Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Indonesia, Laboratorium Sekolah Abadi (#reviewfilm)

Film pendek Indonesia Sekolahku mengajarkan model pendidikan Indonesia yang majemuk dengan latar belakang beragam budaya
  • 01 April 2021
  • 0 Komentar

Indonesia, Laboratorium Sekolah Abadi (#reviewfilm)

Indonesia Sekolahku, film pendek berdurasi 12 menit ini mengajarkan ragam model pendidikan di Indonesia yang memberikan penekanan penting pada aspek sosio-kultural dan kemajemukan bangsa. Sebagaimana dinyatakan dalam film, “Keragaman di nusantara adalah sekolah besar bagi semua.”

 

Jakarta (23/03/2021) Pendidikan selama ini banyak dibayangkan sebagai aktivitas belajar mengajar di sekolah semata. Tapi di samping pendidikan formal yang berjenjang tersebut, di Indonesia ada banyak model pendidikan lain yang sama-sama bertujuan membekali ilmu pengetahuan maupun keterampilan hidup, lho! Lewat film dokumenter pendek Indonesia Sekolahku misalnya, kita diperkenalkan beberapa contoh penyelenggaraan pendidikan yang memberikan penekanan penting pada aspek sosio-kultural dan kemajemukan bangsa. Yuk sobat Revmen, mari mempelajari lebih jauh agar semakin mengenal Indonesia kita!

 

Pada babak pertama film ini kita akan diajak berkenalan dengan pendidikan anak-anak di suku Boti, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di suku yang masih mempertahankan cara hidup yang sangat tradisional itu, sebagian anak menempuh pendidikan di bangku sekolah, dan biasanya dalam satu keluarga ada anak yang tidak disekolahkan. Anak yang tidak mengenyam pendidikan formal tersebut belajar di komunitas adat suku Boti dengan mengamati dan mengikuti beragam kegiatan tradisional yang telah diwariskan secara turun temurun. Mulai dari membuat minyak kelapa, memintal kapas untuk dijadikan kain tenun khas suku Boti, dan sebagainya. Lewat praktik seperti itulah anak-anak belajar keterampilan dan kecakapan hidup (life skills), di mana anak-anak inilah yang akan meneruskan tradisi dan kebudayaan suku Boti di masa depan.

 

Sementara di babak kedua, kita akan menyaksikan kegiatan pembelajaran di pesantren Nurul Haramain di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang membekali ribuan santrinya dengan ekopedagogi. Di mana para siswa dilatih untuk memberi perhatian khusus pada pengelolaan sampah sekaligus bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan mereka ___ yang dapat mencapai satu ton sampah setiap harinya. Dengan gotong royong menerapkan sistem piket untuk mengumpulkan sampah, para santri kemudian diajak untuk memilahnya: yang memiliki nilai ekonomi seperti botol-botol plastik, kertas, atau besi diberdayakan kembali. Di mana, hasil penjualan pemilahan sampah yang dapat mencapai Rp 3 juta per bulannya tersebut nantinya dipakai untuk mengongkosi operasional pengelolaan sampah itu sendiri.

 

Adapun di babak terakhir, kita diajak berkenalan dengan model pendidikan anak-anak kelompok masyarakat adat Sedulur Sikep atau orang Samin di pegunungan Kendeng, Pati, Jawa Tengah. Komunitas yang menganut ajaran Saminisme ini, menolak pendidikan formal maupun berdagang, dan hanya boleh hidup dari pertanian. Merunut pada akar sejarahnya, orang Samin menolak pendidikan formal karena sekolah di zaman penjajahan merupakan kegiatan penanaman nilai-nilai yang berbasis pada kebudayaan Eropa. Meski demikian agar tak terasing dari kehidupan, anak-anak tetap diajari membaca, menulis, dan berhitung yang gurunya ialah orang tua atau mereka yang sudah bisa baca tulis dan berhitung. Proses belajar ini tak mengenal tingkatan dan bisa dilakukan di mana saja, sebab bagi orang Samin belajar yang sesungguhnya ada di kehidupan sehari-hari, baik itu di rumah, kandang ternak, sawah, dan lain sebagainya.

 

Film Indonesia Sekolahku merupakan karya kolaborasi tim Indonesian Pluralities (CRCS UGM, Pardee School of Global Studies - Boston University, dan Watchdoc) dengan Yayasan Cahaya Guru yang bertujuan sebagai bahan ajar untuk siswa sekolah menengah. Film pertama dari seri #BelajarDariRumah​ yang dapat diakses di https://indonesianpluralities.org/indonesia-sekolahku/ ini mengajarkan keragaman pendidikan di Indonesia, bahwa ilmu pengetahuan, keterampilan hidup, dan nilai-nilai tradisional yang baik dapat diteruskan ke generasi berikutnya dengan berbagai cara ___ sebagaimana UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 yang turut menyertakan aspek sosio-kultural dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Pendidikan tidak saja hadir di bangku-bangku institusi formal, melainkan juga di kehidupan sehari-hari karena keragaman di nusantara adalah sekolah besar bagi semua. #IndonesiaBersatu

 

Sumber Foto: https://indonesianpluralities.org/indonesia-sekolahku/

 

Referensi:

https://indonesianpluralities.org/

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: