Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Kayangan Jagat di Senduro

Pura Mandara Giri Semeru Agung, Hindu, Kayangan Jagat
  • 18 Januari 2022
  • 0 Komentar

Kayangan Jagat di Senduro

Gunung adalah pusat stabilitas dan spiritual bagi masyarakat Jawa, khususnya umat Hindu Jawa-Bali. Namun mewujudkan tegaknya sebuah pura di gunung tertinggi di Jawa bukanlah hal yang mudah. Penuh liku perjuangan sampai akhirnya Pura ini menjadi sumber harmoni keragaman dan perbedaan di sekitarnya. 


Jakarta (12/1/2022) Siapa sangka, ternyata pura tertua di Indonesia bukan berada di Pulau Dewata, Bali. Sebagai tempat ibadah umat Hindu, tentu agak janggal mendengar pura tertua di Indonesia dibangun di lereng Gunung Semeru, Lumajang, yang sebagian besar warganya beragama non-Hindu. Tapi, inilah Indonesia yang sebenarnya. Menjunjung tinggi keragaman meski lekat dengan perbedaan.

Pura tersebut bernama Mandara Giri Semeru Agung. Menurut babadbali.com, pura ini dibangun sekitar tahun 1960-an sampai 1970-an. Senduro, adalah sebuah kecamatan yang dipilih untuk dijadikan tempat berdirinya Pura masyarakat Hindu di Lumajang. Begitu lama warga penganut Hindu ini berpuas diri hanya dengan mabakti (sembahyang) di Sanggar Pamujon yang ada hampir di setiap desa di Kecamatan Senduro. 

Menurut BeritaJatim.com, ada tiga orang perintisnya, yakni Mangku Sarjo Lingsir, Joyo Suseno, Jumadi Setyo. Izin mendirikan tempat ibadah Hindu tersebut tentu tidak mudah karena rencana dibangun pada daerah yang masyarakatnya didominasi non-Hindu. Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) setempat sempat menawarkan lokasi di Desa Kertasari, tapi ditolak umat, karena merupakan daerah aliran lahar Gunung Semeru. Namun, karena tekad para perintis didukung dengan tingginya sikap toleransi masyarakat sekitar akhirnya jadilah pura Mandara didirikan di Senduro.

Sebagai tempat beribadah masyarakat minoritas, pembangunannya dianggap cukup sederhana. Pendanaannya pun hasil dari gotong royong antar umat Hindu yang membuat pembangunannya pun berjalan secara bertahap. Namun,kini,  kawasan Pura Mandara semakin berkembang, yang awalnya hanya 25 x 60 meter, kini menjadi dua hektar luasnya. 

Kehadiran pura ini, nyatanya tidak sebatas hanya mengangkat nama Senduro, Lumajang dan sekitarnya menjadi tambah tenar di kalangan penganut Hindu di seluruh Indonesia. Kehadiran Pura Mandara Giri Semeru Agung begitu nyata juga mampu memutar roda perekonomian masyarakat di sekitarnya. Warga suku Tengger, Jawa, dan Madura hidup rukun bergeliat membuka warung makan, toko aksesoris, dan penginapan. 

Pura Mandara Giri Semeru Agung adalah salah satu pura yang masuk kategori pura Kayangan Jagat dalam tradisi Hindu Bali. Sesuai arti harfiahnya, Pura Kayangan Jagat adalah pura yang universal. Seluruh umat ciptaan Tuhan sejagat boleh bersembahyang ke sana. Pura Kayangan Jagat tersebar di seluruh dunia.


Desa Sadar Kerukunan

Dalam kosmologi Hindu, gunung diposisikan sebagai hulu, danau di tengah, dan laut di hilir. Ketiganya membentuk alur siklus kesemestaan. Dari gunung sebagai hulu itulah kerahayuan mengalir bagi segenap makhluk. Dari gunung yang lebat ditumbuhi pepohonanlah air mengalir menyuburkan tanah, bumi. Panas matahari menguapkan air laut, menjadi mendung, dan menjadi hujan. Air hujan kembali diserap gunung dengan pepohonannya, ditampung danau, melesak ke tanah, menyembul menjadi mata air, mengalir dan terus mengalir. Begitu seterusnya, tiada henti.

Sahabat Revmen, begitulah sejatinya harmoni, siklus kesemestaan pun berpendar pula pada masyarakat Senduro. Semua memilik peran agar kehidupan selaras, harmonis.  Perbedaan bukanlah hal yang rancu dan jadi sumber konflik, namun perbedaan adalah sebuah kekayaan yang mampu menciptakan sebuah keindahan. Senduro pun akhirnya dikenal sebagai pusat referensi toleransi antar umat beragama.  Dan pada tahun 2020 lalu, Senduro mendapat predikat sebagai Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama. 

Salah satu contoh toleransi yang sangat kental di Senduro adalah ketika masyarakat memperingati 1 Muharram  lewat penanggalan Islam dan 1 Sura lewat penanggalan Jawa. Di saat itulah mereka bersama-sama menggelar doa yang dikemas dengan acara Bari'an Syurowan. Umat Muslim dan Hindu berkumpul di pertigaan jalan desa setempat dengan membawa makanan. Seperti tumpeng, buah-buahan yang dibentuk seperti gunungan, serta jenang suro (bubur suro). Setelah semua tokoh masyarakat dan warga berkumpul, kemudian acara dimulai. Pemangku adat dari umat Hindu kemudian membacakan doa dan dilanjutkan pembacaan doa oleh umat Islam yang dipimpin oleh seorang kyai. Begitulah keindahan keberagaman di Senduro, selaras dengan nafas penduduknya.


Reporter : PS


Sumber 

1.https://lumajangsatu.com/baca/senduro-desa-sadar-kerukunan-umat-beragama-lumajang-bagi-indonesia

2. https://beritajatim.com/ragam/kiblatnya-umat-hindu-bali-ada-di-lumajang-jawa-timur/

3. https://www.babadbali.com/pura/plan/mandara-giri-semeru.htm

4. https://www.kintamani.id/mengenal-lebih-jauh-tentang-pura-kahyangan-jagat-pura-universal-di-bali/

https://www.antaranews.com/berita/2176706/umat-hindu-bali-gelar-piodalan-di-pura-mandara-giri-lumajang-24-juni


sumber foto : pasirlumajang.com


Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: