Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Jadi Negara Penghasil Konten Penyiksaan Hewan Terbanyak, Yuk Tingkatkan Kesejahteraan Hewan Indonesia!

Topeng monyet, salah satu bentuk kekerasan atau penganiayaan terhadap satwa
  • 27 November 2021
  • 0 Komentar

Jadi Negara Penghasil Konten Penyiksaan Hewan Terbanyak, Yuk Tingkatkan Kesejahteraan Hewan Indonesia!

Indonesia dilaporkan menjadi negara nomor satu di dunia yang paling banyak mengunggah konten penyiksaan terhadap hewan di media sosial. Untuk itu, diperlukan persatuan agar kepedulian masyarakat terhadap isu kesejahteraan hewan di Indonesia semakin meningkat.

 

Jakarta (27/11/2021) Isu kesejahteraan hewan di Indonesia masih perlu terus disuarakan. Meski kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap satwa semakin bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir, nyatanya fenomena penyiksaan hewan (animal abuse) pun masih marak terjadi. Hal tersebut tampak dari banyaknya konten penyiksaan hewan yang berseliweran di media sosial. Bahkan Indonesia menduduki peringkat pertama negara di dunia yang menghasilkan konten penyiksaan hewan terbanyak di media sosial. Miris sekali bukan, sobat Revmen? Oleh karenanya, yuk kita simak sama-sama penjelasannya berikut ini!

 

Berdasarkan laporan dari organisasi kesejahteraan hewan Asia For Animals Coalition, Indonesia menjadi negara nomor satu di dunia yang paling banyak mengunggah konten penyiksaan terhadap hewan di media sosial. Di mana dari 5.480 konten yang dikumpulkan, sebanyak 1.626 konten penyiksaan hewan di antaranya berasal dari Indonesia. Bersamaan dengan itu, 1.569 konten penyiksaan hewan juga tercatat diunggah dari Indonesia. Ribuan konten video kekerasan terhadap hewan yang diunggah dari Indonesia ini berseliweran di berbagai media sosial, mulai dari Facebook, YouTube, hingga TikTok.

 

Angka yang dicatat Indonesia dalam menghasilkan konten penyiksaan hewan di media sosial tersebut pun memiliki selisih yang jauh dengan negara lain, yakni Amerika Serikat (AS) di urutan kedua sebanyak 296 konten, dan Australia di urutan ketiga sebanyak 135 konten, serta peringkat-peringkat di bawah lainnya. Tingginya angka konten penyiksaan hewan ini menunjukkan bahwa kesejahteraan hewan di Indonesia belum menjadi isu penting. Di mana mengutip ngertihukum.id, kesejahteraan hewan sendiri ialah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia.

 

Adapun kekerasan terhadap hewan menurut Social Media Animal Cruelty Coalition (SMACC) sebagaimana dilansir detik.com, adalah rangkaian tindakan manusia, baik sengaja atau tidak, yang menyakiti dan berdampak secara langsung atau jangka panjang, fisik, emosi, atau psikologis kepada binatang. Hal tersebut tak bisa disepelekan meski terkesan sepele dan menghibur, karena penyiksaan terhadap hewan ternyata memiliki hubungan yang erat dengan kekerasan terhadap manusia maupun dalam rumah tangga. Di mana orang yang suka menyiksa hewan berpotensi lebih besar untuk melakukan kejahatan kriminal. Sementara itu, menurut pendiri Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Karin Franken dalam BBC.com, pembiaran atas penyiksaan terhadap hewan sejak kecil bisa menjadi cikal bakal tindakan sadistis di kemudian hari.

 

Melihat korelasi tersebut, maka menghentikan kekerasan terhadap hewan dapat mencegah pula potensi kekerasan pada manusia. Di mana berdasarkan Pasal 302 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), penganiayaan ringan terhadap hewan dapat diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Sementara jika perbuatan penganiayaan hewan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah.

 

Oleh karenanya bagi sobat Revmen yang mengetahui tindakan kekerasan atau penganiayaan pada hewan dapat melaporkannya pada pihak berwajib dan komunitas-komunitas penyelamatan hewan. Kita pun dapat memanfaatkan media sosial sebagai medium persatuan untuk menggalang solidaritas, yang sejalan dengan salah satu gerakan Revolusi Mental yakni gerakan Gerakan Indonesia Bersatu. Dengan begitu perhatian dan kepedulian kesadaran masyarakat terhadap satwa pun dapat semakin bertumbuh. Dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) setiap tanggal 5 November setiap tahunnya, yuk sobat Revmen mari kita tingkatkan semangat persatuan guna meningkatkan kesejahteraan hewan Indonesia! #AyoBerubah #RevolusiMental #GerakanIndonesiaBersatu #HariCintaPuspadanSatwaNasional

 

 

Sumber Foto:

https://news.okezone.com/read/2013/10/23/500/885625/mengintip-sejarah-topeng-monyet

 

Referensi:

Ngertihukum.id. (2021). Diakses tanggal 3 November 2021.

Detik.com. (2021). Diakses tanggal 3 November 2021.

BBC.com. (2021). Diakses tanggal 3 November 2021.

Kompas.com. (2021). Diakses tanggal 3 November 2021.

Kumparan.com. (2021). Diakses tanggal 3 November 2021.

Wihumane.org. (2021). Diakses tanggal 3 November 2021.   

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: