Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

JANGAN LUPA, ANAK JUGA PUNYA HAK

Anak-anak sedang bermain dambil belajar
  • 28 Juli 2021
  • 0 Komentar

JANGAN LUPA, ANAK JUGA PUNYA HAK

Anak-anak berhak untuk menyatakan dan didengar pendapatnya. Mungkin ini merupakan hak yang paling disepeleken oleh kebanyakan orang tua, sehingga kita sering menemukan anak-anak yang tidak percaya diri, mudah depresi dan kerap mengalami gangguan kecemasan.

 

Jakarta (19/07/2021) Kita sering mendengar dan menggunakan kata hak (right). Namun bukan hal yang mudah ketika kita diminta untuk mendefinisikannya. Beberapa jenis hak yang sering muncul dalam keseharian kita di antaranya adalah hak asasi manusia (HAM), hak guna bangunan, hak cipta dan hak paten. Lalu apa sih sebenarnya arti hak? Mari lihat beberapa definisi hak berikut:

 

Menurut Darji Darmodiharjo, hak adalah segala sesuatu yang harus didapatkan oleh setiap individu yang telah ada sejak masih dalam kandungan. Menurut Prof. Dr. Notonegoro hak adalah sebuah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu hal yang memang semestinya diterima atau dilakukan. Dalam hal ini, tidak bisa dilakukan atau diterima oleh pihak yang lain.

 

Dengan kata lain, yang dimaksud dengan hak adalah kuasa yang melekat di dalam diri setiap manusia dan tidak dapat diwakilkan atau digantikan oleh orang lain. Ketika seorang bayi dilahirkan, maka dia langsung memiliki hak, yaitu hak untuk hidup, hak untuk memperoleh perlindungan, hak untuk mendapatkan makan, dan hak memperoleh kasih sayang. Hak-hak itu melekat pada diri si bayi dan harus dipenuhi oleh orang tuanya.

 

Menurut Konvensi PBB untuk Hak-Hak Anak dikatakan bahwa setiap anak memiliki semua hak yang diatur dalam konvensi. Dan di dalam konvensi itu terdapat 42 hak anak yang harus dipenuhi oleh keluarga, lingkungan dan pemerintah. Sementara di Indonesia hak-hak anak diatur dalam UU No. 23 tahun 2002 dan UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa setidaknya anak memiliki 13 hak yang harus diberikan kepada anak.

 

Ketiga belas hak tersebut adalah hak mendapatkan nama, hak beribadah menurut agamanya, hak untuk mengetahui orang tuanya, hak mendapatkan kesehatan, hak mendapatkan pendidikan, hak menyatakan pendapat dan didengar, hak beristirahat dan bergaul, hak memperoleh rehabilitasi, hak mendapatkan perlindungan dari perlakuan deskriminasi, hak memperoleh pengasuhan, hak memperoleh perlindungan dari penyalahgunaan kegiatan politik, hak dilindungi dari penganiayaan, dan hak mendapatkan bantuan hukum.

 

Yup, benar. Ternyata anak-anak memiliki hak. Hak tersebut sudah diatur dan dijamin oleh Undang-Undang dan Konvensi PBB. Namun sangat disayangkan jika hingga sekarang masih banyak anak yang belum memperoleh haknya secara baik. Sebagai contoh, Kementerian PPPA mencatat telah terjadi penganiayaan terhadap anak sebanyak 4.116 kasus pada periode Januari-Juli 2020. Angka ini tergolong sangat besar dan perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Penganiayaan terhadap anak, baik fisik, psikis maupun seksual, merupakan tindakan melanggar hukum di mana anak seharusnya mendapatkan perlindungan untuk terbebas dari penganiayaan.

 

Di rumah, Sobat Revmen bisa menyederhanakan beberapa hak di atas menjadi lima hak yang wajib dipenuhi orang tua kepada anak. Kelima hak tersebut adalah: Pertama, hak untuk mengetahui orang tuanya. Hal ini sesuai dengan Pasal 7 UU No. 23/2002. UU menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri. Jika orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak, maka anak tersebut berhak untuk diasuh oleh orang lain sebagai anak asuh atau anak angkat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

 

Kedua, hak mendapatkan pendidikan. Dalam Pasal 9 disebutkan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. Orang tua diwajibkan untuk memberikan pendidikan dan pengajaran terhadap anak-anaknya dengan sebaik-baiknya.

 

Ketiga, hak memperoleh perlindungan. Anak memiliki hak untuk merasa aman dan mendapatkan perlindungan. Dalam Pasal 13 dijelaskan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan sehingga anak berhak mendapat perlindungan. Adapun perlindungan tersebut mencakup atas perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi maupun seksual. Kemudian, anak juga berhak terlindungi dari penelantaran, kekerasan, ketidakadilan, dan perlakuan salah lainnya. Semua hal baik atau buruk selalu dimulai dari rumah dan orang tua adalah causa prima (penyebab utama) dalam hal ini.

 

Keempat, hak mendapatkan kesehatan dan kesejahteraan. Dalam pasal 8 disebutkan bahwa setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial. Hak memperoleh pelayanan kesehatan ini merupakan hak terpenting dalam kelompok hak atas tumbuh kembang anak. Apabila anak sakit, sudah sepatutnya diobati atau dibawa ke dokter, diberi air susu ibu (ASI), serta imunisasi. Anak juga berhak mendapatkan pakaian layak, anak berhak leluasa untuk bermain dan berekreasi. Disebutkan dalam pasal 11 bahwa setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, rekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat

 

Kelima, hak menyatakan dan didengar pendapatnya. Mungkin ini merupakan hak yang paling disepeleken oleh kebanyakan orang tua, sehingga kita sering menemukan anak-anak yang tidak percaya diri, mudah depresi dan kerap mengalami gangguan kecemasan. Orang tua biasanya berkilah bahwa anak-anak belum “mengerti” ketika mereka menyatakan pendapat, jadi tidak perlu melakukan itu dan jika mereka melakukannya tidak perlu untuk didengar. Padahal Pasal 10 UU No. 23/2002 menyatakan bahwa hak ini wajib diberikan kepada anak-anak.

 

Sobat Revmen, anak adalah generasi penerus. Jika fisik, psikis, daya pikir dan karakter mereka kuat, maka bangsa ini juga akan kuat. Untuk memperoleh generasi yang kuat, maka anak-anak perlu mendapatkan haknya sebagaimana yang telah diatur Undang-Undang. Orang tua perlu menyiapkan kehidupan yang baik, mewujudkan lingkungan yang kondusif dan meningkatkan ketahanan keluarga sebagaimana Kerangka Prioritas (KP) 3 Revolusi Mental dalam sistem sosial. Dalam KP 3 ini terdapat kegiatan yang mengatur soal hak anak, yaitu penyiapan kehidupan berkeluarga dan kecakapan hidup, serta peningkatan ketahanan keluarga berdasarkan siklus hidup dengan memperhatikan kesinambungan antar-generasi, sebagai upaya penguatan fungsi dan nilai keluarga. Nah, itu artinya pemerintah sadar akan hak-hak anak dan berupaya untuk memberikan apa yang sudah menjadi hak mereka. So, Sobat Revmen, mari kita berikan hak anak, karena mereka berhak mendapatkannya. #AyoBerubah #Hak-HakAnak

 

 

Referensi:

Kompas.com. (2020). Diakses tanggal 25 Juni 2021.

Ristekdikti. (2016). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Ristekdikti.

Unicef.org. (2018). Diakses tanggal 25 Juni 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: