bermanfaat untuk dunia kerja ___ sehingga dapat membuka kesempatan beroleh pekerjaan yang lebih layak sesuai kemampuan diri. Oleh karenanya, mempekerjakan anak tak hanya mencerabut hak anak untuk bersosialisasi dan belajar secara berkualitas, namun juga berpotensi membuat anak terpaksa putus sekolah. Mengutip Kompas.id, sebagian besar studi tentang pekerja anak memberikan gambaran bahwa anak yang ikut bekerja lebih banyak menerima dampak negatif daripada dampak positif.

 

Lebih jauh, mempekerjakan anak juga dapat melanggar sejumlah undang-undang karena anak di bawah umur mendapat perlindungan hukum. Di mana sesuai dengan Pasal 9 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UU Perlindungan Anak), setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran untuk pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat anak. Adapun dalam Pasal 68 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan) menegaskan bahwa pengusaha dilarang mempekerjakan anak dibawah umur ___ yang mana berdasarkan ketentuan adalah anak yang berusia di bawah 18 tahun. Pengusaha atau perusahaan yang masih mempekerjakan anak yang belum berusia 18 tahun dapat dikenakan sanksi pidana yakni berupa penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 4 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100 juta dan paling banyak Rp 400 juta, lho!

 

Sebagaimana diatur dalam UU Ketenagakerjaan, pada prinsipnya anak di bawah umur tidak boleh bekerja. Namun ada beberapa ketentuan pengecualian untuk kondisi dan kepentingan tertentu anak diperbolehkan bekerja antara lain, (1) Pekerjaan ringan, yaitu bahwa anak yang berusia 13 sampai dengan 15 tahun diperbolehkan melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental dan sosial; (2) Pekerjaan dalam rangka bagian kurikulum pendidikan; dan (3) Pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minat. Anak yang bekerja pada usaha keluarganya untuk sekedar membantu selepas pulang sekolah juga tidak diberlakukan ketentuan perundang-undangan tersebut. Tentunya pengecualian-pengecualian tersebut diperbolehkan sejauh memenuhi ketentuan dan syarat-syarat yang diatur lebih jauh dalam UU Ketenagakerjaan ya, sobat Revmen!

 

Mengutip Kompas.id, publikasi International Labour Organization  (ILO) terbaru pada Juni 2021 melaporkan ada 160 juta anak berusia 5 hingga 17 tahun yang menjadi pekerja. Sementara menurut laporan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa) sebagaimana dilansir Goodnewsfromindonesia.id, persentase pekerja anak pada 2019 mencapai 6,35% atau setara dengan 2.356.428 anak. Di mana Sulawesi Tenggara menjadi provinsi dengan persentase pekerja anak terbanyak di Indonesia yaitu 13,89%, disusul Sulawesi Barat dengan 13,45%, dan Papua dengan 13,39%.

 

International Labour Organization (ILO) menyebut bahwa pekerja anak dapat mengganggu masa kecil anak, menurunkan potensi dan martabat anak sehingga berbahaya bagi perkembangan fisik maupun mental anak. Oleh karenanya, mari kita tingkatkan kepedulian dan dukung pemenuhan hak anak dengan stop pekerja anak maupun tidak melibatkan anak dalam pekerjaan berbahaya! Sebaliknya, jika punya anak atau kelak memiliki anak mari sama-sama kita dukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik dari segi fisik, mental, sosial dan intelektualnya maupun pemenuhan haknya. Apabila terjadi pelanggaran ketentuan pekerja anak, silakan segera melaporkannya ke dinas-dinas tenaga kerja setempat, Kemnaker ataupun kepada pihak kepolisian terdekat untuk ditindaklanjuti ya, sobat Revmen! #AyoBerubah 

 

Sumber Foto:

https://www.hrw.org/sites/default/files/styles/image_gallery/public/multimedia_images_2016/2016-05-asia-indonesia-13.jpg?itok=yV4MyBbr

 

Referensi:

Kawanhukum.id, 22/09/20

Lokadata.id, 25/01/19

Kompas.id, 23/07/21

Goodnewsfromindonesia.id, 24/07/21

Mediaindonesia.com, 11/06/21

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: