Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

HOAKS ITU JAHAT; SARING SEBELUM SHARING

Kampanye anti hoaks
  • 20 Mei 2021
  • 0 Komentar

HOAKS ITU JAHAT; SARING SEBELUM SHARING

Fenomena penyebaran hoaks bukan lagi menjadi fenomena baru di lingkup global, tidak terkecuali di Indonesia. Pada era digital saat ini, pembuatan hoaks telah menjadi salah satu alat yang efektif untuk meraih perhatian publik. Namun hoaks memberi dampak negatif pada kehidupan berbangsa dan bernegara, serta bertentangan dengan program Gerakan Indonesia Bersatu yang sedang dibangun pemerintah.

 

Jakarta (12/05/2021) Menurut laporan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), sebagaimana diberitakan Kompas.com, trend penyebaran hoaks atau berita palsu cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2018 jumlah hoaks mencapai 997 kasus. Pada tahun 2019 jumlahnya meningkat menjadi 1.221 kasus. Sementara pada tahun 2020 jumlah meningkat kembali menjadi 2.024 kasus. Menurut Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho (2020), sepanjang tahun 2020 lebih dari sepertiga hoaks yang tersebar berkaitan dengan isu pandemi Covid-19. Hoaks paling banyak tersebar di platform media sosial Facebook.

 

Menurut Laporan Isu Hoaks bulan Januari 2020 yang diterbitkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sekitar 310 berita hoaks tersebar di berbagai media sosial di Indonesia selama bulan Januari 2020. Jika selama satu bulan saja hoaks yang tersebar mencapai 300 isu, tidak terbayang jika hal ini dibiarkan terus menerus selama bertahun-tahun.

 

Apa yang dimaksud dengan hoaks? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks diartikan sebagai informasi palsu atau berita bohong. Menurut Kapolda Irjen Didi Haryono (2019), seperti diberitakan oleh Republika, tujuan disebarkannya hoaks adalah untuk mengadu domba, menyebarkan fitnah atau mencemarkan nama baik, membuat cemas, dan untuk mempengaruhi orang lain. Oleh karena itu, sebagaimana dinyatakan oleh Mark Griffiths (2017), penyebaran hoaks selalu diarahkan pada emosi publik.

 

Tempo Institute (2017) mengidentifikasi setidaknya ada tiga ciri-ciri sebuah informasi/berita yang termasuk ke dalam hoaks, yaitu: Pertama, Menggunakan judul yang sangat provokatif. Judul yang provokatif dan dirancang semenarik mungkin dapat mempengaruhi orang untuk membaca konten yang ditawarkan oleh sebuah berita. Kedua, Sumber tidak jelas. Biasanya berita hoaks tidak menyertakan sumber yang jelas. Tujuannya adalah agar tidak dapat diklarifikasi atau dikonfirmasi. Ketiga, Konten bersifat bias. Berbeda dengan pemberitaan yang disampaikan oleh media mainstream yang menyampaikan konten yang cenderung “netral,” maka berita hoaks cenderung memihak pada satu pihak tertentu sambil memojokkan pihak lawan.

 

Ketika hoaks disebar oleh si pembuat hoaks, biasanya melalui saluran media sosial, kemudian publik turut menyebarkannya menjadi lebih luas. Menurut Katadata.com, ada lima alasan kenapa publik turut menyebarkan hoaks, yakni (1) Hanya meneruskan berita yang tersebar tanpa menyelidiki terlebih dahulu mengenai kebenarannya, (2) Tidak tahu bahwa berita tersebut tidak benar, (3) Tidak tahu bahwa sumber berita tidak jelas, (4) Iseng, dan (5) Untuk mempengaruhi orang lain.

 

Apapun alasannya, hoaks dapat memberikan dampak buruk bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Donna Savanti (2019) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), setidaknya ada tiga dampak negatif hoaks. Pertama, secara politik hoaks dapat memunculkan fanatisme, polarisasi, bahkan konflik. Kedua, secara ekonomi, hoaks dapat mengganggu perilaku dan mempengaruhi ekspektasi dalam berinvestasi. Yang terburuk, hoaks juga dapat merusak reputasi bisnis tertentu. Ketiga, secara sosial, hoaks dapat memunculkan rasa bimbang terhadap fakta, menurunkan kepercayaan masyarakat dan dapat memicu konflik di tengah masyarakat.

 

Sobat Revmen, bagaimana agar kita terhindar dari hoaks? Sebagaimana telah di bahas di atas mengenai ciri-ciri hoaks, maka cara untuk menghindarinya adalah: (1) Berhati-hati dengan judul bombastis yang digunakan dalam sebuah pemberitaan, (2) Cek sumber, (3) Jangan malas untuk melakukan klarifikasi pemberitaan dari media lain, (4) Cek apakah gambar yang digunakan sudah pada konteks yang benar, (5) Sobat Revmen dapat menggunakan platform atau situs cek fakta. Salah satu contoh situs cek fakta adalah https://hoaks.infovaksin.id/. Pada situs ini Sobat Revmen dapat mengetahui apakah sebuah berita yang terkait dengan pandemi Covid-19 benar atau hoaks. Sobat Revmen tinggal memasukan saja kata kunci dari berita yang ingin diketahui faktanya, maka nanti situs akan bekerja untuk memberitahu kebenaran berita tersebut.

 

Hoaks dapat memberikan dampak buruk bagi individu, masyarakat dan negara. Maka mari kita hindari. “Saring sebelum sharing adalah salah satu cara yang sangat bijak untuk meminimalisir penyebaran hoaks. #AyoBerubah #IndonesiaTanpaHoaks #GerakanIndonesiaBersatu

 

 

 

Referensi:

 

Tempo (2017). Available at: https://en.tempo.co/read/912872/3-dominant-characteristics-of-internet-hoaxes. Diakses tanggal 2 Mei 2021.

 

Mark D. Griffiths. (2017). The Psychology of Hoaxing. Available at: https://www.psychologytoday.com/us/blog/in-excess/201705/the-psychology-hoaxing. Diakses tanggal 2 Mei 2021.

 

Republika. (2019). Available at: https://republika.co.id/berita/nasional/hukum/19/02/07/pmjbr5428-kapolda-kalbar-sebutkan-empat-tujuan-penyebar-hoaks. Diakses tanggal 2 Mei 2021.

 

Katadata. (2021). Available at: https://katadata.co.id/happyfajrian/berita/6066ce2479076/lima-cara-mudah-deteksi-hoaks-dan-kebenaran-informasi. Diakses tanggal 2 Mei 2021.

 

Kominfo.go.id. (2020). Available at: https://eppid.kominfo.go.id/storage/uploads/2_31_Laporan_Isu_Hoaks_Bulanan_Januari_2020.pdf. Diakses tanggal 12 Mei 2021.

 

Kompas.Com. (2020). Available at: https://tekno.kompas.com/read/2020/11/20/07385057/jumlah-hoaks-di-indonesia-meningkat-terbanyak-menyebar-lewat-facebook?page=all. Diakses tanggal 2 Mei 2021.

 

Donna Savanti. (2019). Available at: https://kniu.kemdikbud.go.id/?p=3731. Diakses tanggal 2 Mei 2021.

 

 

Penulis: Robby Milana

Editor: Wahyu Sujatmoko

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: