Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

JANGAN BIARKAN ANAK MENCURI UANG ORANG TUA

Anak mengambil uang dari dompet orang tuanya
  • 30 April 2021
  • 0 Komentar

JANGAN BIARKAN ANAK MENCURI UANG ORANG TUA

Apapun alasannya, jangan biarkan anak mengambil uang orang tua. Jika tindakan tersebut masuk ke dalam kategori pencurian, suatu saat kelak anak akan menghadapi masalah secara hukum, secara sosial dan secara emosional.

 

Jakarta (23/04/2021) Bukan rahasia lagi bahwa ada sebagian anak-anak yang berani mengambil sendiri uang orang tuanya. Mereka mengambil uang tersebut langsung dari dompet atau kantong celana orang tua tanpa izin dan tanpa laporan. Sebagian orang tua membiarkan dan menganggap itu sebagai hal yang wajar. Namun sebagian orang tua yang lain melarangnya dan menganggap itu sebagai perbuatan mencuri. Benarkah anak yang mengambil sendiri uang orang tuanya termasuk ke dalam kategori pencurian?

 

Anak mengambil uang orang tuanya tidak otomatis dikategorikan sebagai pencurian. Faktor usia, pengetahuan dan psikologi anak memberi beberapa kemungkinan kategori kenapa anak mengambil uang orang tuanya. Berdasarkan studi yang dilakukan Jerrie Brodlie, W. Douglas Tynan dan Carole Banks dari berbagai sumber, kategori-kategori tersebut antara lain;

 

Pertama, anak belum mengerti bahwa mengambil uang orang tua adalah perbuatan yang salah. Hal ini biasanya terjadi pada anak di bawah usia enam tahun. Anak menganggap uang orang tua adalah miliknya juga. Pada konteks ini, mengambil uang orang tua tidak dapat dikategorikan sebagai pencurian.

 

Kedua, anak sedang mengalami masalah psikologis dan menjadikan tindakan mengambil uang orang tua untuk mencari perhatian. Konteks ini pun tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan pencurian. Sebab, mengambil uang orang tua bukanlah tujuan utama anak. Tujuan utamanya adalah mendapatkan perhatian.

 

Ketiga, anak sedang mengalami masalah keuangan dan sosial, seperti karena ingin membeli atau membayar sesuatu namun tidak memiliki uang, atau yang lebih serius adalah karena terlibat kenakalan remaja seperti narkoba. Pada konteks ini, anak mengambil uang orang tua dapat dikategorikan sebagai pencurian. Sebab anak tahu dan sadar tentang perbuatannya.

 

Baik masuk ke dalam kategori pencurian atau bukan, anak harus diberikan pengertian. Ajak anak untuk mendiskusikan bahwa apa yang dilakukannya adalah salah dan bisa berhubungan dengan hukum. Anak juga perlu diajarkan tentang kejujuran dan kedisiplinan sejak kecil. Kejujuran akan mendidik anak untuk secara sadar tidak melakukan pencurian. Sementara kedisipinan akan mendidik anak untuk dapat menggunakan uang yang sudah menjadi haknya secara lebih terencana.

 

Pada umumnya orang tua akan marah jika mengetahui anak mencuri uang dari orang tua. Kemudian anak akan dihukum tanpa ada penjelasan konstruktif. Marah dan menghukum tidak akan membuat anak sadar dan jera. Mereka mungkin akan melakukannya lagi di waktu mendatang secara diam-diam. Untuk mengantisipasi anak tidak mengambil (lagi) uang orang tuanya, orang tua perlu memberikan pengertian bahwa itu hal yang salah. Orang tua juga perlu mengajari anak agar melatih kesabaran, memberi tahu konsekuensi hukum jika hal itu masuk ke dalam kategori pencurian, dan latih anak untuk pintar dalam menyelesaikan masalah.

 

Jika anak sudah terbiasa mengambil sesuatu yang bukan haknya, maka mereka akan menganggap hal itu sebagai sebuah kebenaran. Bukan tidak mungkin kebiasaan tersebut akan memperpanjang deretan kasus korupsi di masa mendatang. Contoh konkretnya, jika suatu ketika anak kedapatan pulang membawa membawa mainan, tanyakan dari mana mainan itu berasal. Jika anak mengatakan dengan jujur bahwa mainan itu dibeli dengan menggunakan uang orang tua tanpa permisi, maka jelaskan bahwa anak harus izin jika menginginkan uang. Jika orang tua belum bisa memberikannya, katakan bahwa anak harus bersabar dan belajar menabung. Anak mesti diajak memahami bahwa segala sesuatu harus dilakukan melalui sebuah proses.

 

Sobat Revmen, anak perlu perhatian, diajak berdiskusi dan diajarkan pendidikan karakter sejak dini. Mari menjadi lebih peduli dalam pengembangan integritas anak untuk Indonesia yang lebih baik. #AyoBerubah #IndonesiaBerintegritas

 

 

Referensi:

Kompas.com, 27/03/18

Fridaymagazine.ae, 18/11/19

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

 

 

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: