Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Memahami Keragaman Jadi Kunci Perdamaian

Narasumber workshop permainan edukatif anak Kartu Pintar Tamaito (Cinta Damai dan Toleran)
  • 25 November 2021
  • 0 Komentar

Memahami Keragaman Jadi Kunci Perdamaian

Memahami keragaman dan perbedaan menjadi kunci menuju perdamaian ___ termasuk mencegah terjadinya kekerasan, perundungan dan radikalisme pada anak.

 

Jakarta (25/11/2021) Sebagai negara multikultural dengan masyarakatnya yang majemuk dari beragam suku dan budaya, Indonesia rentan akan terjadinya konflik. Di samping kedua faktor tersebut, Koordinator PeaceGeneration Chapter Solo, Ninin Karlina, mengungkapkan perbedaan suku, keyakinan, jenis kelamin, status ekonomi, hingga kelompok pun dapat menjadi hambatan menuju perdamaian yang berorientasi pada toleransi. Ia menyebut perbedaan-perbedaan yang tidak mampu dimanajemen dengan baik dapat memunculkan pula tindakan perundungan atau bullying, termasuk di kalangan anak-anak. Untuk itu, kata Ninin, jalan puncak menuju perdamaian ialah dengan memahami latar belakang keragaman yang menyusun Indonesia itu sendiri.

 

Bullying terjadi karena ketidakmampuan individu memanajemen perbedaan,” ungkap Ninin dalam workshop virtual yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Anak Bocah Pintar bekerjasama dengan Kemenko PMK RI, Senin (1/11).

 

“Karena kita bisa memahami keragaman itu maka kita akan bisa meminimalisir terjadinya bullying-bullying,” sambungnya. 

 

Selain memahami keragaman, Ninin menyebut jalan menuju perdamaian lainnya ialah dengan memahami konflik, menolak kekerasan, mengakui kesalahan, dan memberi maaf. Ninin mengatakan bahwa inti pelajaran keberagaman ialah memahami bahwa perbedaan justru membuat kita menjadi unik dan saling melengkapi. Seperti halnya semboyan bangsa Bhinneka Tunggal Ika, lanjutnya, menggambarkan bahwa meski berbeda namun bisa tetap bersatu karena kesatuan tidak berasal dari satu kesamaan, melainkan dari komitmen untuk saling menghargai.

 

“Kesatuan tidak menghapus keanekaragaman, tanpa keanekaragaman tidak akan ada kesatuan sejati dan sempurna,” ujar Ninin.

 

Tak hanya bullying, Penyelenggara PAUD Bocah Pintar, Nining Sholikhah, mengatakan bahwa radikalisme pun adalah bagian dari kekerasan terhadap anak yang membawa dampak buruk bagi tumbuh kembang anak. Untuk itu, Nining menyebut pencegahan radikalisme pada anak dilakukan dengan mengajarkan anak tentang nilai-nilai toleransi, agar anak mampu menerima dan beradaptasi dengan kondisi maupun individu lain yang berbeda-beda tanpa mempersoalkan perbedaan yang ada. Lebih lanjut, pendidikan karakter baik di sekolah maupun di rumah, menurutnya menjadi kunci pencegahan terjadinya kekerasan, perundungan dan radikalisme pada anak.

 

“Pencegahan radikalisme pada anak sama dengan ajakan toleransi,” tutur Nining.

 

“Kalau kita mengajak anak-anak sikap-sikap toleransi ini, akan menghasilkan anak-anak yang memiliki sikap menghargai dan menghormati, yang ini adalah sama dengan rendah hati,” jelasnya.

 

Selain Ninin dan Nining dalam workshop virtual bertema “Gotong Royong Guru dan Orang Tua Murid dalam Pendidikan Karakter Anak Usia Dini untuk Mencegah Kekerasan Fisik, Bullying, dan Radikalisme di Masa Pandemi Covid-19 dengan Kartu Pintar Tamaito (Cinta Damai dan Toleran)” ini hadir pula Ketua Yayasan PSA Bocah Pintar, Rahadi, dan Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Jaten, Karanganyar, Suyanto. Workshop yang berlangsung pada 1-2 November 2021 ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Studi Anak (PSA) Bocah Pintar dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) guna mensosialisasikan metode permainan edukatif anak Kartu Pintar Tamaito (Cinta Damai dan Toleran). Workshop ini merupakan gelombang pertama dari total dua gelombang, yang diikuti oleh 50 guru PAUD dan 50 orang tua anak usia dini dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: