Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Marakka Bola’: Tradisi Unik Bergotong Royong Memindahkan Rumah Seutuhnya

Marakka bola, tradisi suku Bugis bergotong royong memindahkan rumah
  • 13 April 2021
  • 0 Komentar

Marakka Bola’: Tradisi Unik Bergotong Royong Memindahkan Rumah Seutuhnya

Tradisi Marakka’ Bola yang telah berlangsung turun temurun mencerminkan gotong royong sebagai ciri khas dan jati diri bangsa Indonesia, yang patut terus dirawat dan dilestarikan demi menumbuhkan persatuan.

 

Jakarta (06/04/2021) Sobat Revmen apa yang kalian pikirkan bila mendengar kata pindah rumah? Mengemas barang-barang lalu mengirimnya ke rumah baru? Eits, itu memang yang lazimnya dilakukan. Tapi masyarakat suku Bugis di Sulawesi Selatan punya tradisi unik yaitu memindahkan rumah seutuhnya dengan bergotong royong membopongnya. Tradisi Marakka’ Bola yang dikenal juga sebagai tradisi Mappalette Bola itu sudah berlangsung turun-temurun dan masih hidup sampai sekarang, lho!

 

Rumah panggung yang terbuat dari kayu menjadi karakteristik kebanyakan rumah masyarakat suku Bugis. Begitu pula halnya dengan rumah penduduk suku Bugis di Desa Lalabata, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, yang melangsungkan tradisi Marakka’ Bola. Bobot rumah yang dipindahkan tentu saja tidak ringan, bahkan dapat mencapai puluhan ton. Oleh karenanya tradisi ini melibatkan puluhan bahkan ratusan warga untuk bergotong royong memindahkan rumah ke lokasi yang baru. Proses pengangkatan dan pemindahan rumah sendiri akan dipimpin oleh seorang ketua adat yang bertugas memimpin doa serta memberi aba-aba dan mengarahkan warga.

 

Tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang suku Bugis ini berangkat dari filosofi bahwa rumah dianggap sebagai tanah leluhur mereka. Sehingga harus tetap dijaga keutuhannya secara turun menurun sekalipun pindah ke lokasi yang baru. Bila lokasi baru dekat dengan lokasi semula maka bagian bawa rumah dipasangi roda/ban sehingga rumah hanya akan didorong. Sedangkan bila lokasi baru ternyata jauh dengan lokasi semula, maka warga akan bergotong royong mengangkat rumah bersama dengan dipasangi bambu terlebih dahulu sebagai pegangan untuk diangkat. 

 

Tradisi Marakka’ Bola mencerminkan nilai-nilai gotong royong yang kental. Di mana, masyarakat akan secara sukarela dan spontan membantu memindahkan rumah warga ke lokasi yang baru tanpa dibayar. Kegiatan memindahkan rumah hanya dilakukan oleh warga laki-laki, sedangkan para perempuan akan membantu menyiapkan aneka kudapan khas Bugis seperti seperti kue bandang, baronggo, suwella, dan minuman lainnya untuk para warga yang ikut memindahkan rumah.

 

Setelah rumah berhasil dipindahkan ke lokasi yang baru, maka kegiatan dilanjutkan dengan acara syukuran atau Baca Barazanji, yang bertujuan agar rumah yang baru saja dipindahkan terhindar dari bencana dan malapetaka. Acara pun diakhiri dengan makan bersama menyantap hidangan yang disediakan pemilik rumah sebagai bentuk silaturahmi, sekaligus ucapan terima kasih kepada seluruh warga yang rela meluangkan waktu untuk membantu memindahkan rumah. Wah, keren banget enggak sih sobat Revmen? Hal yang kedengarannya mustahil seperti memindahkan rumah, menjadi mungkin apabila dilandasi dengan semangat gotong royong.

 

Tradisi Marakka’ Bola yang berlandaskan asas gotong royong mencerminkan kebersamaan yang tumbuh di tengah masyarakat dan sarat akan muatan kebaikan. Gotong royong merupakan salah satu nilai penting dalam membangun karakter bangsa. Dengan merawat gotong royong kita sekaligus memupuk kepedulian sosial dan rela berkorban demi menyelesaikan persoalan bersama, sehingga dapat menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan. Berkaca pada tradisi Marakka’ Bola yang masih lestari hingga saat ini, yuk kita terus bumikan semangat gotong royong dalam berbagai tradisi baik lainnya di tengah masyarakat! #AyoBerubah

 

Sumber Foto: Lomba Foto Revolusi Mental Tahun 2017


Referensi:

Batam.tribunnews.com, 12/30/2017

Kebudayaan.kemdikbud.go.id, 18/10/2018

Today.line.me, 07/05/2019

Goodnewsfromindonesia.id, 10/11/2018

 

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Wahyu Sujatmoko.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: