Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

MAKNA PAHLAWAN DAN KEPAHLAWANAN

Ilustrasi pahlawan nasional
  • 09 November 2021
  • 0 Komentar

MAKNA PAHLAWAN DAN KEPAHLAWANAN

Pahlawan pada era sekarang mesti memiliki fondasi nilai-nilai yang paling mewakili situasi sosial dan setting sejarah kekinian, yakni nilai etos kerja, integritas dan gotong royong.

 

Jakarta (08/11/2021) Pahlawan muncul pada setiap babakan sejarah. Kemunculan para pahlawan di tengah masyarakat bukan saja karena dibutuhkan, melainkan juga karena ada orang-orang tertentu yang terdorong untuk melakukannya. Oleh karena itu studi sosiologi mengenai kepahlawanan mempersepsikan pahlawan sebagai “orang-orang besar” (greatman) yang muncul di tengah masyarakat dan menjadi fenomena sosial. Arti dari “orang-orang besar” dapat diterjemahkan sebagai orang yang besar keberaniannya, besar pengorbanannya, besar citranya, besar massa pengikutnya, besar hartanya atau besar intelektualitasnya.

 

Tidak ada satu tradisi pun yang secara sengaja melahirkan pahlawan. Situasi sosial dan setting sejarahlah yang melahirkannya. Pada masa perjuangan kemerdekaan, pahlawan muncul di tengah masyarakat Indonesia karena adanya penindasan yang dilakukan oleh penjajah asing. Setting sejarah dan situasi sosial saat itu kemudian melahirkan para pahlawan yang rela sepenuh hati berjuang demi melawan penjajah. Definisi “melawan penjajah” pada masa perjuangan kemerdekaan identik dengan perang bersenjata dan konfrontasi politik. Maka muncullah banyak nama pahlawan, seperti Pangeran Diponegoro, Kapten Pattimura, Cut Nyak Dhien, Bung Tomo, Jendral Sudirman, dan sederet nama lain dari berbagai wilayah Indonesia yang terjun langsung ke medan peperangan. Namun demikian, nama-nama seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Abdul Muis, Ki Hajar Dewantara, Sutan Sjahrir, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, RA. Kartini, Kahar Muzakar dan lain-lain juga termasuk sebagai pahlawan pejuang kemerdekaan, meski mereka tidak mengangkat senjata. Sebagian dari mereka menempuh jalur pendidikan, sebagian menempuh jalur kebudayaan dan sebagian yang lain menempuh jalur politik. Meski pun memiliki area perjuangan yang berbeda, namun mereka memiliki kesamaan bahwa penjajahan harus dilawan dan Indonesia harus merdeka. Sebagai catatan, konfrontasi dilakukan oleh para pahlawan perjuangan ketika itu adalah karena ada musuh yang nyata, yakni kolonialisme Belanda, Portugis, Jepang, Inggris, Spanyol dan Prancis.

 

Namun pada masa sekarang, tidak ada lagi penjajah yang secara kasat mata menduduki wilayah Indonesia, apalagi sambil menenteng senjata. Maka perjuangan para pahlawan pada masa sekarang tidak lagi dengan mengangkat senjata, melainkan mengisi pembangunan dengan berbagai kontribusi nyata yang kreatif, produktif dan inovatif. Milenial misalnya, tidak lagi mempersepsikan pahlawan sebagai para pejuang yang piawai bertarung secara fisik, melainkan orang-orang yang mahir dalam membangun start-up, menginisiasi gerakan sosio-ekonomi atau merancang platform aplikasi yang memiliki manfaat bagi bangsa dan negara. Titik tekannya bukan lagi pada prinsip “merdeka atau mati,” melainkan pada “siapa yang bermanfaat bagi orang banyak.” Untuk itu pahlawan pada era sekarang mesti memiliki fondasi nilai-nilai yang paling mewakili situasi sosial dan setting sejarah kekinian, yakni nilai etos kerja, integritas dan gotong royong.

 

Memahami Arti Pahlawan dan Kepahlawanan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pahlawan didefinisikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; Pejuang yang gagah berani. Franco, Blau dan Zimbardo mendefinisikan pahlawan: (1) Orang yang bertindak secara sukarela untuk melayani orang lain yang membutuhkan; (2) Orang yang bertindak tanpa mengharapkan imbalan dari orang lain; (3) Orang yang siap menerima resiko dari tindakan heroik.

 

Melalui definisi-definisi di atas, maka yang dimaksud dengan pahlawan bukan hanya para pejuang yang mengangkat senjata, melainkan siapa pun yang memiliki keberanian dan rela berkorban dalam membela kebenaran demi membantu orang lain yang membutuhkan. Jika Sobat Revmen secara sukarela menciptakan sebuah aplikasi yang mampu meningkatkan perekonomian para petani, maka Sobat juga termasuk ke dalam kategori pahlawan. Demikian juga jika Sobat revmen menolong seorang ibu yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, melakukan advokasi untuk buruh migran di luar negeri yang diperlakukan tidak manusiawi oleh majikannya, atau jika Sobat secara rutin menggelorakan budaya literasi kepada anak-anak putus sekolah, dan lain-lain, maka Sobat adalah seorang pahlawan. Meski Sobat tidak mendapatkan gelar “Pahlawan Nasional,” Sobat tetaplah seorang pahlawan.

 

Sementara pengertian kepahlawanan menurut KBBI adalah perihal sifat pahlawan, seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban dan kekesatriaan. Jadi, apakah seseorang mengangkat senjata layaknya Pangeran Diponegoro, melalui jalur pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara, melalui jalur politik seperti Soekarno, atau melalui jalur kebudayaan seperti Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari atau R.A. Kartini, semua dapat dikategorikan sebagai pahlawan sepanjang mereka memenuhi kriterianya, yakni berjuang demi kebenaran.

 

Tidak semua pahlawan di Indonesia mendapat anugerah sebagai pahlawan nasional. Menurut UU Nomor 20 Tahun 2009, “Pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada Warga Negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.”

 

Berdasarkan kategori itu, Direktorat K2KRS Kementerian Sosial (Kemensos) mencatat bahwa hingga tahun 2020 negara telah menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada sebanyak 191 pejuang dengan berbagai bentuk perjuangannya. Maka boleh kita simpulkan bahwa pahlawan nasional adalah pahlawan yang levelnya berada satu tingkat lebih prestisius (karena perjuangan dan pengorbanannya) di antara para pahlawan lain. Namun itu bukan berarti bahwa pahlawan-pahlawan lain tidak dihargai oleh negara, melainkan posisi dan perannya sudah diwakili oleh para pahlawan yang mendapatkan gelar. Sebab bagaimana pun, meski tanpa gelar “pahlawan nasional,” para pahlawan yang ada di tengah-tengah masyarakat tetap penting, dibutuhkan dan perlu hadir.

 

Urgensi Kepahlawanan bagi Masyarakat

Muncul sebuah pertanyaan: “Kenapa masyarakat membutuhkan pahlawan?”  Setidaknya ada lima alasan mendasar kenapa pahlawan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Pertama, menjadi sosok teladan. Hampir setiap individu membutuhkan sosok teladan yang dapat menjadi inspirasinya dalam bertingkah laku. Studi yang dilakukan Kinsellaet al menemukan fakta bahwa 66% responden yang disurveinya mengaku memiliki “pahlawan pribadi” (personal hero) dalam hidupnya. Sosok pahlawan dapat menjadi model ikutan (role model) bagi seseorang untuk bertindak dengan baik.

 

Kedua, pahlawan merupakan sosok yang dianggap mampu menutupi dan mengaktualisasikan kualitas-kualitas yang hilang dari dalam diri seorang individu. Seorang ayah penakut yang sedang mengajarkan anaknya tentang keberanian akan menggunakan nama sesosok pahlawan agar anaknya bisa memiliki gambaran dalam imajinasinya. Seorang tokoh masyarakat yang berada di sebuah negara yang dipimpin oleh penguasa keji akan menceritakan pada masyarakat bagaimana Nabi Daud (David) mampu menumbangkan kekuasaan Jalut (Goliath) yang perkasa.

 

Ketiga, pahlawan memberikan harapan. Ketika pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, tenaga kesehatan dari seluruh pelosok tanah air segera turun langsung dan berdiri di garda terdepan. Mereka adalah para pahlawan yang bukan saja membantu masyarakat dalam memulihkan kesehatan fisik, melainkan juga memulihkan kesehatan psikis. Tenaga kesehatan telah memberikan harapan yang kemudian membuat masyarakat menjadi lebih percaya diri dan lebih tenang dalam menghadapi pandemi Covid-19.

 

Keempat, pahlawan memvalidasi (mengesahkan) pandangan moral masyarakat. Seorang tokoh anti korupsi berjuang menentang koruptor kelas kakap, kemudian tokoh itu gugur, maka kematiannya bukan hanya menjadi sumber inspirasi, melainkan juga memvalidasi bahwa korupsi itu salah dan harus dilawan apapun resikonya. Ketika Bung Tomo berpidato penuh semangat tentang betapa bencinya dia terhadap penjajahan, maka semangatnya itu telah memvalidasi para pemuda untuk melakukan perlawanan di seantero Surabaya melawan pasukan Inggris.

 

Kelima, pahlawan menyelesaikan masalah konkret. Pahlawan bukan seorang yang hanya gemar bercerita dan mendengungkan isu moral, melainkan orang yang benar-benar melakukan tindakan nyata untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat. Poin kelima inilah yang paling signifikan ada di dalam diri seorang pahlawan.

 

Sobat Revmen, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November, mari sama-sama kita renungkan mengapa ada orang yang mampu menjadi pahlawan dan ada juga yang tidak. Kita mungkin memiliki beragam persepsi untuk menjawab hal itu. Namun satu hal yang pasti, pahlawan segera bertindak ketika melihat ada masalah di sekitarnya. Tidak ada salahnya kita menumbuhkan jiwa kepahlawanan di dalam diri masing-masing. Sebab, akan selalu ada orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Kita dapat menumbuhkan jiwa kepahlawanan itu dengan melakukan hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menolak melakukan perbuatan yang dapat merugikan orang lain, tidak berlaku curang dalam berbisnis atau tidak menyebarkan kebencian dan fitnah demi keuntungan sesaat. #AyoBerubah #HariPahlawan #Integritas #IndonesiaBersatu

 

 

Referensi:

 

Journals.sagepub.com. (2018).. Diakses tanggal 6 November 2021.

Kompaspedia.kompas.id. (2020). Diakses tanggal 6 November 2021.

Ncbi.nlm.nih.gov. (2015). Diakses tanggal 6 November 2021.

Psycnet.apa.org. (2015). Diakses tanggal 6 November 2021.

Richmond.edu. (2013). Diakses tanggal 6 November 2021.

Scu.edu. (2000). Diakses tanggal 6 November 2021.

Verywellmind.com. (2020). Diakses tanggal 6 November 2021.

 

 



Penulis: Robby Milana

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: