Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

KEDAULATAN PANGAN DAN TERPENUHINYA HAK ATAS PANGAN

Ilustrasi dua petani milenial
  • 04 Agustus 2021
  • 0 Komentar

KEDAULATAN PANGAN DAN TERPENUHINYA HAK ATAS PANGAN

Sebagai negara dengan sumber daya yang besar, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, Indonesia memiliki potensi untuk mewujudkan kedaulatan pangan yang mandiri.

 

Jakarta (22/07/2021) Seseorang bertanya; “Bagaimana caranya agar Indonesia memiliki ketahanan pangan dan tidak lagi impor dari luar negeri?” Jika Sobat Revmen yang mendapat pertanyaan demikian, maka jangan tergesa-gesa untuk menjawabnya. Sebab pertanyaan itu secara definitif kurang tepat. Kenapa? Karena dalam makna “ketahanan pangan” yang menjadi fokus kebutuhan adalah ketersediaan pangan. Ketersediaan pangan boleh didapatkan dari mana pun, termasuk impor.

 

Oleh karena itu “ketahanan pangan” berbeda dengan “kedaulatan pangan.” Dalam kedaulatan pangan, maka ketersediaan kebutuhan pangan harus diperoleh secara mandiri, tanpa tergantung pada pihak dari luar. Itu artinya, kedaulatan pangan merupakan konsep pemenuhan pangan melalui produksi lokal tanpa impor. Sebagai negara dengan sumber daya yang besar, Indonesia memiliki potensi untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Setidaknya ada tiga potensi mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.

 

Pertama, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Posisi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa memiliki iklim tropis dengan dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Kondisi iklim tersebut memungkinkan tanaman tumbuh secara subur. Hal inilah yang menjadi basis utama keunggulan sumber daya alam Indonesia di daratan. Namun demikian, Food and Agricultural Organization (FAO), sebuah lembaga yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memberikan sinyal agar negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, untuk berhati-hati terkait perubahan iklim (climate change). Beberapa penelitian di FAO menunjukkan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara akan turut menderita akibat perubahan iklim, terutama terjadinya kekeringan dan banjir. Fenomena ini akan menurunkan produksi pangan dan kapasitas produksi pertanian. Dikarenakan perubahan iklim, misalnya Pulau Jawa diprediksi akan terjadi penurunan produksi sebesar 5% pada tahun 2025 dan penurunan 10% pada tahun 2050.

 

Kedua, Indonesia memiliki dasar hukum yang jelas dan telah memberi amanat untuk melakukan kedaulatan pangan, yaitu UUD 1945 dan UU Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan telah mengamanatkan untuk meweujudkan kedaulatan pangan. Kedua dasar hukum tersebut dapat dijadikan pegangan oleh negara untuk melaksanakan kedaulatan pangan.

 

Ketiga, Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia (SDM) yang besar. Menurut data Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) hingga tahun 2020 terdapat sekitar 33,4 juta petani di Indonesia. Jika dibandingkan dengan jumlah total populasi, memang itu angka yang relative kecil, namun 33,4 juta petani dapat diandalkan untuk mengelola kedaulatan pangan. Ditambah lagi, menurut laporan Ditjen Dikti, setiap tahun terdapat sekitar 34 ribu sarjana pertanian. Masuknya era digital juga dapat memberi terobosan inovasi di bidang pertanian. Semua hal itu dapat menjadi modal untuk meningkatkan kualitas pertanian Indonesia.

 

Kedaulatan pangan adalah hak setiap bangsa dan setiap rakyat untuk memproduksi pangan secara mandiri, menetapkan sistem pertanian tanpa adanya subordinasi dari kekuatan pasar internasional dan hak atas ketersediaan pangan. Terdapat tujuh prasyarat utama untuk menegakkan kedaulatan pangan, antara lain:  (1) Pembaruan Agraria; (2) Adanya hak akses rakyat terhadap pangan: (3) Penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan; (4) Pangan untuk pangan dan tidak sekadar komoditas yang diperdagangkan; (5) Pembatasan penguasaan pangan oleh korporasi; (6) Melarang penggunaan pangan sebagai senjata; (7) Pemberian akses ke petani kecil untuk perumusan kebijakan pertanian.

 

Dalam realisasinya, kedaulatan pangan akan tercapai apabila petani sebagai penghasil pangan memiliki, menguasai dan mengkontrol alat-alat produksi pangan, seperti tanah, air, benih dan teknologi serta berbagai kebijakan yang mendukungnya dalam bingkai pelaksanaan pembaruan agraria. Hal ini perlu disertai dengan melaksanakan pertanian rakyat yang berkelanjutan, tidak berketergantungan terhadap perusahaan-perusahaan transnasional dan perlu didukung oleh SDM muda yang unggul. Banyak contoh bahwa petani milenial berhasil menjadi petani yang sukses. Sebut saja sebagai contoh nama Dede Koswara di Bandung yang sukses menjadi petani sayur mayur, Irfan Rahardian di Bandung yang sukses menjadi petani kopi, atau Jatu Barmawati di Lampung yang sukses menjadi petani buah dan eksportir.

 

Sobat Revmen, melalui kedaulatan pangan, Indonesia akan menjadi negara yang mandiri. Namun untuk menuju ke arah itu ada banyak hal yang harus kita lakukan. Seperti membeli hasil pertanian dalam negeri, turut menciptakan inovasi-inivasi baru di bidang pertanian, dan turut terlibat langsung menjadi generasi petani muda. Menjadi petani pada masa sekarang keren kok. Silahkan lihat contoh nyata dari para petani milenial yang telah sukses menggerakkan pertanian dan memiliki hasil hingga miliaran rupiah. Jika Sobat Revmen menjadi generasi petani muda, maka Sobat telah melestarikan pertanian, turut berpartisipasi menghidupkan Indonesia sebagai negara agraris, dan turut berkontribusi bagi Indonesia serta dunia dalam menyediakan pasokan pangan. Hal ini sesuai banget dengan Gerakan Indonesia Mandiri loh. Gerakan Indonesia Mandiri adalah gerakan yang dilakukan oleh para penyelenggara negara dan masyarakat untuk mewujudkan perilaku kreatif, inovatif, dan beretos kerja tinggi demi terwujudnya kemandirian di bidang pangan, energi, dan teknologi. Tuh keren banget kan. Makanya ayo kita ikut menegakkan kedaulatan pangan secra bergotong royong, penuh integritas dan etos kerja. #AyoBerubah #KedaulatanPanganIndonesia

 

 

Referensi:

Detik.com. (2021). DIakses tanggal 3 Juli 2021.

Infopublik.id. (2021). Diakses tanggal 3 Juli 2021.

Komnasham.go.id. (2018). Diakses tanggal 3 Juli 2021.

Paktanidigital.com. (2021). Diakses tanggal 3 Juli 2021.

Spi.or.id. (2008). Diakses tanggal 3 Juli 2021.

Swadayaonline.com. (2020). Diakses tanggal 3 Juli 2021.

Syahrir Ika. (2014). Diakses tanggal 3 Juli 2021.

Tempo.co. (2020). Diakses tanggal 3 Juli 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: