Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

INTEGRITAS SEBAGAI FUNDAMENTAL PEMBANGUNAN BANGSA

Tangan yang saling membantu sebagai simbol integritas
  • 26 Agustus 2021
  • 0 Komentar

INTEGRITAS SEBAGAI FUNDAMENTAL PEMBANGUNAN BANGSA

Dalam konsep Executive Brain Assessment, integritas diklasifikasikan pada tiga dimensi penting sikap manusia, yaitu kejujuran, konsistensi dan keberanian. Ketiga faktor tersebut dapat menjadi modalitas penting dalam membangun karakter bangsa yang tangguh dan negara yang kuat.

 

Jakarta (08/03/21) Menurut Transparency International, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2020 berada di skor 37/100. Di ASEAN, skor IPK Indonesia berada di posisi lima setelah Singapura (85/100), Brunei Darussalam (60/100), Malaysia (51/100) dan Timor Leste (40/100). Secara global, IPK Indonesia berada di urutan ke 102 dari 180 negara. Angka ini merosot dari tahun sebelumnya, di mana tahun 2019 IPK Indonesia berada di skor 40 dengan peringkat ke 85 secara global.

 

Fakta tersebut menunjukan bahwa korupsi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Tingginya tingkat korupsi di tanah air membuktikan masih rendahnya nilai integritas dalam berbangsa dan bernegara. Padahal tanpa integritas, sebuah negara dapat mengalami kegagalan.

 

Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa kejujuran dan integritas merupakan fondasi pembangunan bangsa yang harus ditanamkan sejak dini. Menurut Presiden, banyak negara gagal karena gagal menjaga integritasnya. Integritas merupakan conditio sine qua non bagi sebuah bangsa dan negara untuk membangun dan berkembang.

 

Secara sederhana integritas dapat diartikan sebagai kualitas kejujuran, konsistensi, keberanian atau prinsip moral yang kuat. Orang yang memiliki integritas merupakan orang yang dapat dipercaya. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki integritas akan sulit untuk dipercaya. Oleh karena itu biasanya integritas dilawankan dengan sikap hipokrit, inkonsisten, pengecut dan amoral.

 

Jika ada seseorang yang selalu mengkampanyekan kebaikan, namun dia sendiri tidak menjalankan kebaikan itu, maka orang tersebut dianggap tidak memiliki integritas. Ada inkonsistensi antara ucapan dengan perbuatannya. Sebab bagi seseorang yang memiliki integritas, “ya” adalah “ya,” dan “tidak” adalah “tidak.” Dengan kata lain, integritas bukan sesuatu yang dimiliki (have) oleh seseorang, melainkan sesuatu yang dilakukan (do) olehnya. Itu juga berarti bahwa integritas bukan sebuah “kewajiban,” melainkan sebuah “kesadaran.”

 

Integritas dapat menjadi salah satu modalitas penting dalam membangun bangsa dan negara yang tangguh. Karena integritas, para pejabat dan masyarakat tidak akan melakukan korupsi, suap, kolusi dan nepotisme. Pemerintahan akan menjadi bersih dan negara akan menjadi kuat. Melalui integritas pula akan tumbuh kejujuran, akuntabilitas dan keadilan nasional. Uang negara akan digunakan demi kesejahteraan dan pendidikan karena tidak diselewengkan, fitnah atau hoax tidak akan terjadi yang dapat menciptakan kenyamanan dan keamanan, serta tumbuhnya kepatuhan yang dapat menyebabkan keteraturan dan ketertiban.

 

Sobat Revmen, mari bangun integritas. Hal tersebut mesti dimulai dari diri sendiri, seperti tidak lagi mencontek saat ujian, tidak datang terlambat ke kantor, tidak gemar berbohong, tidak menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi atau tidak lagi berpura-pura lupa memberikan uang kembalian saat berdagang. Integritas yang kita bangun sama-sama akan membuat Indonesia bergerak lebih maju, lebih mandiri, lebih sejahtera, lebih bersih dan lebih berkeadilan. #AyoBerubah #IndonesiaBerintegritas

 

 

Referensi:

Transparency.org, 28/01/21

Cnnindonesia.com, 28/01/21

Kominfo.go.id, 21/12/15

 

Reporter: Robby Milana

Editor: Harod Novandi

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: