Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Maraknya Jasa Pembuatan Skripsi, Ke Mana Integritas Akademik?

Jasa pembuatan skripsi bertentangan dengan semangat pendidikan dan tak mencerminkan integritas
  • 05 Juli 2021
  • 0 Komentar

Maraknya Jasa Pembuatan Skripsi, Ke Mana Integritas Akademik?

Fenomena jasa pembuatan skripsi yang dijumpai di sekitar wilayah kampus hingga daring, mengingatkan pentingnya menginternalisasi nilai-nilai integritas dalam upaya mengikis mentalitas instan yang dapat menghambat mutu akademik.

Jakarta (31/05/2021) Acap kali kita menjumpai pamflet jasa pembuatan skripsi tertempel di tepi-tepi jalan dengan mudahnya. Tak hanya itu, iklan jasa pembuatan skripsi pun kini mudah dijumpai pula secara daring. Fenomena tersebut kiranya menandakan bahwa kesadaran untuk menjunjung tinggi integritas masih belum dihayati sepenuhnya oleh segenap mahasiswa, yang dapat menjadi batu ganjalan di tengah upaya menegakkan dan meningkatkan mutu akademik terutama di tingkat perguruan tinggi. 

Pada praktiknya, jasa yang ditawarkan pun tidak hanya mencakup skripsi bagi jenjang S1, namun biasanya mencakup pula layanan bagi jasa pembuatan tesis untuk jenjang S2, disertasi untuk jenjang S3, hingga penugasan makalah ataupun karya ilmiah. Penyedia layanan ada yang membuka jasa secara perorangan ataupun membentuk tim. Selain itu, ada yang secara terang-terangan menuliskan jasa skripsi, ada pula yang berkedok jasa konsultasi ataupun bimbingan penulisan skripsi. Tarif yang dipatok pun bervariasi, biasanya semakin tinggi strata sarjana maka biaya tugas akhir pengerjaannya akan semakin mahal. Mengutip harian Kompas, jasa tersebut berkisar ratusan ribu rupiah untuk pembuatan karya tulis atau jurnal ilmiah, hingga puluhan juta rupiah untuk jenjang disertasi S3.

Era digital tampaknya membuat jasa pembuatan skripsi pun semakin mudah ditemui. Ketuk saja di mesin pencarian internet “jasa skripsi” maka akan keluar beragam rekomendasi penyedia layanan pembuatan tugas akhir mahasiswa tersebut. Begitu pula ketika melakukan pencarian “jasa skripsi” pada sosial media seperti Instagram atau Twitter, bahkan platform marketplace pun dimanfaatkan untuk sebagai media mencari dan menawarkan jasa pembuatan skripsi. Selain untuk mempromosikan jasa/layanan, internet juga dimanfaatkan sebagai medium interaksi dan konsultasi antara pembuat dan pembeli layanan tersebut secara daring. Sehingga bukan mustahil misalnya penyedia jasa skripsi di Yogyakarta dapat menggarap skripsi mahasiswa di Makassar.

Seperti dilansir harian Kompas, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret, Ravik Karsidi, mengatakan pemanfaatkan jasa pembuatan tugas akhir mahasiswa untuk lulus bisa marak karena banyak orang bermental instan, di mana ingin meraih gelar akademik, tanpa mau bersusah payah menempuh proses. Di samping harus memerangi sikap masyarakat bermental instan yang suka ‘menerabas’, aturan-aturan di perguruan tinggi yang ketat juga kiranya dapat menjadi salah satu filter dalam menegakkan integritas akademik. Hal senada juga dilontarkan oleh Budi Agus Riswandi, Kepala Pusat Studi Hak Kekayaan Intelektual Universitas Islam Indonesia (HKI UII), sebagaimana dikutip Brilio.net, bahwa tindakan mengkomersialkan skripsi sangat bertentangan dengan semangat pendidikan. Karena tujuan diadakannya tugas akhir adalah mengaktualisasikan pengetahuan mahasiswa yang diperoleh selama kuliah, jika proses tugas akhir dilakukan oleh orang lain maka sebenarnya terjadi pembodohan generasi masa depan.

Baik mahasiswa pemakai jasa pembuatan skripsi maupun penyedia jasa skripsi itu sendiri kiranya sama-sama tak mencerminkan integritas dan termasuk pelanggaran berat terhadap etika akademik. Membayar orang lain untuk mengerjakan skripsi juga merupakan bentuk tindakan yang tak bertanggung jawab, yang dapat merugikan diri sendiri serta berdampak pada masa depan. Oleh karena itu, beberapa universitas pun kini mulai menggunakan program pendeteksi plagiarisme yakni Turnitin, guna menguji keaslian karya atau tugas para mahasiswa. Hasil uji Turnitin yang dapat membaca indeks kesamaan/kemiripan tulisan tersebut bahkan kerap dijadikan sebagai syarat mahasiswa untuk mendaftar sidang ujian skripsi ataupun tugas akhir lainnya. Sehingga bisa jadi mereka yang tidak menyusun skirpsinya sendiri, melainkan menggunakan jasa joki, dapat tidak lolos uji Turnitin.

Mengutip Bisnis.com, aplikasi berbasis web tersebut diluncurkan sejak 1997 dan kini sudah digunakan di lebih dari 15.000 institusi, serta 34 juta pengguna di 140 negara di dunia ___ termasuk Indonesia. Teknologi di atas hanyalah salah satu cara atau perangkat yang dapat dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya plagiarisme maupun joki jasa pembuatan tugas akhir kuliah. Tentu, dibutuhkan peranan bersama untuk mengatasi fenomena dalam dunia pendidikan ini guna meningkatkan kualitas akademik. Kita pun dapat memulainya terlebih dahulu dari diri sendiri untuk mengikis mentalitas instan dengan selalu menanamkan dan menjunjung teguh nilai-nilai integritas. #AyoBerubah #Integritas

 

Sumber Foto:

https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2020/03/09/510/1033821/bisnis-lancung-jasa-bikin-skripsi-libatkan-guru-sma-hingga-dosen

 

Referensi:

Kompas.id, 7/10/17

Brilio.net, 15/03/17

Lifestyle.bisnis.com, 23/07/20

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: