Jadilah Bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental!

Graha Maria Annai Velangkanni, Gereja Unik yang Kental dengan Kebhinekaan

Graha Maria Annai Velangkanni di Kota Medan, Sumatera Utara
  • 08 Desember 2021
  • 0 Komentar

Graha Maria Annai Velangkanni, Gereja Unik yang Kental dengan Kebhinekaan

Graha Maria Annai Velangkanni menjadi wujud persatuan dan upaya membangkitkan semangat toleransi antarumat beragama di Indonesia, yang tercermin dari arsitektur hingga fungsi bangunannya dengan sentuhan ragam unsur kebudayaan.

 

Jakarta (8/12/201) Bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk yang memiliki keragaman budaya, suku, agama, hingga ras yang berbeda-beda. Persinggungan keragaman tersebut kerap memicu terjadinya proses akulturasi. Di Sumatera Utara sendiri wujud akulturasi salah satunya dapat dijumpai dalam seni bangunan rumah ibadah bernama Graha Maria Annai Velangkanni. Bangunan yang menyerupai kuil umat Hindu di India itu ternyata merupakan gereja Katolik. Karena keunikannya tersebut Graha Maria Annai Velangkanni pun menjadi salah satu objek wisata religi di Kota Medan yang didatangi oleh para peziarah. Seperti apa? Yuk sobat Revmen, kita cari tahu lebih jauh berikut ini!

 

Graha Maria Annai Velangkanni di Medan, Sumatera Utara, disebut tempat ibadah yang tak ubahnya Bhineka Tunggal Ika karena memiliki konsep bangunan yang mengakulturasi beberapa budaya sekaligus. Mulai dari, fungsi gereja yang identik dengan budaya barat Eropa, diakulturasikan dengan budaya Hindu-India, serta disesuaikan dengan budaya yang ada di Medan. Bila melihatnya sekilas dari jauh, orang akan melihat bangunan ini adalah sebuah kuil dengan langgam arsitektur India untuk peribadatan umat Hindu, dengan atap menara bertingkat yang didominasi warna biru. Secara lebih khusus, arsitektur luar bangunan ini mengadopsi desain Indo-Mughal atau India Muslim, yang salah satunya tampak dari atapnya yang berbentuk kubah.

 

Selain arsitekturnya, fungsi bangunan dari Graha Maria Annai Velangkanni yang memiliki dua lantai ini pun tak kalah mencerminkan kebhinekaan. Lantai atas difungsikan sebagai tempat untuk berdoa, pemujaan, dan menjalankan ibadah atau misa umat Katolik. Sedangkan lantai dasar menjadi tempat pertemuan atau balai komunitas yang diberi nama Aula Santa Anna sempena ibu Maria. Balai komunitas ini dimaksudkan untuk pertemuan dan fungsi lainnya yang dapat digunakan bagi umat agama apapun. Sehingga lantai dasar ini menjadi simbol di mana orang-orang dari semua iman berkumpul dalam persaudaraan dan toleransi, sekaligus mencerminkan keterbukaan yang ditandai dengan tidak adanya pintu masuk ke dalam aula. Bahkan pada sisi masuk aula ini memakai lengkung-lengkung iwan yang biasanya ditemukan di masjid-masjid.

 

Mengutip Kumparan, dari segi agama Katolik kita akan mendapati bagian depan gedung gereja ini yang beridiri patung Bunda Maria. Sedangkan nuansa agama Kristen tampak pada kisah-kisah Alkitab yang terlukis di kaca patri yang terpasang di Graha Maria Annai Velangkanni. Kemudian bagian atas gerbang masuk utama Graha Maria Annai Velangkanni sendiri dihiasi dengan miniatur rumah adat Batak Toba dan Karo, yang menandakan tidak ada perbedaan suku, bangsa, bahasa, dan kepercayaan disini. Selain itu terdapat pula patung orang-orang dari berbagai ras dan budaya Indonesia di dinding sekitar Graha Maria Annai Velangkanni yang melambangkan kesatuan antarumat beragama. 

 

Di samping itu, terdapat salam maria dalam berbagai bahasa yang diukir di dinding jalan layang gereja, seperti bahasa Indonesia, Toba, Simalungun, India, Mandarin, dan berbagai bahasa lainnya. Ukiran tersebut kiranya menjadi simbol perwujudan toleransi antarumat beragama di Sumatera Utara, yang penduduknya berasal dari berbagai latar belakang suku dan budaya. Gereja yang berlokasi di Jalan Sakura III Nomor 7-10, Perumahan Taman Sakura Indah, Tanjung Selamat, Medan, Sumatera Utara, ini dalam pembangunannya menghabiskan dana sekitar Rp 5 miliar dan diresmikan pada Oktober 2005 silam. Graha Maria Annai Velangkanni pun dapat berdiri berkat dilandasi oleh semangat gotong royong, di mana uang yang digunakan untuk membangun tempat peribadatan ini seluruhnya berasal dari sumbangan yang diberikan jemaat atau donatur.

 

"Gereja ini adalah lambang Indonesia, gereja Bhinneka Tunggal Ika. Dibuat dalam berbagai gaya sehingga semua orang bisa datang ke sini. Tujuannya agar semua orang bisa datang, berdoa, dan mendapat pengalaman bersama Tuhan," ujar pendiri Graha Maria Annai Velangkanni, Pastor James Bharataputra, yang berasal dari India, sebagaimana dilansir Kumparan.  

 

Sebagai rumah ibadah sekaligus destinasi wisata religi, tak ada tiket masuk yang dikenakan bagi siapa pun yang hendak berkunjung, berziarah, ataupun mencari tahu sejarah tentang peristiwa kerohanian di Graha Maria Annai Velangkanni. Nah sobat Revmen, berdirinya Graha Maria Annai Velangkanni kiranya menjadi wujud persatuan sekaligus upaya menyemai semangat toleransi antarumat beragama di Indonesia. Bahwa perbedaan justru dapat memberi warna-warni indah yang saling melengkapi sebagaimana semboyan bangsa Bhinneka Tunggal Ika. Memperingati momentum Hari Toleransi Internasional yang jatuh tanggal 16 November setiap tahunnya, mari sama-sama kita terus bangkitkan semangat toleransi dan rekatkan simpul persatuan demi Indonesia yang rukun dan damai! #AyoBerubah #RevolusiMental #HariToleransiInternasional #GerakanIndonesiaBersatu

 

Sumber Foto:

https://kumparan.com/kumparantravel/graha-maria-annai-velangkanni-gereja-menyerupai-vihara-di-medan-1rY94Mtkr3m

 

Referensi:

Kompas.com. (2021). Diakses tanggal 18 November 2021.

Validnews.id. (2021). Diakses tanggal 18 November 2021.

Kumparan.com. (2021). Diakses tanggal 18 November 2021.

Liputan6.com. (2021). Diakses tanggal 18 November 2021.

Velangkanni.com. (2021). Diakses tanggal 18 November 2021.

 

Reporter: Melalusa Susthira K.

Komentar pada Berita Ini (0)

Tinggalkan Komentar

    • Dipos pada: