Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

LIMA PRINSIP MINDFUL PARENTING UNTUK MENGASUH ANAK SECARA BERKESADARAN

Seorang ibu sedang berkomunikasi dengan anaknya
  • 13 September 2021
  • 0 Komentar

LIMA PRINSIP MINDFUL PARENTING UNTUK MENGASUH ANAK SECARA BERKESADARAN

Mindful parenting adalah pola asuh berkesadaran, di mana orang tua sadar bahwa mereka bukan “orang tua biologis” semata yang hanya memperhatikan pertumbuhan fisik anak, melainkan juga “orang tua psikologis” yang mengerti bahwa ada perasaan dan tingkah laku anak yang juga butuh perhatian.

 

Jakarta (19/08/2021) Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Satu-satunya universitas untuk mata kuliah ini adalah universitas kehidupan. Namun, meski tidak ada sekolahnya, menjadi orang tua yang ideal tetap dapat dilakukan. Kuncinya ada dua, yaitu mau belajar dan bersedia dikoreksi terus menerus oleh perubahan. Untuk menjadi orang tua pembelajar, orang tua tentu harus rajin membaca, gemar mendengarkan, suka memperhatikan dan tidak capek untuk mengeksplorasi hal-hal baru yang menarik untuk anak-anak. Baca buku menjadi bagian penting. Tapi jangan takut, karena sekarang ini banyak banget buku-buku bagus dan gratis yang bisa dijadikan referensi. Salah satunya buku “Mindful Parenting” karangan Melly Amaya Kiong, yang e-booknya bisa didownload di link ini.

 

Apa sih mindful parenting? Mungkin Sobat Revmen sudah pernah mendengar istilah ini. Jadi, mindful parenting adalah pola asuh berkesadaran, di mana orang tua sadar bahwa mereka bukan “orang tua biologis” semata yang hanya memperhatikan pertumbuhan fisik anak, melainkan juga “orang tua psikologis” yang mengerti bahwa ada perasaan dan tingkah laku anak yang juga butuh perhatian.

 

Dalam konsep midful parenting terdapat lima prinsip untuk mengasuh anak secara berkesadaran. Prinsip Pertama, mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan empati. Ketika anak tengah berbicara kepada orang tua, maka orang tua harus mendengarkan dengan sepenuh hati. Orang tua harus menguasai kemampuan active listening, bukan passive hearing. Pengertian passive hearing adalah mendengar, namun tanpa perhatian. Seperti kata pepatah, “Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri,” itulah passive hearing. Sementara active listening adalah mendengar disertai dengan perhatian. Ada kesadaran pada saat mendengarkan. Inilah yang harus dilakukan orang tua kepada anaknya. Beri perhatian penuh ketika anak bicara. Orang tua yang memiliki kemampuan active listening juga akan memberikan respon yang penuh empati. Misalnya anak bilang, “Ibu, kemarin aku menggambar. Terus teman-teman aku suka. Mereka bilang gambar yang aku bikin itu bagus.” Orang tua dengan kemampuan active listening tidak akan memberi respon, “Oh gitu ya” atau “Masa sih,” melainkan akan memberikan respon, “Keren amat. Memangnya kamu gambar apa? Coba ceritakan sama ibu semuanya.”

 

Prinsip Kedua, tidak menghakimi. Konsep menghakimi selalu memiliki konotasi negatif.  Semua kata yang bersifat menghakimi dapat melukai harga diri dan kepercayaan diri anak. Contoh kalimat menghakimi, “Kamu kok bodoh banget. Itu kan gampang banget,” atau “Dasar pemalas. Kenapa sih kamu ga bisa kayak kakak mu.” Setiap kata menghakimi yang keluar dari mulut orang tua, akan menjadi karat bernama “labelling,” di mana anak akan bertingkah laku sesuai dengan label yang diberikan orang tua. Misalnya anak diberi label “bodoh,” maka mereka akan menjadi betul-betul bodoh. Kenapa? Karena di alam bawah sadarnya “bodoh” telah dianggap sebagai sebuah kebenaran yang menjadi identitas diri anak. Serem juga ya, Sobat. Oleh karena itu, dalam mindful parenting orang tua dilarang untuk menghakimi anak, terutama dengan menggunakan kalimat-kalimat labelling.

 

Prinsip Ketiga, pengendalian emosi diri. Ini adalah prinsip yang paling sulit dilakukan. Orang tua diwajibkan untuk mengendalikan emosinya kepada anak. Misalnya ketika anak mendapatkan nilai jelek saat ujian, orang tua tidak boleh memarahi anak. Lalu apa yang harus dilakukan? Sebaiknya orang tua melihat semua sisi kenapa anak sampai mendapatkan nilai jelek. Bisa saja karena anak baru pernah mempelajari pelajaran itu, bisa juga karena anak tidak suka pelajarannya, atau bisa juga karena hal-hal lain yang memang harus dicarikan solusinya oleh orang tua. Benar, itu kuncinya. Saat anak “membuat kesalahan,” orang tua sebaiknya tidak menunjukan emosi, melainkan memberikan solusi. Dan mohon diingat, terkadang solusi tidak harus datang dari orang tua, bisa saja datang dari anak. Oleh karena itu, orang tua yang sudah menjalankan prinsip pertama, yakni memiliki kemampuan mendengarkan, akan mudah mengendalikan emosinya saat berhadapan dengan anak.

 

Prinsip Keempat, adil dan bijaksana. Orang tua yang adil dan bijaksana adalah orang tua yang memberikan apa yang dibutuhkan anak, bukan apa yang diinginkan anak. Orang tua yang selalu memberikan apa yang diinginkan anak akan menciptakan anak-anak yang tidak memiliki daya juang. Anak mungkin akan kecewa. Namun orang tua harus memberikan pengertian bahwa itu adalah yang terbaik untuknya.

 

Prinsip kelima, welas asih. Orang tua yang welas asih akan mendidik anak dengan empati. Anak yang dididik dengan empati, akan tumbuh menjadi anak yang bukan hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan juga memikirkan orang lain dan sekitarnya. Cobalah suatu ketika Sobat Revmen bercerita tentang semut: “Ayah memiliki seekor semut. Lihat nih, tubuhnya kecil. Sekali pencet pasti langsung mati. Ayah pencet ya.” Ketika akan memencet semut, perhatikan ekspresi anak. Kemudian Sobat Revmen berpura-pura kaget, “Astaga semutnya ngomong. Katanya, tolonglah manusia. Jangan bunuh aku. Aku memiliki anak-anak yang masih membutuhkan aku. Jika aku mati, siapa yang akan memberi mereka makan.” Perhatikan kembali wajah anak, apakah sudah berubah? “Ayah tidak jadi deh memencet semut ini. Ayah kasihan. Semut aja masih peduli kepada semut lainnya kan, apalagi kita. Dadah semut, selamat mencari makan untuk anak-anak kamu ya.”

 

Sobat Revmen, memang betul bahwa menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Namun kita bisa terus belajar agar menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak. Sebab mereka membutuhkan kita untuk tumbuh, untuk berbahagia, dan untuk menggapai cita-cita mereka. Mari kita menjadi orang tua yang selalu menguatkan ketahanan, meningkatkan kualitas dan memperbesar peranan keluarga, agar anak-anak juga turut berkembang menjadi bagian dari generasi bangsa yang berkarakter dan memiliki kontribusi bagi masyarakat. Nah buku Mindful Parenting dapat dijadikan referensi yang positif. Jika Sobat tertarik membaca bukunya, jangan lupa untuk download e-booknya ya. #AyoBerubah #RevolusiMental #KeluargaIndonesia

 


Referensi:

Melly Amaya Kiong. (2021). Mindful Parenting. Jakarta: Kementerian coordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.


 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: