Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Kerap Diwajarkan, Bahaya Memukul Anak Sekalipun dengan Alasan Mendidik

Mendidik anak dengan cara kekerasan membawa dampak negatif bagi tumbuh kembang anak ke depannya hingga dewasa
  • 15 September 2021
  • 0 Komentar

Kerap Diwajarkan, Bahaya Memukul Anak Sekalipun dengan Alasan Mendidik

Mendidik dan mendisiplikan anak dengan cara memukul, merupakan bentuk kekerasan fisik yang tidak efektif dan hanya akan membawa dampak negatif bagi tumbuh kembang anak ___ bahkan dapat berimplikasi pula pada lingkup sosial yang lebih luas.

 

Jakarta (07/09/2021) Sobat Revmen, tak sedikit orangtua yang masih mendisiplinkan anak dengan cara memukul dengan maksud agar anak memperbaiki perilakunya. Meski seakan lazim dilakukan oleh orangtua zaman dahulu, kesadaran generasi muda saat ini terkait metode mendisiplinkan anak dengan cara memukul tersebut sudah mulai ditanggalkan. Ya, walaupun bermaksud baik dengan tujuan mendidik tersebut tak dapat dibenarkan, lho! Karena selain termasuk sebagai bentuk kekerasan fisik, memukul anak juga membawa dampak negatif bagi tumbuh kembang anak hingga dewasa kelak. Yuk sobat Revmen, kita simak lebih lanjut tentang pola asuh yang keliru ini agar anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik!

 

Baru-baru ini publik digegerkan dengan sejumlah berita yang sempat viral tentang kekerasan yang dialami anak oleh orangtuanya. Seperti dalam rekaman video yang viral di media sosial pada pertengahan Juli lalu, di mana seorang ayah berinisial RF di Sidoarjo, Jawa Timur, tega memukul anaknya hanya karena tak bergegas ketika disuruh mandi ___ yang meninggalkan luka di bagian telinga, pipi, dan kepala bocah berusia tiga tahun tersebut. Sementara di Depok, Jawa Barat, bayi berusia tujuh bulan dipukuli oleh ayahnya yang berinisial EP hingga lebam lantaran rewel dan terus menerus menangis. Masih di bulan yang sama pada Maret lalu, seorang pemuda berinisial ASD di Tangerang, Banten, memukul puluhan kali seorang bocah berusia dua tahun yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya karena tak sengaja melempar ponsel miliknya. Miris sekali bukan, sobat Revmen?

 

Anggapan bahwa anak adalah milik orangtua, sehingga orangtua memiliki otoritas untuk mendisiplinkan anak dengan metode apa pun ___  termasuk dengan cara memukul ___  tak dapat dibenarkan. Ya, pemukulan yang termasuk bentuk kekerasan fisik tak patut dilakukan baik oleh orang lain seperti guru, maupun keluarga yang memiliki hubungan darah sekalipun. Setali tiga uang, melumrahkan memukul anak dengan dalih mendidik asalkan tidak pada bagian vital tubuh anak seperti pukulan di bokong atau pukulan penggaris di telapak tangan juga merupakan suatu kekeliruan. Di mana kekerasan pada anak baik fisik mau pun mental juga tidak dapat dinormalisasi apa pun konteksnya sebagaimana yang disebutkan dalam konvensi PBB tahun 2007.

 

Mengutip Hellosehat.com, memukul anak sebagai hukuman fisik tidak efektif karena hanya akan membawa efek negatif dan konsekuensi berbahaya bagi anak. Hukuman fisik hanya membawa satu hasil positif berupa kepatuhan langsung yang bersifat jangka pendek. Selebihnya, menghasilkan efek negatif mulai dari kerugian neurologis hingga indikator pembangunan sosial anak itu sendiri. Secara lebih spesifik memukul anak dapat mengakibatkan anak menjadi agresif dan menciptakan tradisi kekerasan berulang. Di mana, anak akan menduplikasi apa yang dilakukan orangtuanya tersebut dan menganggapnya sebagai sesuatu yang boleh saja dilakukan. Sehingga anak dapat melakukan kekerasan serupa kepada adik, kerabat, teman sebaya, pasangan, hingga ketika menjadi orangtua saat kelak dewasa.

 

Di samping itu, memukul anak juga dapat mengakibatkan gangguan perkembangan kognitif dan emosional. Di mana dapat berpengaruh terhadap menurunnya Intelligence Quotients (IQ) dan kemampuan belajar anak. Memukul anak juga dapat membuatnya menjadi rendah diri dan memiliki citra diri negatif tentang dirinya, mengalami kerusakan otak, dan gangguan perhatian ___  yang dapat berujung pada kecemasan, trauma, depresi, hingga penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika, serta munculnya keinginan bunuh diri. Selain dapat membuat relasi antara anak dan orangtua menjadi renggang, memukul anak juga dapat menjadi gerbang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang jauh lebih buruk. Bahkan sebagai laboratorium pertama anak belajar, kekerasan fisik yang diterimanya di rumah dapat berimplikasi lebih jauh pada lingkup sosial yang lebih luas. Di mana anak dapat tumbuh dengan keterampilan sosial yang rendah, egois dan antisosial, hingga memunculkan bibit perilaku kriminal. 

 

Nah sobat Revmen, ternyata besar sekali bukan bahaya yang ditimbulkan dari memukul anak? Alih-alih memukul anak sebagai hukuman fisik, anak-anak harus diajak untuk memahami terlebih dahulu apa kesalahan mereka dan bagaimana tindakan korektif sebenarnya yang dapat mereka lakukan. Sebaliknya, sebagaimana dilansir Orami.co.id, orangtua dapat menggunakan penguatan positif dan pujian untuk menghargai anak-anak ketika mereka berperilaku baik. Di samping itu orangtua juga diharapkan berperan untuk mengajarkan anak melatih regulasi emosi dengan baik dan membangun relasi saling percaya dengan anak sehingga mampu mengkomunikasikan tentang cara yang tepat untuk menyelesaikan konflik. Ingat, membangun sikap disiplin pada anak membutuhkan waktu dan proses, bukan dengan cara marah sewenang-wenang apalagi memukul, yha!

 

Sobat Revmen, mari sama-sama mengedukasi diri maupun orang-orang di sekitar kita untuk berhenti menggunakan kekerasan terhadap anak baik fisik maupun verbal sebagai dalih untuk mendisiplinkan anak. Yuk, ciptakan lingkungan yang ramah anak tanpa kekerasan dengan menerapkan pola asuh penuh kesadaran (mindful parenting), serta penuh cinta dan kasih sayang. Dengan menjalankan pola asuh yang baik terhadap anak berarti ikut mensukseskan pula program Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), khususnya pada Kegiatan Prioritas 3 (KP.3) terkait revolusi mental dalam sistem sosial untuk memperkuat ketahanan, kualitas dan peran keluarga dan masyarakat. Dengan demikian anak pun dapat tumbuh dengan perilaku baik dan mampu menggali potensi maksimal dirinya, serta menjelma menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa! #AyoBerubah

 

 

Sumber Foto:

https://www.halodoc.com/artikel/sering-memukul-anak-bisa-berpengaruh-pada-kesehatan-mental

 

Referensi:

Id.theasianparent.com

Orami.co.id, 24/06/19

Hellosehat.com, 28/09/20

Magdalene.co, 27/04/21

Surabaya.tribunnews.com, 13/07/21

Merdeka.com, 16/03/21

News.detik.com, 16/03/21

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: