Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Kisah Nurhamid Karnaatmaja Dirikan Istana bagi ODGJ di Cianjur

Nurhamid Karnaatmaja pendiri Istana KSJ di Cianjur untuk  panti untuk merawat penderita skizofrenia atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)
  • 08 Januari 2022
  • 0 Komentar

Kisah Nurhamid Karnaatmaja Dirikan Istana bagi ODGJ di Cianjur

Lewat Istana KSJ yang didirikannya, Nurhamid Karnaatmaja berupaya membebaskan ODGJ yang terpasung sekaligus merawatnya untuk mendapatkan hidup yang layak dan menghapus stigma di masyarakat.


Jakarta (8/1/2021)  Orang Dengan Ganguan Jiwa (ODGJ) kerap kali mereka mendapat stigma negatif oleh masyarakat awam dengan menyebutnya orang gila, otak miring, dan lain sebagainya. Mereka dianggap berbahaya, meresahkan, bahkan menjadi momok atau aib bagi keluarga. Sehingga mereka pun kerap dijauhkan, diisolasi, atau dipasung agar mereka tidak mengganggu masyarakat lainnya. Gambaran miris akan tindakan yang tidak memanusiakan manusia tersebut, lantas menggerakan Nurhamid Karnaatmaja menjadi relawan peduli ODGJ dengan membebaskan mereka yang dipasung, merawat, serta memberikan pendampingan di Istana KSJ yang berlokasi di Cianjur, Jawa Barat. 


Istana KSJ didirikan oleh Nurhamid Karnaatmaja (62) pada 2009, sebagai panti untuk merawat penderita skizofrenia atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Cianjur, Jawa Barat. Mengutip Detik.com, Dahulu Istana KSJ merupakan kepanjangan dari Istana Komunitas Sehat Jiwa (KSJ), namun belakangan Nurhamid menghapus kepanjangan tersebut untuk menghindari stigma negatif bagi pasien ODGJ yang telah pulih maupun masyarakat. Sehingga cukup menyebut panti yang beralamat di Kampung Nagrak, Kabupaten Cianjur, tersebut dengan Istana KSJ saja. Istilah istana sendiri dipilih karena menjadi tempat perawatan layaknya istana bagi ODGJ yang dahulu hidupnya terlunta di jalanan, dipasung, dan mendapat perlakuan tak layak lainnya. 

 

Istana KSJ didirikan Nurhamid berangkat dari niatnya untuk memberikan manfaat bagi orang lain, khususnya mereka yang mengalami gangguan jiwa. ODGJ menurut Nurhamid kerap dimarginalkan, diperlakukan dengan tidak manusiawi, dan mendapat stigma negatif. Mengutip Merdeka.com, melalui Istana KSJ untuk itu Nurhamid berupaya menggeser paradigma dan stigma yang ada di masyarakat bahwa ODGJ bukanlah disebabkan oleh masalah mistis ataupun hal gaib sehingga kerap ditangani dengan cara tidak tepat. Melainkan adanya gangguan permasalahan organ tubuh yang semestinya ditangani secara medis serta diperlakukan dengan baik dan manusiawi. 

 


Di ruangan tanpa teralis seluas 6 x 11 meter persegi itu sekitar lebih dari 40 ODGJ mendapat perawatan dan penanganan layak yang dibagi dalam dua kelompok. Nurhamid menyebut dari jumlah tersebut ada pasien yang berasal dari titipan keluarga, ODGJ korban pasung yang dibebaskan, serta ODGJ yang dievakuasi dari jalanan. Di mana 50% dari penghuni Istana KSJ merupakan pasien titipan, sehingga dapat saling mencukupi untuk biaya operasional karena Istana KSJ dikelola secara mandiri. Nurhamid yang merupakan pensiunan guru Sekolah Dasar (SD) pun menekankan kasih sayang dan kelembutan sebagai metode yang diterapkan ketika berhadapan dengan ODGJ yang ada di pantinya. 

 

Selain itu, pola yang diterapkan di Istana KSJ ialah yang senior merawat dan menyayangi yang junior, alhasil tidak ada pertengkaran antara ODGJ yang baru masuk panti dengan penghuni lama. Melalui intervensi medis lewat terapi farmakologi yang teratur dan pendampingan yang dilakukan di Istana KSJ, banyak pasien yang sudah berhasil pulih dan kembali beraktivitas di masyarakat. Indikator kepulihannya menurut Nurhamid ialah mereka mampu produktif, mandiri, bermanfaat, dan enjoy. Bahkan keberadaan Istana KSJ pun membawa dampak meningkatnya kesadaran masyarakat sekitar Cianjur untuk memeriksakan kesehatan jiwanya. 


Sampai dengan Oktober 2021, Nurhamid setidaknya telah membebaskan lebih dari 400 ODGJ yang dipasung dan mendampingi lebih dari 3.000 masyarakat yang mengalami gangguan jiwa. Ia pun optimis ke depannya Indonesia akan zero pasung bagi ODGJ. Selain membebaskan ODGJ yang dipasung dan merawatnya, di waktu senggang Nurhamid juga kerap menyambangi mereka yang pernah dirawat di Istana KSJ dan telah kembali ke rumahnya guna memastikan bahwa mereka tak lagi dipasung dan para pendamping selalu memberikan obat secara teratur kepada pasien dengan gangguan jiwa. Aksi kepeduliannya tersebut membawa Nurhamid mendapat penghargaan dari Menteri Kesehatan pada 2011, dan Juara 1 Anugerah Pelopor Pemberdayan Masyarakat dari Gubernur Jawa Barat pada 2016.


Kisah kerelawanan Nurhamid untuk menolong dan merawat penderita ODGJ dengan mendirikan Istana KSJ kiranya menjadi wujud aksi nyata dari Gerakan Indonesia Melayani. Lewat Istana KSJ yang diinisiasinya tersebut, Nurhamid berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bersatu dan bergotong royong memberi dukungan sosial bagi penderita ODGJ dengan perlakuan tak diskriminatif. Memperingati Hari Relawan Internasional yang jatuh setiap tanggal 5 Desember setiap tahunnya, mari kita terus semai semangat berbagi, kepedulian, serta kemanusiaan secara sukarela untuk membawa perubahan positif di masyarakat dan Indonesia yang lebih baik. Bersama-sama kita wujudkan Indonesia sehat dan inklusif! #AyoBerubah #RevolusiMental #GerakanIndonesiaMelayani #HariRelawanInternasional


Sumber Foto:

https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4215141/pensiunan-guru-di-cianjur-ini-rawat-odgj-tanpa-teralis


Referensi:

Viva.co.id. (2021). Diakses tanggal 7 Desember 2021. 

Merdeka.com. (2021). Diakses tanggal 7 Desember 2021. 

Detik.com. (2021). Diakses tanggal 7 Desember 2021. 

Detik.com. (2021). Diakses tanggal 7 Desember 2021.


Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: