Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Latih Toleransi Sejak Dini Lewat Sekolah Inklusi

Latih Toleransi Sejak Dini Lewat Sekolah Inklusi
  • 23 Maret 2021
  • 0 Komentar

Latih Toleransi Sejak Dini Lewat Sekolah Inklusi

Toleransi dapat dimulai dari hal terkecil yakni menerima perbedaan. Hal tersebut salah satunya dapat ditumbukan melalui pendidikan inklusif yang memungkinkan anak berkebutuhan khusus (ABK) berbaur dan belajar bersama dengan siswa umum lainnya.

 

Jakarta (21/03/2021) Setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa memandang status, agama, suku, ras, maupun golongan tertentu. Tak terkecuali dengan anak berkebutuhan khusus (ABK), yang mengalami keterbatasan atau keluarbiasaan pada mental, emosional, maupun fisik. Pendidikan ABK tidak hanya di selenggarakan di Sekolah Luar Biasa (SLB), namun juga dapat ditempuh di sekolah reguler atau sekolah inklusi yang memungkinkan ABK beroleh proses pembelajaran yang sama dengan siswa umum lainnya. Di mana, pendidikan inklusif kiranya baik untuk penanaman karakter sejak dini pada anak tentang nilai-nilai toleransi, keberagaman, saling menghormati, dan menghargai sesama.

 

Menurut Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009, pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus yang dimaksud di antaranya seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan motorik, autis, dan memiliki kelainan lainnya.

 

Adapun pendidikan inklusif sendiri bertujuan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Selain itu pendidikan inklusif juga bertujuan untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman, dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik termasuk ABK.

 

Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif hendaknya mampu memfasilitasi setiap anak tanpa membedakan kondisi fisik, intelektual, sosial-emosional, linguistik atau kondisi lainnya karena ABK akan dididik bersama siswa umum lainnya yang tidak memiliki keterbatasan serupa. Sehingga melalui metode pembelajaran tersebut, para siswa dapat terlatih dan terdidik untuk dapat menghargai, menghormati, memperlakukan orang lain dengan baik, dan menerima satu sama lain dengan penuh empati.

 

Pembauran ABK dengan siswa umum lainnya juga dapat melatih anak untuk mencintai perbedaan, yang mana menjadi langkah awal mencegah lahirnya perundungan yang kerap terjadi di kalangan pelajar. Karena bila dibiasakan sejak dini, siswa akan beroleh pemahaman bahwa kita dilahirkan dengan bakat dan keahlian masing-masing, baik yang lahir sempurna ataupun yang dilahirkan dengan keterbatasan. Adapun manfaat sekolah inklusi bagi ABK ialah dapat mendorong lebih percaya diri serta meningkatkan sosialisasi dan interaksi dengan masyarakat sekitar sehingga merasa menjadi bagian dari masyarakat tersebut. 

 

Nah Sobat Revmen di bilangan Bogor, Jawa Barat, ada salah satu sekolah yang telah menyelenggarakan pendidikan inklusif selama sekitar sepuluh tahun, lho! Terletak di kawasan Parung, sekolah Marsudirini Bogor memiliki 44 siswa ABK dari SD hingga SMA. Sekolah ini juga menyiapkan sejumlah fasilitas penunjang seperti kebun dan gedung khusus agar ABK bisa belajar mengenai life skill. Seperti dilansir IDN Times, salah seorang siswa, Maria Christina, mengungkapkan bahwa keberadaan siswa ABK di sekolahnya tak memberi perbedaan dalam hal bersosialisasi. Baginya, mereka adalah teman yang sama bahkan beberapa di antaranya memiliki keistimewaan di bidang tertentu.

 

Pendidikan inklusif diselenggarakan di beberapa sekolah reguler baik negeri maupun swasta yang ditunjuk oleh pemerintah. Beberapa di antaranya yaitu SMA Stella Duce 2 Yogyakarta, SDN 131/IV Kota Jambi, SDN Cisalak 3, dan masih banyak lagi. Hal tersebut diatur dalam Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 yang mewajibkan agar pemerintah kabupaten/kota menunjuk paling sedikit satu sekolah dasar , dan satu sekolah menengah pertama pada setiap kecamatan, dan satu satuan pendidikan menengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif yang wajib menerima peserta didik berkebutuhan khusus.

 

Pendidikan inklusif memberikan pembelajaran langsung kepada siswa di mana toleransi dapat dimulai dari hal yang terkecil, yakni menerima perbedaan. Yuk Sobat Revmen, mari bersama-sama wujudkan lingkungan sekolah yang menyenangkan dan bebas dari kekerasan. Sebagaimana semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, semoga kita benar-benar dapat mewujudkan persatuan dengan toleransi yang sesungguhnya.  #AyoBerubah


Sumber Foto: https://nasional.tempo.co/read/543224/gunungkidul-siapkan-ratusan-sekolah-inklusi


Referensi:

Kompas.com, 02/03/2020

Kemdikbud.go.id, 29/04/20

Alodokter.com, 12/11/20

IDN Times, 16/12/18

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: