Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

KAUM MUDA, MEDIA SOSIAL DAN NASIONALISME

Generasi Z dan Milenial merupakan populasi terbanyak di Indonesia. Mereka juga menempati jumlah terbanyak dalam penetrasi internet, termasuk media sosial. Penyebaran isu nasionalisme sangat potensial ada di tangan milenial.
  • 09 Maret 2021
  • 0 Komentar

KAUM MUDA, MEDIA SOSIAL DAN NASIONALISME

Penduduk Indonesia didominasi oleh generasi Z dan milenial. Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa (27,94 persen). Sementara jumlah generasi milenial mencapai 69,90 juta jiwa (25,87 persen).

 

Jakarta (24/02/21) Jika menggunakan penggolongan kelompok penduduk milik William H. Frey, maka yang disebut dengan generasi Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga tahun 2012. Sementara generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1981 hingga tahun 1996. Saat ini, rata-rata generasi Z dan milenial berstatus pelajar dan mahasiswa. Mereka muda, melek teknologi, dan memiliki energi yang berlimpah.

 

Dikarenakan melek teknologi, kaum muda tanah air memiliki akses yang luas terhadap internet. Kaum muda, media sosial dan semangat nasionalisme, merupakan tiga keyword yang menarik untuk dielaborasi..

 

Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2019-2020, penetrasi pengguna internet di Indonesia didominasi oleh kelompok usia 15-19 tahun (91 persen), disusul oleh kelompok usia 20-24 tahun (88,5 persen). Rata-rata pengguna mengakses internet untuk membuka sosial media (51,5 persen) dan berkomunikasi (32,9 persen).

 

Ini artinya, selain mendominasi jumlah populasi di Indonesia, kaum muda juga mendominasi penggunaan internet, atau lebih spesifik penggunaan media sosial. Sisi positifnya, kaum muda memiliki kemudahan-kemudahan dalam mengakses dan menyebarkan informasi, mencari hiburan, serta belajar melalui internet. Melalui media sosial juga kaum muda dapat menunjukan nasionalismenya terhadap tanah air.



 

Ada tiga indikator untuk dapat melihat sejauh mana kaum muda masih memiliki rasa nasionalisme melalui media sosial. Pertama, melihat hashtag yang digunakan kaum muda pada momen-momen tertentu. Pada platform media sosial Facebook, Twitter atau Instagram banyak bertebaran hashtag #nasionalisme, #toleransi, #DiversityIsBeautiful, #indonesiatanpahoax, #nkri, #proudindonesia, #indonesiamaju, #lawanradikalisme, #pahlawanindonesia, #indonesiabangkit, #nkrihargamati, dan lain-lain yang merepresentasikan rasa nasionalisme kaum muda lewat media sosial.

 

Kedua, maraknya dukungan kaum muda terhadap situs-situs positif yang dipertunjukan melalui media sosial. Beberapa situs positif yang didukung kaum muda antara lain change.org, kitabisa.com, indorelawan.org, dan goodnewsfromindonesia.id. Rata-rata, situs-situs positif tersebut didukung karena bergerak dalam mengkampanyekan perubahan Indonesia, penolakan terhadap hoax dan hate speech, donasi dan gotong royong, serta kampanye terhadap hal-hal baik mengenai Indonesia.

 

Ketiga, melihat survei yang dilakukan sejumlah Lembaga. Survei yang dilakukan Wings Food misalnya menemukan fakta bahwa kaum muda memiliki nasionalisme yang tinggi. Menurut survei, hal ini dapat dilihat dari aktivitas kaum muda yang ditampilkan dalam akun media sosial masing-masing. Ada yang berusaha menebarkan virus minat baca dengan membuat perpustakaan keliling, ada yang melakukan usaha daur ulang sampah hingga mampu membangun proyek padat karya. Bahkan, ada pula yang berusaha menghijaukan lingkungan dengan menanam kembali sejumlah bibit pohon.