Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

KARAKTERISTIK GENERASI MUDA MASA KINI DALAM PEMBANGUNAN BANGSA

Seorang pemuda sedang melihat materi melalui laptop
  • 13 September 2021
  • 0 Komentar

KARAKTERISTIK GENERASI MUDA MASA KINI DALAM PEMBANGUNAN BANGSA

Generasi Milenial yang dianggap sebagai tech-savvy dan Generasi Z yang dianggap sebagai digital natives, telah menunjukkan pola yang resiprokal-kritis terhadap perkembangan teknologi dan bersedia memanfaatkannya demi pembangunan di era ini juga di masa selanjutnya.

 

Jakarta (19/08/2021) Generasi muda adalah aktor kunci pada sebagian besar perubahan ekonomi, sosial dan politik dalam sejarah. Jika menggunakan definisi UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemduaan, maka yang disebut dengan pemuda adalah mereka yang berusia 16 sampai 30 tahun. Dengan kata lain, individu yang berusia di bawah 16 tahun belum bisa disebut sebagai pemuda, melainkan anak-anak dan remaja. Sementara individu yang berusia di atas 30 tahun tidak lagi disebut pemuda, melainkan orang dewasa dan generasi tua.

 

Rentang usia 16 hingga 30 tahun termasuk ke dalam Generasi Z dan Generasi Milenial. Hal ini sesuai dengan penggolongan penduduk menurut William H. Frey. Menurut Frey Generasi Z adalah penduduk yang lahir antara tahun 1997-2012. Sehingga usia Generasi Z berada pada rentang 9-24 tahun. Sementara Generasi Milenial adalah penduduk yang lahir antara tahun 1981-1996. Sehingga usia Generasi Milenial saat ini berada pada rentang 25-40 tahun. Maka sebagian generasi Z dan sebagian Generasi Milenial adalah pemuda. Generasi Z dan Milenial inilah yang akan melanjutkan tongkat estafet pembangunan di masa mendatang.

 

Generasi Milenial adalah generasi yang lahir saat teknologi informasi, teknologi komunikasi dan internet bangkit. MIlenial adalah penyaksi sejarah periode tersebut, sehingga Milenial merasakan perubahan dari era sebelum dan pada masa digital. Hal inilah yang membedakan Milenial dengan Generasi Z, di mana Generasi Z lahir dan tumbuh pada saat dunia sudah memasuki era digital. Perbedaan tersebut pada akhirnya menimbulkan perbedaan karakteristik antara generasi Milenial dengan Generasi Z. Contoh kecil dari perbedaan itu misalnya tampak pada kebiasaan berbelanja; Generasi Z sepenuhnya akrab dengan metode berbelanja online. Sementara Milenial, meskipun menjadi generasi yang turut berbelanja secara online, namun masih memiliki perasaan serunya berbelanja langsung ke pusat-pusat perbelanjaan.

 

Untuk melihat bagaimana peran generasi Milenial dan Generasi Z dalam pembangunan, kita mesti sedikit lebih mendalam mengenali karakteristik kedua generasi itu. Dalam pandangan William Strauss dan Niel Howe (1991) generasi Milenial digambarkan sebagai generasi yang Makmur, karena lahir dan tumbuh di saat ekonomi dalam keadaan baik. Milenial juga dianggap sebagai generasi terpelajar, multi-etnik, tech-savvy, berorientasi pada tim, memiliki skill yang beragam, mampu bekerja di bawah tekanan, percaya diri, optimistik dan idealis.

 

Sementara Generasi Z adalah generasi dunia maya yang memiliki ciri khas senang pada kegiatan sosial, lebih suka bekerja pada perusahaan-perusahaan start-up, memiliki keahlian multitasking, senang dengan teknologi informatika dan pandai mengoperasikannya, peduli terhadap lingkungan, dan realistis.

 

Kita elaborasi karakteristik kedua generasi tersebut menjawab pertanyaan berikut: bagaimana generasi Milenial dan Generasi Z berperan dalam pembangunan? Pertama kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan pembangunan biasanya adalah masalah ekonomi. Menurut Everret E. Hagen, kemajuan ekonomi dalam sebuah bangsa memiliki fungsi perubahan sosiologis, antropologis dan psikologis masyarakatnya. Perubahan tersebut menjadi faktor penentu terjadinya dinamika perekonomian.

 

Maksudnya, sebelum era digital muncul, ekonomi digerakan oleh kegiatan konvensional masyarakat yang, salah satunya, berbelanja secara langsung ke pasar tradisional, supermarket atau mall. Namun saat ini dunia memasuki era digital. Jika masyarakat Indonesia masih memiliki karakter yang sama dengan era sebelum digital, maka dinamika ekonomi akan sulit terjadi. Untuk itu masyarakat harus berubah dengan memanfaatkan berbagai potensi teknologi. Kemudian muncullah generasi yang gemar berbelanja online, generasi yang pandai mendirikan perusahaan start up atau generasi yang piawai mengelola bisnis e-commerce. Dengan adanya perubahan sikap tersebut, maka dinamika ekonomi terjadi, karena memang demikian eranya.

 

Dalam bidang sosial, budaya dan politik pun demikian. Dulu berdonasi hanya dapat dilakukan oleh segelintir orang, karena informasinya sangat terbatas. Namun sekarang berdonasi dapat dilakukan oleh siapa pun yeng memiliki gawai dan akses internet. Dalam bidang budaya, dulu orang hanya melihat di TV atau mendengarkan radio tentang toleransi, kolaborasi atau inklusivitas. Sekarang siapa pun dapat mengkampanyekannya dan dapat berpartisipasi melakukannya. Dalam bidang politik, dulu banyak penduduk yang masik memiliki keterbatasan alternatif dalam melihat dan terlibat pada persoalan politik, seperti ketika ingin mengetahui data diri calon Presiden saat pemilu, mengetahui identitas aktor-aktor politik, memahami narasi-narasi bahasa politik atau dalam mengetahui kejadian-kejadian politik. Namun sekarang, siapa pun yang memiliki gawai dan akses internet dapat memiliki informasi tentang calon Presiden, mengetahui identitas aktor-aktor politik, terlibat dalam pengajuan petisi, berdialog untuk membentuk opini publik, dan lain-lain.

 

Artinya, di karenakan era digital telah memaklumkan perubahan, maka masyarakat harus (atau sudah seharusnya) beradaptasi menuju perubahan tersebut. Dan perubahan itu kini dapat diadaptasi dengan cepat oleh generasi Milenial dan Generasi Z. Milenial yang dianggap sebagai tech-savvy (akrab dan menyaksikan kelahiran revolusi teknologi digital) dan Generasi Z yang dianggap sebagai digital natives (akrab dengan teknologi digital sejak lahir), telah menunjukkan pola yang resiprokal-kritis terhadap perkembangan teknologi dan bersedia memanfaatkannya demi pembangunan di era ini juga di masa selanjutnya.

 

Sobat Revmen, perubahan menuntut agar generasi mampu dan cepat beradaptasi. Kaum remaja lekat dengan perubahan dan selalu ingin mencoba hal-hal baru. Saat ini remaja berada di sebuah situasi yang “menggoda” mereka untuk melakukan perubahan gaya hidup yang serba digital, serba praktis dan tersegmentasi. Gaya hidup baru ini harus dibentengi dengan kultur yang sehat ke arah kebaikan bersama. Caranya adalah dengan tetap berpegangan dan mengamalkan tiga nilai revolusi mental, yakni integritas, etos kerja dan gotong royong, sebagai fondasi way of life mereka. #AyoBerubah #RevolusiMental #LiterasiDigital #GerakanIndonesiaMandiri

 


Referensi:

Forbes.com. (2018). Diakses tanggal 30 Juli 2021.

Inc.com. (2017). Diakses tanggal 30 Juli 2021.

Kemdikbud.go.id. (2021). DIakses tanggal 30 Juli 2021.

Unstats.un.org. (2021). Diakses tanggal 30 Juli 2021.

Undang-UndangNomor 40 tahun 2009 Tentang Kepemudaan. Diakses tanggal 30 Juli 2021.

Republika.id. (2021). Diakses tanggal 30 Juli 2021.

 

 


Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: