Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Maggha Karaneya, Dirikan Rumah untuk Bayi Terlantar di Bali

Maggha Karaneya Kang pendiri Yayasan Metta Mama & Maggha di Bali untuk menampung bayi terlantar
  • 08 Januari 2022
  • 0 Komentar

Maggha Karaneya, Dirikan Rumah untuk Bayi Terlantar di Bali

Lewat Metta Mama & Maggha yang didirikannya, Maggha Karaneya mendirikan tempat bernaung bagi bayi-bayi terlantar agar bertumbuh kembang dengan layak, optimal, dan penuh kasih sayang. 


Jakarta (8/1/2021) Setiap bayi memiliki hak untuk dapat bertumbuh kembang dan hidup dengan layak. Namun sayangnya ada sebagian bayi terlahir kurang beruntung yang terlantar sehingga membutuhkan tempat berlindung yang aman agar dapat tumbuh secara optimal. Adalah Maggha Karaneya, perempuan muda asal Bali yang menaruh dedikasi terhadap nasib bayi-bayi yang terlantar. Di usianya yang masih belia ia pun tergerak mendirikan rumah untuk menampung dan merawat bayi-bayi terlantar yang diberi nama Yayasan Metta Mama & Maggha. Seperti apa kisahnya? Yuk sobat Revmen, kita simak kisah sosok inspiratif muda berikut ini!


Maggha Karaneya Kang, perempuan kelahiran tahun 1999 itu merupakan pendiri Yayasan Metta Mama & Maggha yang berlokasi di Denpasar, Bali. Yayasan yang menampung bayi-bayi terlantar di wilayah Bali dan sekitarnya itu ia dirikan saat usianya baru 15 tahun. Pada November 2014 izin untuk mendirikan yayasan sosial itu akhirnya keluar dan resmi beroperasi sejak Maret 2015. Mengutip mediaindonesia.com, nama Yayasan Metta Mama & Maggha yang unik tersebut memiliki arti tersendiri. ‘Metta’ berarti cinta kasih, sedangkan ‘Mama’ berarti ibu, dan ‘Maggha’ selain nama pendirinya juga memiliki arti jalan yang benar. Melalui yayasan yang didirikannya, Maggha merawat serta mengasuh bayi-bayi yang terlantar karena ia percaya bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan kasih sayang, hidup yang layak, serta menjadi versi terbaik diri mereka sendiri. 

 

Gagasan Maggha membangun rumah untuk menampung bayi-bayi terlantar sendiri mulai tercetus kala usianya baru 14 tahun, yang berawal dari keprihatinannya terhadap fasilitas sejumlah panti atau tempat penampungan bayi terlantar yang kurang prima. Meski usianya masih belia Maggha serius dengan tekadnya tersebut, bahkan ia memutuskan untuk pindah sekolah menjadi homeschooling agar bisa lebih fokus menjalankan yayasannya. Dilansir popbela.com, meski banyak dibantu oleh sang ibu untuk mengurus masalah administrasi pendirian yayasan dan masih banyak lagi, Maggha bertindak sebagai kepala yayasan yang terlibat secara aktif di lapangan. Mulai dari memandu program dan rencana yayasan, hingga semua proses mekanisme yang dilakukan ketika ada bayi terlantar yang membutuhkan tempat berlindung. Semua ini ia lakoni sambil tetap bersekolah. Hebat bukan, sobat Revmen? 


Meski datang dari keluarga yang berkecukupan, Maggha selalu diajari untuk hidup sederhana dan memiliki sikap peduli terhadap mereka yang membutuhkan. Ia juga dilahirkan di keluarga yang penuh kehangatan, perhatian dan kasih sayang. Untuk itu, ia tak ingin ada bayi yang terlantar dan merasa tidak diinginkan atau disayangi. Bayi-bayi yang berada di yayasannya itu berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang menyerahkan bayinya ke yayasan Metta Mama dan Maggha karena korban perkosaan, dibuang begitu dilahirkan, hingga bayi yang dilahirkan dari pasangan yang tidak disetujui keluarga karena persoalan kasta, termasuk mendapatkan informasi mengenai bayi terlantar dari media sosial serta bekerjasama dengan RSUP Sanglah dan RSUD Badung. Tak hanya memfasilitasi tempat untuk menampung bayi-bayi terlantar, Yayasan Metta Mama & Maggha juga menjadi rumah aman bagi ibu hamil yang ditolak atau tidak diterima oleh keluarganya.