Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

KAUM MILENIAL DI TENGAH ERA INFORMASI POST-TRUTH

Ilustrasi Post-Truth
  • 30 April 2021
  • 0 Komentar

KAUM MILENIAL DI TENGAH ERA INFORMASI POST-TRUTH

Alasan mengapa disinformasi beredar secara lebih luas di tengah masyarakat saat ini bukanlah disebabkan oleh pandangan orang yang bergeser dalam memaknai fakta dan kebenaran, melainkan karena cara informasi diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi telah mengalami perubahan secara drastis. Media sosial ditenggarai menjadi salah satu kanal pemicunya.

 

Jakarta (23/04/2021) Menurut Kamus Oxford, sejarah kemunculan istilah post-truth (pasca kebenaran) pertama kali digunakan oleh Steve Tesich pada tahun 1992 dalam esainya yang berjudul The Nation. Dalam esainya itu Tesich menggunakan istilah post-truth dengan latar belakang politik untuk menguraikan masalah Watergate (1972-1974), Iran-Contra Scandal (1985-1987) dan kasus Perang Teluk (1990-1991).

 

Lalu pada tahun 2004 istilah post-truth kembali digunakan oleh Ralph Keyes dan menjadikannya sebagai judul utama dalam buku “The Post-truth Era.” Dalam buku itu Keyes berargumentasi bahwa kecurangan atau kebohongan terjadi semakin merata di era ketika dunia telah dikendalikan oleh media (media-driven world).

 

Istilah post-truth juga digunakan oleh para penulis lain, seperti Eric Alterman dalam analisisnya mengenai pernyataan menyesatkan pemerintahan Bush pasca tragedi 9/11 (2001), Colin Crouch mengenai peran industri periklanan dalam ranah komunikasi politik (2004) dan David Roberts yang berargumentasi bahwa opini publik dan narasi media dianggap mengalami keterputusan (disconnected) dengan kebijakan dalam legislasi.

 

Menurut data yang diberikan Kamus Oxford, istilah post-truth menyebar lebih luas pada tahun 2016 dan menjadi “Word of The Year.” Jumlah penggunaan istilah post-truth, terutama secara online, mengalami peningkatan sebanyak 2000 persen dibanding tahun 2015. Penggunaan istilah ini melambung seiring terjadinya dua momen politik besar di dunia, yakni keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit) dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

 

Sejak awal, istilah post-truth digunakan dalam kesamaan makna sebagai “menyebarnya disinformasi” di tengah masyarakat. Kamus Oxford mendefinisikan istilah ini sebagai “kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal.” Dengan kata lain, post-truth adalah kondisi saat masyarakat lebih “membenarkan” ajakan, seruan, hasutan, atau propaganda pihak tertentu atas dasar emosi dan kesamaan perasaan. Apakah ajakan, seruan atau hasutan itu benar atau tidak, bukanlah hal yang terlalu penting. Kondisi ini, sebagaimana kemunculan istilah post-truth, cukup mengkhawatirkan.

 

Media sosial dituduh sebagai pihak yang turut mempercepat dan memperluas penyebaran disinformasi (ketidakbenaran informasi), seperti hoaks dan fitnah. Pada titik inilah kaum milenial memiliki peran penting dalam menyikapi informasi yang beredar. Menurut studi yang dilakukan oleh Ericsson tahun 2016, milenial adalah generasi yang erat dengan internet, kelompok orang yang mengkonsumsi, berbagi dan mendiskusikan informasi melalui medium digital, terutama media sosial.

 

Milenial dapat memutus rantai penyebaran disinformasi dan berani menolak pembentukan opini publik yang disebar melalui hoaks. Literasi digital yang kuat dan disiplin melakukan verifikasi atas informasi harus ada di dalam mentalitas milenial.

 

Sobar Revmen, kehati-hatian perlu kita tingkatkan saat menerima informasi. Jika sumber informasi meragukan, lebih baik ditinggalkan, sekalipun kita sengat setuju dengan isi informasi tersebut. Menyebarkan informasi dari sumber yang meragukan bukanlah sebuah tindakan yang bijak. #AyoBerubah #IndonesiaBerintegritas

 

Referensi:

Kharisma D. Syuhada. 2017. Etika Media di Era Post-truth. Jurnal Komunikasi Indonesia, Volume V, No. 1, 2017. Jakarta: Universitas Indonesia. Available at: http://journal.ui.ac.id/index.php/jkmi/article/viewFile/8789/pdf. Diakses tanggal 11 April 2021.

 

Taufiqurrahman. 2019. Asal Usul Pasca Kebenaran. Available at: https://www.jawapos.com/minggu/buku/18/06/2019/asal-usul-pasca-kebenaran/. Diakses tanggal 11 April 2021.

 

Okky Ardiansyah. 2019. Post-Truth adalah Gejala yang Hadir Bersama Hoaks. Available at: https://www.pikiran-rakyat.com/gaya-hidup/pr-01310472/post-truth-adalah-gejala-yang-hadir-bersama-hoaks. Diakses tanggal 11 April 2021.

 

Setyanavidita, 2016. Mengenal Generasi Milenial. Available at: https://www.republika.co.id/berita/koran/inovasi/16/12/26/ois64613-mengenal-generasi-millennial. Diakses tanggal 11 April 2021.

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: